Surat Terbuka, Donasi Buku

  • Whatsapp

Surat Terbuka, Donasi Buku

Mohon dukungan Orang Tua Siswa, Alumni, dan siapapun yang peduli pendidikan, khususnya pada Pengembangan Proses Pembelajaran tiga Ketrampilan Dasar (Membaca, Menulis, Berhitung) di Sekolah Dasar Inpres Buraen.


Heronimus Bani

Hubungi:
+62852-5302-1374
email : herobani68@gmail.com
email : sdinpres.buraen.suit@gmail.com

Bacaan Lainnya

Pengantar

Tulisan ini bersifat surat terbuka yang saya tujukan kepada masyarakat di sekitar Sekolah Dasar Inpres Buraen. Saya berharap bahwa sekalipun saya alamatkan hanya kepada mereka, namun bila ada orang yang peduli pendidikan, dan sudi membaca surat terbuka ini, maka biarlah ikut turun dan ulur tangan.

Sekedar latar belakang.  Pada tahun 2017/2018, ketika saya bertugas di SD Inpres Buraen, saya mencoba melakukan analisis SWOT. Salah satu hal yang diperoleh di antara sekian banyaknya permasalahan sebagai tantangan adalah, kemampuan dan ketersediaan resorsis pendukung proses pembelajaran yang belum mencapai standar sebagaimana dipersyaratkan oleh Delapan Standar Nasional Pendidikan. Masalah itu adalah, bangunan perpustakaan, isinya, dan tenaga pustakawan dan problematika di sekitarnya.

Perpustakaan, buku bacaan dalam berbagai jenis, jumlah dan kualitas/kadar isi bacaan menjadi masalah tersendiri pada SD Inpres Buraen. Di sekolah ini belum tersedia akses itu. Maka, mestilah dicarikan solusi agar para pemangku kepentingan, khususnya peserta didik dan guru (pembelajar) memilikinya, memanfaatkannya untuk mengembangkan diri dengan menemukan informasi-informasi terbaru dalam dunia pendidikan yang digelutinya.

Sekuntum Problem

Pada tahun 2016, ketika memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI ke-71 di Kecamatan Amarasi Selatan, saya menyampaikan 2 makalah dalam suatu serasehan. Satu di antara kedua makalah itu membahas, membaca sebagai suatu ketrampilan.

Pembahasan di sekitar ketrampilan membaca ini memunculkan sejumlah masalah yang sifatnya “menuding” para guru SD sebagai “pengantar masalah” baru ke sekolah menengah pertama. Ada siswa yang lulus dan berijazah Sekolah Dasar, namun belum mempunyai ketrampilan dasar membaca; baik mengeja, membaca nyaring apalagi mengharapkan agar benar-benar sampai pada membaca pemahaman. Maka, para guru SMP pun harus extra kerja untuk menuntaskan tugas para guru SD. Ini kasuistik, tetapi seringkali menjadi gambaran umum atau mendeskripsikan secara gamblang bahwa ada yang “kurang beres” dalam proses pembelajaran atau faktor internal sekolah dan di sekitar lingkungan sekolah.

Medio 2017, saya masuk ke SD Inpres Buraen. Ada nuansa kebanggaan pada mereka yang telah senior di sekolah ini. Mereka telah berkeringat sehingga sekolah ini mempunyai “harkat dan martabat” di Amarasi Selatan bahkan Kabupaten Kupang. Saya nimbrung dan nebeng pada harkat dan martabat itu Harapan dipundakkan agar harkat dan martabat yang demikian itu dipertahankan, dan terlebih ditingkatkan mencapai level/puncak tertentu, misalnya, nasional dan internasional.

Saya tentu saja tertantang. Maka, saya mencoba melakukan apa yang bisa saya lakukan. Satu di antaranya adalah mengasah ketrampilan membaca dan menulis siswa (dan guru). Saya memiliki sedikit ketrampilan menulis walau belum terasah benar, saya ingin tularkan pada para siswa. Tindakan konkrit saya mulai dengan (1) meminta siswa Kelas VI menulis kembali dengan kata-kata sendiri apa yang dinyatakan oleh Pembina Upacara pada upacara Senin pagi. (2) mengecek kemampuan membaca siswa, khususnya dari kelas III, IV, V, dan VI.

Saya berasumsi bahwa mereka yang mau menulis besar kemungkinan rajin membaca. Mereka sudah memiliki pengetahuan dan perbendaharaan kata yang cukup sesuai perkembangan usia, daya tangkap dan ingatan. Tugas saya, memoles para siswa agar dapat menulis dalam tulisan-tulisan sederhana.

Data yang saya peroleh adalah, jumlah siswa kelas 3 – 6: 105 orang; 39 siswa belum dapat dinyatakan sebagai mempunyai ketrampilan membaca. Satu orang di antara ke 39 siswa ini, tunagrahita, sehingga totalnya 38 siswa (36,19%) dan yang sudah mempunyai ketrampilan dasar membaca sebanyak 66 siswa (62,86%) dan 1 siswa tunagrahita (0,95%).

Data ini cukup mengejutkan. Sebagai guru pembelajar, saya terpecut untuk memperbaiki strategi pembelajaran sehingga para siswa mesti dapat membaca (secara baik) sejak dini (mulai kelas 3-4).

Saya sangat mengharapkan agar mata rantai tudingan terputus setelah terjadi perubahan pendekatan dalam pembelajaran membaca permulaan sampai membaca pemahaman.

Sekelumit Perubahan Strategi

Salah satu strategi pembelajaran yang dewasa ini sangat disukai adalah Inquiry. Siswa menjadi subyek pembelajaran. Maka pendekatan pembelajarannya adalah PAIKEM. Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Metode yang digunakan dalam proses pembelajaran secara tradisional, adalah ceramah dan tanya jawab. Dua metode ini sudah sangat tua, setua dunia pendidikan berjalan. Lalu masih ada multi metode yang dapat diterapkan guru (pembelajar) dalam proses belajar-mengajar atau kegiatan belajar-mengajar.

Menengok pada masalah siswa yang belum dapat membaca secara baik di SD Inpres Buraen, maka selanjutnya sebagai kepala sekolah, saya mengupayakan cara untuk mencoba meminimalisir masalah ini. Upaya konkritnya adalah:

  1. Inventarisasi level ketrampilan membaca anak (kenal huruf, dapat mengeja suku kata, dapat membaca kata, dapat membaca kalimat pendek, membaca lancar kalimat pendek, membaca wacana)
  2. Hasil inventarisasi dilanjutkan dengan tindakan:  (a) Menentukan bacaan yang cocok/sesuai konteks lingkungan siswa. (b) Menciptakan bacaan bergambar dengan kalimat sederhana. (c) Menyurati para orang tua yang anaknya terkategori belum dapat membaca secara baik.  (d)Melatih dan mengikuti perkembangan ketrampilan membaca dan menulis, melalui para guru kelas. (e)Melaporkan (menginformasikan) secara lisan kepada Pengawas Pembina (N. Runesi, S.Pd/Kepala UPT Dinas P & K Kecamatan Amarasi Selatan).  (f)Pengawas Pembina membentuk tim khusus sebagai pengamat proses pembelajaran di SD Inpres Buraen. (g)Tim Pengamat yang terdiri dari 4 orang kepala sekolah dan 2 orang Pengawas TK/SD melakukan tes/uji membaca dalam hitungan satuan kata per menit.
  3. Tindakan selanjutnya adalah melakukan upaya dan kerja keras untuk mendapatkan buku pendukung proses pembelajaran. Buku-buku yang diperoleh mesti juga menjadi daya dukung membangkitkan minat dan kebutuhan menemukan informasi baru melalui kegiatan membaca.

Permasalahan yang dianggap kecil ini, justru dampaknya sangat besar. Beberapa siswa kelas VI “ditamatkan” dengan tidak mempunyai ketrampilan membaca. Hal ini menyebabkan ada asumsi/anggapan bahwa lulusan SD Inpres Buraen tidak bisa membaca. Padahal, hal itu terjadi secara kasuistik, bukan keseluruhan siswa.

Bila menelisik ke kedalaman proses pembelajaran di sekolah, sesungguhnya mayoritas siswa berminat untuk membaca. Minat ini harusnya dapat diakomodir dalam program pengembangan, selain program utama di dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu membaca permulaan dan membaca lanjutan.

Membelajarkan ketrampilan membaca (dan menulis) bukan lagi barang baru bagi para guru. Semua guru SD paham bahwa ada tiga ketrampilan dasar dalam proses pembelajaran di SD, yaitu membaca, menulis dan berhitung. Daya dukung untuk ketiga hal ini sangat diperlukan, selain inovasi dan kreativitas guru.

Perpustakaan adalah salah satu daya dukung. Sampai dengan saat ini SD Inpres Buraen belum tersentuh oleh Pemerintah Provinsi dan Kabupaten (Cq.Dinas P & K) untuk membangun sarana-prasarana pendukung ini.

Mungkinkah para pemangku kepentingan (orang tua siswa, pemerintah kelurahan, Komite, dan institusi lain di sekitar SD Inpres Buraen peduli buku (dan perpustakaan)?

Perpustakaan! Perpustakaan! Perpustakaan!

Mula-mula orang memahami perpustakaan sebagai satu bangunan yang di dalamnya ada jejeran rak-rak buku. Di dalam rak-rak buku itu berjejer sejumlah besar buku-buku. Benar! Pikiran ini, benar. Perpustakaan mesti dikhususkan, ia tidak harus disatukan dengan ruang kelas, ruang belajar apalagi di ruang kepala sekolah atau ruang guru.

Mayoritas Sekolah Dasar belum mempunyai ruang khusus kantor dan ruang kepala sekolah, serta ruang guru. Satu unit SD milik pemerintah biasanya ada 6 ruang kelas, dan satu ruang kantor yang multi fungsi. Selain sebagai ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang tamu sering dijadikan tempat penitipan buku-buku.

Saya kembali ke bangunan perpustakaan. Bila para pemangku kepentingan pendidikan di sekitar SD Inpres Buraen peduli perpustakaan, maka baiklah lakukan paling kurang dua hal: Pertama, sebarkan informasi bahwa SD Inpres Buraen membutuhkan buku-buku untuk menjadi bahan bacaan siswa. Ajak mereka mengumpulkan buku-buku bacaan untuk anak-anak (peserta didik) di sekolah ini. Antara yang mengajak dan yang diajak, sama-sama mengumpulkan buku. Lalu antarkan ke sekolah. Ini yang saya sebut sebagai donasi buku. Kedua, Para orang tua di rumah, ajak anak-anak untuk membaca. Paling tidak ada kebiasaan membaca alkitab (bila itu keluarga Kristen umumnya). Jika mungkin, ketika mereka ada pada usia bermain, biasakan bermain dengan buku.

Penutup

Demikian sekelumit pikir tentang donasi buku yang akan sangat mendukung dan memotivasi anak-anak (peserta didik) di SD Inpres Buraen. Dukungan para orang tua dan pemangku kepentingan yang peduli pendidikan, khususnya peduli ketrampilan membaca dan menulis, akan sangat memberi trend positif pada perkembangan sekolah, khususnya pada anak-anak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan