Tuhan, Aku Telah Pulih dari Celakaku

  • Whatsapp

Tuhan, Aku telah Pulih dari Celakaku

You are not an accident. Even before the universe was created, God had you in mind, and planned you his purposes.

Bacaan Lainnya

Kata- kata ini seakan mengambarkan segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak yang kuasa. Dalam kehidupan kita, tak ada seorangpun menginginkan dirinya terkena bahaya atau mengalami kecelakaan. Setiap dari kita selalu menghindar atau menjaga kondisi agar tetap sehat dan bebas dari problem atau  kondisi yang menyulitkan. Namun apa boleh buat, pada tanggal 24 Februari 2019, sekitar pukul   17.00-17.42 WITa, tidak pernah saya membayangkan, hampir saja maut menarikku ke dalam kubanggannya yang dalam. Namun Tuhan memiliki rencana lain dari hidupku.

Singkat cerita, saat itu saya berlibur di kampung halaman ibu saya (Buraen,Amarasi Selatan), karena sudah beberapa hari maka saya minta untuk pulang dengan mengendarai motor. Kata paman (Om), “Su mau malam jadi biar om sa yang antar.”

Saya paling tidak suka merepotkan orang lain. Saat itu, saya berencana ingin pulang sendiri, tapi kedua  adik saya ini memaksa untuk ikut, Enjel (16) dan Hegel (7). Awalnya saya menolak, karena saya ingin pulang sendiri. Tuhan menyayangi saya, sehingga saya menyetujui  untuk mereka ikut bersama saya. Sungguh saya pun tidak dapat membayangkan apa yang terjadi jika saya sendirian.

Singkat cerita kami melaju dari rumah nenek menuju ke rumah Lasiana, tapi takdir berkata lain motor yang kami kendarai terjun ke dalam tikungan yang sedikit curam atau dikatakan sebuah jurang. Apa mungkin?  Saya mengendarai motornya dengan kecepatan  tinggi, atau memang saat itu keadaan yang membuat saya dan adik- adik saya merasakan seperti ada yang menerbangkan motor kami atau halusinasi kami saja?

Anehnya, saat kami terjatuh ke dalam jurang tersebut, saya merasakan  jika motor yang kami tumpangi seakan terbang dan saya tidak mampu mengendalikannya.  Akhirnya kami terjatuh, saat di dalam jurang, seakan saya tidak mengingat apa pun. Saya tersandar dan terpukul oleh bagian depan motor. Sakit yang luar biasa, untuk berrnapas pun saya tak sanggup. Beruntungnya, otak saya masih sangup bekerja untuk  mengingatkan saya tentang bernapas, namun anehnya saya tidak bisa bernapas, seakan ada yang menahan napas ini, seingatku.

Tiga kata yang teringat dalam otak saya yakni, TUHAN YESUS TOLONG.. Tiga kali kalimat ajaib inilah yang menyadarkan saya untuk bernapas kembali.  Saat saya mulai bernapas, saat itu pula saya baru menyadari jika ada dua adik saya yang saya boncengi. Saya tidak sangup berbicara, hanya memandang ke arah mereka dan saya menangis. Hegel melihat saya dan histeris sedangkan Enjel dengan muka  dan kaki  yang berdarah berusaha memanggil saya, namun seakan saya tak bisa menjawab hanya air mata yang mengalir. Saya ingat jelas adik Enjel berusaha memanggil saya, namun saya hanya bisa menangis dan tak sangup menjawab, Ia  merayap keluar ke jalan utama untuk mencari pertolongan.

Selang beberapa saat kemudian ,datanglah seorang bapak, yang menurut cerita dia menikah dengan kakak sepupu kami. Bapak ini ingin berkunjung ke kampung istrinya. Tapi karena di perjalanan ia menemukan kami, maka ia memutar kembali motornya dan pergi meminta bala bantuan. Beberapa saat kemudian, seingat saya bantuan   datang dan 3 atau 4 orang laki laki yang mengendong saya keluar dari tempat saya tergeletak.

Untuk menatap wajah mereka saja saya tak sangup, hanya mengandalkan indra pendengar dan otak saya. Saya mendengar kata-kata mereka, “Kasian adik ini, bisa selamat atau tidak?”

Berhubung saya tak berdaya, saya hanya bisa menangis dan takut. Lalu dengan mobil kami diangkut. Saya sungguh tak dapat mengingat siapa mereka. Seorang di antara para penolong itu,  perempuan. Ia memegang kepala saya dan berkata, “Kakak harus kuat! Tuhan Yesus Tolong, Tuhan Yesus Pasti Tolong!”

Sepanjang jalan dari tempat kecelakaan sampai ke rumah sakit pertama  di Oekabiti, dia selalu menguatkan saya. “Kakak berdoa dalam hati , Tuhan yesus tolong pasti tolong.”

Saya mengetahui saat itu Tuhan masih hadir buat saya. Dia mengirimkan orang-orang baik untuk menolong dan mengingatkan saya bahwa hanya Yesus saja tempat kita meminta.

Terimakasih banyak saudaraku, saya sampai sekarang tidak mengenalmu dan orang orang yang menolong saya, tapi semoga kebaikan saudara-saudara mendapatkan balasan yang seimbang dari Tuhan.

Sesampainya di Rumah sakit Oekabiti, saya mendapatkan infus dan di samping tempat tidur saya, ada Enjel yang kepala dan kakinya  dijahit. Hegel terluka di kepala sehingga ia mendapatkan jatihan  pula.

Mungin saya telalu cengeng  karena kesakitan, sempat terdengar bentakkan dari seorang perawat. “Nona tolong diam!”

Saya memastikan bahwa dia tidak di posisi saya. Beberapa saat kemudian nenek yang biasanya pangil mama   dan paman saya tiba di rumah sakit. Saya merasa lega meskipun bernapas saja susah, hanya bisa menagis dan nenek saya ikut menangis dan pegang kepala saya.

Om Roy yang mengabarkan kepada mama, bapa  dan  om Alfret yang berada di Lasiana dan Penfui, jika saya dan kedua adik mengalami kecelakaan.  Saat itu pula, saya mendengar jika kondisi saya sangat serius, alat-alat tidak memadai di rumah sakit ini, saya pun tidak mengetahui siapa yang berbicara. Saya terus berpikir. Mata saya sulit dibuka. Paru-paru saya seakan ingin menyerah. Kira-kira pukul 19.00 WITa, saya dibawa ke rumah sakit Naibonat, dimana nenek  dan seorang perawat yang mendampingi saya. Sepengetahuan saya, di tengah perjalanan saya terdiam dan tidak bergerak karena sangat sakit, mungkin karena panik, nenek saya bilang pada ibu perawat tersebut, “coba ibu pariksa!”

Mereka memeriksa denyut nadi pada pergelangan tangan saya, kemudian  perawat tersebut  mengatakan kalau saya baik-baik saja. Jantung saya melemah. Mereka menganjurkan pada nenek untuk tetap tenang berhubung jarak ke Rumah Sakit Naibonat makin dekat.

Terimakasih ibu perawat yang baik hati maaf saya tidak bisa ucapkan kata terima kasih waktu itu. Kira-kira satu jam lebih perjalanan, tibalah kami di rumah sakit Nabonat. Mama dan bapa serta paman saya sudah sampai terlebih dahulu. Mama  saya langsung memanggil nama saya. Saya  mendengar tapi tidak bisa berbicara, sedangkan bapa saya mengelus kepala saya  katanya, ”Kakak kenapa sampai  begini?  Kakak kuat ee mama, bapa, nenek, om dong deng adik semua ada di kakak pung samping, Kakak harus kuat!”

Saya tak menjawab karena sakit sekali. Kemudian para perawat di Rumah sakit tersebut mengangkut saya ke tempat tidur pasien dan dibawa ke dalam ruangan. Pakian saya digunting karena tidak bisa dibuka. Saya pasrah.

sewaktu berada dalam perawatan; foto (doc.pribadi Penulis)

Beberapa menit kemudian saya  dibawa ke ruangan  rontgen. Hasil foto menunjukkan tiga tulang rusuk dan tulang tangan kiri saya patah,.  Benar benar sakit yang saya rasakan. mau Kecing saja harus di gendong, mau balik badan saja harus di gendong. Saya di pasang infus dan alat bantu Oksigen.   Saya benar-benar merasa terpuruk saat itu.

Kata dokter butuh 2 atau 3 bulan agar kembali normal. Bagaimana tidak?   Ingin minum air saja  tidak bisa ditelan. Saya benar-benar sedih. Satu keyakinan saja pada saya. Ada Tuhan.

saya terus berdoa di hati,  “Tuhan cukup air kencing saya saja yang orang tua  tadahkan. Jangan sampai feses atau tinja saya ditadahkan oleh mereka. Saya tidak sangup Tuhan.”

Tuhan pun mendengar doa saya. Om Roy dengan sigapnya pergi malam-malam bertemu seorang bapak dari desa Nekamese. Bapak Bani itu datang melihat kondisi saya.  Puji Tuhan. Bapak Bani itu orang yang paham pengobatan tradisional dan masalah tulang.

Di rumah sakit tidak diperbolehkan untuk pijat tradisional, sehingga orang tua, dan keluarga saya semua minta agar saya dibawa keluar. Menurut mereka jika patah tulang tidak bisa minum obat saja sembuh, harus dengan pijatan.

Singkat cerita saya dibawa keluar dari rumah sakit dan dibawa ambulans pulang ke rumah Lasiana. Sesampainya saya di rumah, saya masih belum bisa berbuat apa apa. Untuk membuang air kencing saja, saya mesti digendong. Lagi-lagi saya mempunyai satu keyakinan. Ada Tuhan!  Saya tidak boleh buang air besar diambil oleh orang tua saya.

Tuhan mendengar doa saya. Bapak Bani menjalankan tugasnya memijat bagian-bagian tulang yang patah itu. Sungguh sakit yang luar biasa. Saya menangis. Saya berteriak. Semua orang mengatakan, “Kamu harus kuat!”

Kata bapak Bani, “Coba minum air. Su bisa kow belum!”

Sungguh nyata. Saya dapat menelan air dan mereka mencoba memberikan saya bubur ternyata saya bisa menelannya. Terima kasih Tuhan dan bapak Bani.  Setelah  malam ketiga saya meminta tolong pada  nenek dan mama saya, saya  mau duduk dan saya meminta kepada mereka semua keluar, saya mau sendiri di kamar. Dan mereka pun keluar  dan kata mereka kalau ada yang mau diambil atau mau tidur kembali panggil saja.

Saya mengganguk, di saat itu, saya mulai menangis dan bilang pada Tuhan, “Tuhan kenapa harus saya? Apakah masih ada yang akan menerima saya jika nanti saya tidak kuat seperti ini?”

Saya menangis sejadi-jadinya dan saya ingat kata-kata yang pernah saya baca, God made something for a reason. I am your creator, you were in my care even before you were born because god made you for a reason, he also decided when you would be born and how long you would live.

Kemudian saya sadar, mulailah focus dan menyesali semua dosa saya. Saya mulai berdoa. “Tuhan engkau sendiri yang berperkara, datang jamahlah saya ya, Tuhan. Saya tidak sanggup lagi.”

Tuhan mendengar doa saya. Saya merasakan ada yang panas di belakang saya. kemudian saya menangis, Tuhan pun tahu. Selama  5 hari saya kencing tidak merasakan buang air besar. Pada hari yang ke 6 menuju ke 7,  Bapak Bani dengan yakinnya bilang ke saya. “Om pegang tangan ee kow kita latih jalan , keliling teras kost sa ee.

Saya pun mengiakan, berhubung saya sudah lebih baik dan sudah bisa makan .  Mujizat Tuhan.  Kata dokter 2 atau 3 bulan, namun Tuhan berperkara, dalam 5 menuju 6 hari saya sudah bisa berjalan meskipun masih dipegang. Saat itu pula  saya merasakan mules dan ingin buang air. Sungguh ajaib kuasa Tuhan, Ia mendengar doa saya sehingga feses saya tidak ditadahkan oleh orang tua dan keluarga saya. Nenek atau yang biasa saya pangil mama  katanya dalam Bahasa Kupang, “mama pegang ee kow antar ke toilet atau ambil wadah untuk tamping.”

Begitu cintanya pada saya, ia mengikuti saya ke toilet.Saya menolak dibantu. Puji Tuhan. Saya dapat duduk dan membuang hajat tanpa bantuan. Setelah itu saya keluar dan setiap hari saya dimandikan dengan ramuan tradisional  dan air yang panas.  Begitu setianya nenek saya sehingga pagi, siang dan sore saya dimandikaan , Mama dan adik-adik saya yang begitu suka cita namun terkadang juga ada yang cerewet karena saya butuh air panas terus-menerus. Mereka mencintai saya dan menyediakan apa yang saya butuhkan. Dalam situasi seperti itulah, saya menyadari betapa orang-orang yang tulus menjaga saya, mereka adalah keluarga.

Tak peduli seberapa terjatuhnya dan terpuruknya kita namun, mereka tetap ada di samping kita. Terima kasih Nenek (mama),mama, bapa, om Roy, (Alm) Om Alfret, adik-adik semua, Ivin, Wintan, Hesti, Enjel, Cile, Cani, Gon, Hegal, Abin ,Ayu, Nona Tiles, Kikin, bapak Bani, para keluarga dan tetangga. Mama Peter, Mami, mama Mesi, mama Wiwin yang mendukung saya dalam pemulihan.

Saat kamu terjatuh dan tak tersadar, hanya  orang -orang tulus yang akan melihatmu dan menjagamu seutuh hati mereka.

Thank you for you all.  Maaf saya tidak bisa membalas kebaikan semua orang-orang yang saya sayangi.  Semoga Tuhan yang membalasnya.

Tuhan punya rencana. Akhirnya saya pulih. dan saya mulai menyadari hanya Tuhan dan keluargalah  ketulususan itu ada. Saya bersyukur dalam keadaan tersulit tersebut, saya lebih mendekatkan diri saya ke Tuhan dan mengakui kesalahan saya.  Saya menyerahkan hidup saya sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dan saat itu pula saya diberitahukan Tuhan untuk  menyadari siapa yang pura-pura baik dan siapa yang tulus dalam hidup saya.  Yah seperti itulah hidup!

Tetaplah bersyukur, karena segala sesuatu diadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (Yohanes 1:3).

Akhir kata Tuhan begitu baik, sehingga saya pulih sehingga bulan September 2019 saya diijinkan Tuhan untuk menimba ilmu yang kedua kalinya  di pulau Jawa pada salah satu universitas Swasta . Inilah kesaksian saya, semoga Tuhan pun berperkara dalam hidup kita semua.

Terima kasih Tuhan untuk kehidupan ini.  Terima kasih Tuhan atas perjalanan hidup ini,

 

NB:

Tulisan ini, sebagai ucapan syukur saya kepada Tuhan karena masih memilihara saya hingga hari ini saya genap berumur 26 tahun.

Thanks God and all my family

Love you all

 

 

Penulis: Ewinda Feni
Editor: Heronimus Bani

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan