Tarian Massal Herin, Makna dan Implementasinya

  • Whatsapp
Heronimus Bani
Heronimus Bani

Pengantar

Tari adalah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu untuk keperluan pergaulan, mengungkapkan perasaan, maksud, dan pikiran. Bunyi-bunyian yang disebut musik pengiring tari mengatur gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan (http://anime230798.blogspot.co.id).
Salah satu di antara beragam tari yang dimanfaatkan untuk mengungkapkan perasaan dan pergaulan adalah Herin di Amarasi Raya, yang oleh kalangan atoin meto’ dan Nusa Tenggara Timur ada kemiripan di dalamnya, yang disebutkan dengan istilah lokal seperti bonet, pado’a, kebalai, gawi, dan lain-lain. Ada 2 tarian massal yang hampir punah di Amarasi yaitu herin dan betiboe, namun ada sedikit perbedaannya. Saya tidak menjelaskannya di sini.

Kapan Herin?

Pertanyaan seperti di atas terasa penting. Tidak semua keramaian dapat ditampilkan setiap saat. Padahal masyarakat adat/budaya di Amarasi Raya (tempo doeloe) melakukan tarian massal herin secara tetap paling kurang pada dua acara: membangun rumah baru dan pesta panen. Selanjutnya pada pesta lain yang dirasa perlu untuk menampilkan herin mereka melakukannya pula sebagai wujud rekreasi, bahkan dilombakan.
Mengapa pada acara rumah baru? Mengapa pula pada pesta panen? Pertanyaan penting untuk dijawab. Pertama, rumah. Semua insan manusia membutuhkan tempat berteduh. Menurut Soekarno, manusia perempuanlah yang pertama kali berpikir untuk merekayasa tempat berteduh. Dalam pengembaraan ketika manusia masih berada di zaman pra sejarah, semua laki-laki tugasnya mencari buruan. Para perempuan tidak disertakan, kecuali jika ada perempuan yang luar biasa hebat ketangkasannya. Sayangnya, sekalipun ia tangkas, harus harus tinggal diam di tempat ketika harus menjalani masa melahirkan. Ketika melahirkan, ia membaringkan anaknya di tempat terbuka. Jika terkena cahaya matahari ia kepanasan. Jika tersiram air hujan, ia kedinginan. Maka terbersitlah dalam benak si perempuan untuk merekayasa sesuatu untuk anaknya terlindung. Ketika itulah rumah dalam bentuk yang teramat sederhana dibangun, hanya dengan menyandarkan ranting kayu, ditutupi dengan dedaunan lebar yang dapat menghindarkan anak dari panas, dingin dan angin.
Rumah adalah karantina kehidupan bersama bagi satu keluarga. Suami-isteri dan sejumlah anak. Mereka berkumpul di sana sepanjang kehidupan itu berlangsung. Bahkan sekalipun mereka harus meninggalkan rumah karena kepentingan-kepentingan di dunia luar lingkungan rumah, pasti suatu ketika akan kembali ke rumah. Maka, di Amarasi Raya dan pada semua etnis di Indonesia pasti ada yang disebut rumah adat. Bangunan rumah adat mengokohkan identitas etnis.
Kepopuleran rumah adat pada etnis Timor yang disebut lopo, umi kbubu’ sudah amat mendunia. Orang Amarasi Raya sudah tidak mempunyai lopo dan umi kbunu’. Istilah lopo (Amrs: ropo dan umi) bagi orang Amarasi Raya adalah tempat dimana komunitas berkumpul. Tempat dimana keluarga dari umi-umi berkumpul. Mereka akan mendengar atau mempercakapkan sesuatu.
Rumah tinggal, rumah adat, rumah untuk orang tua, rumah pemujaan (uim re’u) (dewasa ini, gedung gereja,dll), dan rumah-rumah kebanggaan bersama dalam tradisi atoin meto’ dalam pembangunannya selalu dilakukan secara bersama (gotong royong). Kayuan berkelas diambil dari hutan dengan upacara yang khas. Penempatan posisi rumah yang mengarah ke sudut penjuru mata angin dilakukan dengan upacara. Seluruh sukar-sulit, keringat dan darah, sakit-sehat menjadi pengalalaman bersama selama membangun satu unit rumah. Hal-hal ini tergambar dalam benak komunitas pekerja dalam satuan waktu ketika mereka bekerja.
Ketika sampai pada tahapan atap bangunan biasanya mereka berkumpul dalam jumlah yang banyak. Ada yang mengerjakan atap, ada yang mengerjakan dinding, ada yang mengerjakan lantai (tanah). Pada saat itulah mereka akan mengakhiri dengan makan besar dan puncak kegembiraan.
Kedua, pesta panen. Pesta panen di Amarasi Raya (tempo doeloe) disebut sekit-mnonut. Sebagaimana halnya membangun rumah. Membuka lahan menjadi ladang senantiasa dikerjakan bersama. Tahapannya jelas (Foni, Bani, 2007). Foni dalam tesis pasca sarjananya meneliti dan menulis tindakan antropologis atoin meto’ di Noemuke Timor Tengah Utara, dan Bani dalam skripsinya tentang perladangan berpindah dalam masyarakat desa Nekmese’, salah satu desa dalam Amarasi Raya. Ada tindakan kerja bersama sejak membuka hutan, membakar, menanam, menyiangi, menghalau hama, memetik hasil dan membawa ke lumbung. Kerja secara bersama ini menjadi pengalaman berharga pada komunitas umi dan nonot.
Hasil ladang terutama padi dan jagung diterima dengan sebutan yang menempatkannya naik kelas, usi mnahat, begitu namanya. Ada semacam penghargaan pada butiran padi dan butiran jagung, dan tanaman sela lainnya seperti kacangan, lelabuan, dan ubian.
Maka, ketika semua itu sampai di rumah, mereka berpesta menyambut usi mnahat. Makanan diterima layaknya tuan/raja. Tarian massal herin idola mereka. Mereka bernyanyi bersama dalam gandengan, rangkulan merantai, sambil berotasi ke arah kanan setiap orang. Di pusat lingkaran berdiri seseorang yang memimpin. Dialah yang meramu kata dalam sya’ir yang tepat dan sesuai nada yang diketahui seluruh penyanyi sekaligus penari. Pemimpinnya disebut atoon nee (yang menyampaikan sya’ir). Sekelilingnya sebagai pagar bernyanyi dan sekaligus menari merotasinya.

Makna Filosofis Herin

Dalam suatu kesempatan pertemuan di salah satu balai desa di Kecamatan Amarasi Selatan saya mengatakan, dalam mengembangkan kepemimpinan di desa, herin adalah salah satu modelnya. Dalam managemen kepemimpinan yang disebut pemimpin itu hanya seorang. Dalam area kerja sempit ada seorang pemimpin (ketua RT, Ketua RW, Kepala Dusun, Kepala Desa, Lurah, Camat, Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden). Hanya satu. Tidak semua orang dapat menduduki posisi itu, sekalipun banyak orang berebutan untuk mendudukinya. Sebanyak-banyaknya orang menjagokan atau dijagokan menduduki posisi-posisi itu, pasti hanya satu yang terpilih.
Atoon nee,pelantun sya’ir dalam herin adalah orang yang memimpin kelompok besar penari. Sya’ir (nee ada kata lainnya neel) yang diucapkannya akan memberi warna yang jelas pada mereka yang akan menyanyikan dan menarikan. Satu kesalahan kecil pada melantunkan sya’ir akan menyebabkan seluruh tatanan kelompok melakukan kesalahan.
Atoup nee/neel, penerima sya’ir. Di samping pelantun sya’ir seseorang disebut atoup nee/neel. Dia yang menyebarkan kepada seluruh penari, bahwa sya’ir berikutnya berbunyi apa, dan sekaligus mengantar mereka ke dalam nadanya. Bila sya’ir itu tidak tepat nada, maka segera dalam sepersekian detik dikabarkan kembali kepada atoon nee agar segera diperbaiki.
Para penari/penyanyi terangkai dalam rantai tangan yang tak terputus terdiri dari dua golongan yaitu, atoni’ dan bifee. Atoni’ adalah kelompok yang wajib menerima sya’ir dan melagukannya secara berubah-ubah mengikuti sistem dan patron yang dibuat oleh atoon nee/neel dan atoup nee/neel. Kesalahan tidak diperkenankan terjadi pada kelompok atoni’.
Kelompok bifee, menyanyikan sya’ir yang berulang-ulang sampai seluruh sya’ir berakhir. Mereka tidak mengubah nada dan sya’ir pada kelompoknya. Sya’irnya tetap. Ketika mereka menyanyi, pada saat itulah kelompok atoni’ menyiapkan sya’ir baru yang diterima dari atoon nee/neel dan atoup nee/neel. Peran atoon nee/neelsumber sya’ir. Atoup nee/neel jembatan untuk sampai kepada kelompok atoni’.
Maknanya adalah, dalam kepemimpinan ada seseorang yang memimpin sebagai top manager. Dia yang memulai, dia yang menghandel dan mengatur control dan irama kerja. Dia dibantu oleh orang tertentu yang mendapat kepercayaan untuk itu. Sementara orang kebanyakan bekerja atas petunjuk yang iramanya harus sama dengan yang lainnya, sambil mengharapkan kebersamaan itu terus dirajut. Bahwa tampilan fisk boleh berbeda, tapi irama permainan mesti dapat disamakan. Itulah sebabnya dalam tarian massal herin, orang menari dalam kelompok dimana semua golongan orang dapat berantai satu adanya. Secara prinsip pola gerak mirip antara bonet, kebalai, pado’a dan gawi. Seluruh penari bergandengan merantai, melingkar bergerak mengitari pemimpin.
Dari sisi kepercayaan (agama suku) diyakini bahwa semua makhluk berputar (berusaha sekuat-kuatnya) mencari-cari kekuasaan tertinggi, terkuat, terhebat, tak terhampiri. Sesuatu yang luar biasa. Usaha itu dilakukan dengan mengitari dunia di bawah kepemimpinan meo. Meo mengarahkan kepada sang Agung.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan