Nilai Tertinggi dan Nilai Terendah

  • Whatsapp

Pendahuluan

Setiap menyongsong akhir tahun pelajaran, sekolah-sekolah mengadakan dua kegiatan penting yaitu Ujian (UN/UNAS/US) dan Ujian Akhir Semester (UAS). Dua kegiatan ini akan berakhir pada lulus/tidaknya seorang siswa pada kelas/tingkat akhir dan naik/tidaknya siswa di kelas/tingkat rendah.
Pada kedua kegiatan ini, para guru dan siswa akan memperhatikan paling tidak dua nilai yang diperoleh siswa yaitu nilai tertinggi dan nilai terendah. Nilai tertinggi mendapatkan perhatian guru oleh karena pencapaian itu adalah pencapaian maksimal guru yang ditunjukkan dalam wujud nilai yang diperoleh siswa. Demikian pula nilai terendah adalah pencapaian minimal. Seringkali guru tidak/kurang memperhatikan berapa banyak siswa memperoleh nilai tertinggi dan hal yang sama untuk nilai terendah. Padahal, nilai tertinggi dapat saja diperoleh hanya oleh satu atau dua orang, sedangkan nilai terendah didapatkan lebih dari dua orang.

Standar Ketuntasan Minimal (SKM)

Dalam proses belajar mengajar menggunakan kurikulum manapun, seorang guru pada akhirnya akan mengisi form daftar nilai. Baik penilaian dalam proses maupun penilaian di akhir proses. Kedua model penilaian itu dilakukan dalam tenggat waktu satu semester pada point-point pengetahuan, sikap dan ketrampilan atau apa yang dikenal dalam dunia pendidikan yaitu tiga ranah yang mesti dioptimalkan cognitive, affective dan psychomotoric (CAP).

Ketiga hal di atas, CAP mesti mendapatkan perhatian secara serius oleh guru dalam proses mengajar-belajar (pembelajaran) termasuk evaluasi proses dan akhir proses. Dalam proses guru memperhatikan pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk diberi nilai dalam wujud skoring yang terukur. Menetapkan skoring yang terukur itu dalam satu standar menjadi kewajiban sekolah. Standar yang dimaksudkan itu adalah standar ketuntasan minimal (SKM) atau kriteria ketuntasan minimal (KKM).

Dalam hal menstandarkan skoring untuk aspek C, guru lebih mudah melakukannya melalui alat evaluasi yang disebut tes tertulis. Tes tertulis umumnya menggunakan opsi bentuk soal: benar-salah, pilihan ganda, isian, menjodohkan, uraian terbatas dan uraian terbuka. Masing-masing opsi mempunyai kelebihan dan kekurangan dari perspektif guru. Ketika guru menggunakna opsi bentuk soal B-S, PG dan isian, maka kemungkinan mempersiapkan materi untuk ketiga hal itu memakan waktu dan kesulitan pada penempatan pilihan jawaban yang mesti mirip benar tapi tidak sama untuk mengecoh. Hal waktu diperlukan mengingat materi/bahan ajar yang disajikan dalam satuan satu semester sekurang-kurangnya 4 – 5 pokok bahasan dengan sejumlah sub pokok bahasan di dalamnya. Kemudahan yang didapatkan guru adalah menyiapkan kunci jawaban dengan skoring yang mengantarkannya pada pemeriksaan yang tidak memakan waktu. Hanya dalam tempo beberapa jam seorang guru sudah dapat menyelesaikan pemeriksaan dan analisis atas hasil evaluasi yang dilakukannya dalam satu satuan waktu yaitu satu semester.

Dalam hal pemilihan bentuk soal uraian terbatas dan uraian terbuka. Bentuk soal yang demikian sangat mudah untuk disiapkan. Guru cukup menggunakan kata tanya apa, siapa, kapan. Menggunakan ketiga kata tanya ini, siswa akan memberikan penjelasan terbatas dengan jawaban ya, tidak, si A, tuan X, dan kemarin, tanggal sekian, tahun dan abad ke sekian. Jika dibutuhkan penjelasan tambahan, maka ia akan melakukannya. Pada skoring, guru menyiapkan maksimal dua (2). Jika guru menggunakan kata tanya bagaimana dan mengapa, di sini butuh penjelasan yang dapat dibatasi dalam jumlah kalimat (satu paragraf, dua paragraf) atau dibiarkan secara terbuka memberikan uraian (essey). Nah, uraian terbuka (essey) artinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk menuangkan ide-idenya atas suatu pokok yang ditanyakan kepadanya. Dalam hal seperti ini, guru harus flexibel dalam memberikan skoring. Ide yang disajikan dalam bentuk esei harus dihargai. Ia tidak dapat diberi skoring nol. Di sini letak kekuatan bentuk soal yang esei yang mengharuskan siswa menjawab dengan uraian terbuka. Maka, guru tidak memberikan jumlah butir soal yang banyak. Biasanya guru akan memberikan minimal 5 butir soal atau jika mungkin 10 butir soal. Dengan begitu ketika pemeriksaan dan skoring, guru dapat melakukannya dengan tidak membuang-buang waktu dan objektif pula.

Menengok Laporan Pendidikan

Laporan pendidikan (raport) biasanya akan diserahkan kepada orang tua di akhir semester ganjil dan genap. Sepanjang dan sejauh ini jarang sekali orang tua mempertanyakan darimana angka-angka di dalam raport itu didapatkan. Jika sekolah (guru) menyampaikannya sekalipun mereka akan manggut-manggut saja entah tanda mengerti, paham atau justru berpikir apapun yang guru lakukan itu adalah proses mendidik. Jika orang tua membatin demikian, maka raport yang diterimanya akan segera disimpan sesampainya di rumah. Kalau saja ia (mereka) sempat menengok angka di dalam raport maka nilai tertinggi dan nilai terendah yang akan diperhatikannya. Hal yang sama dilakukan guru dalam perspektif berbeda. Orang tua memperhatikan nilai tertinggi pada mata pelajaran apa yang diperoleh anaknya, dan ia mungkin akan memuji dan mendorong anaknya untuk “mengejar” materi (subjek) itu agar menjadi modal di masa depan. Sedangkan nilai terendah, seringkali menjadi bahan/materi sindirian. “Lu bodo… !”

Pada perspektif guru sekali lagi, guru memperhatikan siapa memperoleh nilai tertinggi dan berapa banyak yang memperoleh nilai tertinggi itu. Demikian pula siapa dan berapa banyak memperoleh nilai terendah dan apakah telah mencapai SKM/KKM. Di sini bedanya antara guru dan orang tua dalam hal memperhatikan raport.

Guru (mungkin) akan melakukan evaluasi ketidakcapaian SKM/KKM untuk perbaikan kinerja pada semester berikutnya (T.A baru). Orang tua hanya mengingatkan jika sempat melakukannya pada anak. Jika tidak, maka akan dibiarkanlah anak itu kembali ke sekolah hanya dengan menyiapkan perlengkapan sekolah seperti alat tulis-menulis, seragam sekolah dan seringkali biaya (transport, termasuk jajan).

Penutup

Siswa, guru dan orang tua. Tiga oknum yang berpadu dalam proses pendidikan untu memanusiakan anak manusia. Siswa di”titip”kan pada lembaga pendidikan (rumah) dalam jenjang SD, SMP, SMA/K dan lembaga sederajat. Di rumah itu ada orang tua sekunder yaitu guru. Mereka mengajar dan mendidik. Mereka melaporkan dalam secarik kertas yang sebelumnya diolah dari tumpukan data yang dikumpulkan dan ditabulasi dalam satuan waktu satu semester. Orang tua manakah yang mengetahui hal ini? Secarik kertas yang disebut raport mungkin dapat melegakan atau malah mengecewakan orang tua dan anaknya (siswa).

By : Heronimus Bani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan