Ritual Toit Uran pada Atoin’ Meto’ Amarasi

  • Whatsapp
Ritual Toit Uran pada masyarakat Peladang di Amarasi Raya

Heronimus Bani
Masyarakat pada etnis manapun mempunyai ritual tertentu untuk memohon akan adanya hujan. Bahkan agama semawi dan modern pun mendogmakan adanya permohonan kepada Sang Khalik untuk ketersediaan air, dan hujan.

Masyarakat etnis Timor (Atoin’ Meto’) pada berbagai tempat di pulau Timor ini (Pah Meto’) mempunyai ritual yang khas daerah/lokasi dan komunitas untuk meminta/memohon akan datangnya hujan. Permohonan itu ditujukan kepada penguasa air hujan melalui roh para leluhur mereka.

Bacaan Lainnya

Seorang mahasiswa (calon sarjana) dalam sesuatu percakapan penelitian mengharapkan adanya suatu tulisan tentang permohonan ketersediaan air dan hujan pada masyarakat peladang di Amarasi Raya.

Peladang Amarasi Raya dewasa ini tidak lagi melakukan ritual ini. Mereka berdo’a menurut agama yang dianut yaitu Protestan dan Katolik. Dari percakapan dengan sang mahasiswa inilah lahir tulisan ringan ini.

Memohon atau meminta hujan dilakukan oleh masyarakat peladang di Amarasi Raya pada masa lampau. Permohonan itu disampaikan kepada Uis Oe dan Uisnenoalam suatu upacara yang disebut Toit Uran. Ada pula yang menyebutkan dengan istilah ‘Tkau’ Uran, atau Kauh Uran.

Nama atau istilah yang berbeda tetapi ritualnya tetap sama. Tujuannya adalah adanya air hujan yang cukup pada lahan kering (ladang) agar dapat ditanami, dan tersedianya air yang cukup pada lahan yang sudah ditanam sepanjang musim tanam ladang, sehingga tanaman padi, jagung, kacangan, ubi-ubian, dan labu-labuan dapat menghasilkan pada masanya.
A. Perlengkapan dan Bahan
1. Perlengkapan/Alat
• Pisau
• Baskom (pada masa lampau ketika belum ada baskom, orang menggunakan satu jenis labu yang dibuang isinya, kulitnya dikeringkan, lalu dibelah 2/3 bagian. Bagian ini disebut ‘fane’).
• Altar, meja batu
2. Bahan,
• Ayam jantan berbulu merah menyala tanpa cacat. Atau warna putih atau warna hitam.
• Air yang disediakan dalam wadah (baskom, ‘fane’)
• Api
B. Lokasi
Pelaksanaan ritual dapat memilih tempat:
1. Rumah Do’a, Rumah Sesajen (Uim Re’u)
2. Aliran Sungai lebih tepat di pertemuan aliran sungai(noe, noe tefas)
3. Hutan yang disisakan di bagian tertentu dari ladang (nasi ‘tora’)

C. Pelaku
Pelakunya adalah seluruh pemilik ladang yang dipimpin oleh seseorang yang disebut Meo. Meo dalam agama suku bertindak sebagai pemimpin perang, tetapi dapat pula sebagai “imam” yang mengimamati, memimpin ritual-ritual dalam komunitas.
D. Pelaksanaan
Meo menyediakan perlengkapan dan bahan-bahan untuk ritual toit uran. Setelah bahan dan perlengkapan tersedia, dengan pisau Meo memotong leher ayam. Darah ayam ditampung dalam wadah lain seperti mangkok (‘panu’). Bulu ayam bagian ekor yang panjang menjuntai diambil 9 utas. Bangkai ayam kemudian dibelah dan diambil bagian dalamnya terdiri dari jantung dan usus-ususnya.
Semua bagian-bagian tubuh ayam ini ditempatkan di altar/meja batu (mei fatu, mei fuat).
Selain bagian tubuh ayam, ditempatkan pula air yang diambil secara khusus untuk ritual ini.

E. Tuturan
Seluruh material telah ditempatkan di altar. Meo melakukan tugasnya untuk memohonkan hujan dari pemilik air, tuan air, penguasa air. Permohonan ini disampaikan dengan perantaraan roh para leluhur yang diyakini berada di sekitar kehidupan mereka.

Sambil menadahkan memainkan air di dalam wadah (‘fane’) dan menyerahkan bagi bagian tubuh ayam, ia mengucapkan do’a (boifanu’).

Api disiapkan untuk membakar persembahan berupa seluruh bagian-bagian tubuh ayam di altar.

Permohonan (boifanu’) yang diucapkan demikian,

Hoi sin hai be’i ma na’i ki.
Hi mok Uis Oe-Uis Uran tnoe mese’, tnene mese’.
Hi mtae ma mkius miit hi anah ma upuf kai.
Hai mait fani ma benas,
Hai mait ‘nopo’ ma ai.
Nais reko hai mkaun goe,
Hoena’ reko hai mruir ma mtaif,
Anpuut namkeis, afu ma nai namkeis.

Hoi sin hai be’i ma na’i ki.
Hai miskau mok main Uis Oe-Uis Uran re’ hi mitnoe mese’, ma tnene mese’, ki;
maut he Uisneno nneen ma natniin;
Haan totis, haan anbait na’ko hi anah-upuf kai.
Maut he Uisneno A’ratas naprenat Uis Oe ma Uran, atiut oe mata’; apao paan feru;
he nasanut ma nsonu’ kai oe ma uran neu rene, afu ma nai amkesit.

Naa’ ma funu, usaf ma taif nfoo mein neitin.
Oe nbi ‘fane’, naris ma nakriis, npoin ma npoop afu skukuk.
Maut he oe ma uran nsaun neem nai,
Hai mibarab he msium ma mtoup,
Hai mibarab he mbeben ma mseen,
Meik a’so’o he mi’soo’ afu ma nai makuub maka ma ane.
Meik a’suak he mi’sua afu ma nai mabeben pena’

Hoi sin hai be’i ma na’i ki
Misaeb totis ma anbait nai oras ia.
Hai mtiut ma mpao mbi ia, oras ia, tua.

Terjemahan

Ya, (roh dari) nenek moyang kami
Kamu duduk bersama-sama dengan Tuan (Penguasa) Air dan Hujan
Kamu memperhatikan keturunan (anak-cucu)
Kami mengangkat kapak dan parang
Kami mengangkat obor api
Hutan terbaik kami tebas
Jemuran (ladang tebasan) terbaik telah kami bakar
Telah terbakar habis, tanah ladang telah kelihatan

Ya, (roh dari) nenek moyang kami
Kami menjemput kamu yabg duduk bersama-sama dengan Tuan (Penguasa) Air dan Hujan,
biarlah Tuan Langit (Tertinggri) mendengar suara rintihan (doa) dari keturunanmu (anak-cucu).
Biarlah Tuan Langit Tertinggi memerintahkan Tuan Air dan Hujan, penunggu mata air dan induknya;
agar menurunkan dan mengirimkan kepada kami air dan hujan pada ladang dan tanah kami yang telah kelihatan.

Darah dan bulu, perut dan usus (yang kami bakar) mengharumkan,
Air dalam wadah ini memercik dan menyirami debu.
Kiranya air dan hujan (segera) turun.
Kami telah siap untuk menerimanya.
Kami telah siap untuk menanam.
Kami membawa alat penanam padi
Kami membawa alat penanam jagung

Ya, (roh dari) nenek moyang kami
(tolonglah) kamu sampaikan permohonan kami
Kami menunggu di sini.

Demikian sekelumit catatan ringan sehubungan dengan hasil percakapan seorang mahasiswa yang sedang dalam upaya untuk mengetahui ritual-ritual para peladang masa lampau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan