Monumen VHR Koroh: Jasa dan Kenangan; Aset dan Wisata

  • Whatsapp
Victor Hendrik Rasyam Koroh

Heronimus Bani

Mula kata


Hari Rabu, tanggal delapan bulan Maret tahun dua ribu dua tujuh belas. Satu hari yang diukir dengan tinta emas di kecamatan Amarasi Selatan. Entah mengapa, pemerintah di kecamatan Amarasi Selatan dan masyarakat di dua kelurahan dan tiga desa memilih tanggal ini. Pada tanggal ini mereka melakukan satu hal yang sangat fenomenal (bagi mereka) dan bersejarah. Kesejarahan tanggal ini terjadi karena pada hari dan tanggal ini mereka mengundang pemerintah Kabupaten Kupang dan para tokoh di kecamatan ini untuk melakukan peletakan batu pertama (istilah lokal: mofu’ faut fua mese) untuk membangun monumen kenangan pada tokoh: Victor Hendrik Rasyam Koroh yang dikenal luas dengan nama, Uispah Veky Koroh. Mengapa Veky Koroh?
Sekulum urai di dalam tulisan ini menjadi jawaban simpelnya.

Bacaan Lainnya

Amarasi Raya dan Amarasi Selatan


Sesungguhnya apa dan bagaimana Amarasi Raya itu? Manakah yang disebut Amarasi Selatan? Pada tahun 2002 Amarasi yang hanya satu itu dimekarkan menjadi empat kecamatan: Amarasi, Amarasi Timur, Amarasi Barat, dan Amarasi Selatan. Jadi, bila menyebut Amarasi saja, maka imej akan jatuh pada kecamatan Amarasi yang sekarang ini, yang berpusat di Oekabiti. Maka, semestinyalah orang menyebut Amarasi Raya menurut kalimat matematika. Amarasi tambah Amarasi Timur tambah Amarasi Barat tambah Amarasi Selatan sama dengan Amarasi Raya. Logis bukan? Kecamatan Amarasi ibukotanya Oekabiti. Kecamatan Amarasi Timur ibokotanya Pakubaun/Noehaen. Kecamatan Amarasi Barat ibukotanya Baun. Kecamatan Amarasi Selata ibukotanya Buraen.

Manakah Amarasi Selatan? Jawaban amat mudah. Amarasi Selatan adalah wilayah paling selatan di seluruh Amarasi Raya. Dialah yang terselatan di pulau Timor, dan terselatan pula di Kabupaten Kupang yang terdekat dengan negara tetangga sekaligus satu benua yaitu Australia. Di dalam Amarasi Selatan terdapat 3 wilayah desa dan dua kelurahan. Agak berbeda dengan Amarasi lainnya yang hanya terdapat 1 kelurahan, seperti Kelurahan Teunbaun, kelurahan Nonbes, dan di Amarasi Timur tanpa kelurahan. (ini pernyataan kebanggaan kah?)

Di Amarasi Selatan terdapat area tertentu seperti: area tambang mangan kurang lebih 1000 hektar. Di sana ada penduduk berbahasa Amarasi gaya Kotos, Tais Nonof dan Ro’is. Terdapat pula jalan negara jalur selatan yang akan menghubungkan daerah dan wilayah-wilayah di selatan pulau Timor antara Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan Kabupaten Kupang. Pembangunan jalan negara itu dimulai dari Amarasi Selatan, dimana pantai Teres menjadi andalan kemasan masa depan pariwisata di sana.

Dari aspek keagamaan, di Amarasi Selatan umat Katolik seluruh Amarasi Raya berpusat di Paroki Tuatuka-Buraen, yang artinya paroki ini melayani untuk seluruh kapela di Amarasi Raya. Saat yang sama di sana ada irisan dua wilayah Klasis di dalam GMIT yaitu Klasis Amarasi Timur dan Amarasi Barat. Terdapat pula di dalamnya denominasi gereja seperti Masehi Advent dan Pentakosta. Semua yang disebutkan ini merupakan kekayaan immaterial yang tumbuh secara naturali di dalam wadah Amarasi Selatan.

Amarasi Selatan sudah mengalami pergantian top manager. Empat orang top manager sampai dengan tulisan ini dibuat. Gustaf I. Taopan (alm), Thobias Nabut, Merlin L. Buraen, dan Jackson M. Baok (definitif sekarang). Masing-masing individu ini mempunyai ide/gagasan, dan pandangan yang luas bahkan sangat futuris. Sayangnya, mereka dibatasi waktu bertugas sehingga ada yang dapat diwujudkan dan ada pula yang tidak sempat diwujudkan.

Tetapi, di wilayah selatan Amarasi Raya (pah nai’ rasi’ pasa’ haa’ nua) ketika Uispah Veky Koroh menjabat, ia telah merambah bahkan sampai ke kuan, ropo dan umi.

Monumen VHR Koroh: Jasa dan Kenangan


Seorang pemuda berumur 20 tahun ketika ditanyai, “Apakah kamu mengenal orang yang bernama Veky Koroh?” Ia justru balik bertanya, “Siapa dia?”
Seorang pemuda lain berumur kira-kira 40 tahunan ketika ditanyai dengan pertanyaan yang sama, “Apakah kamu mengenal orang yang bernama Veky Koroh?” Ia jmenjawab, “Samar-samar. Ini alasannya. Ketika masih anak-anak katanya dia masih hidup. Ketika memasuki usia dua puluhan, ia mangkat. Saya belum sempat melihat wajahnya, tapi kisah di balik orang itu saya mendengarnya dari orang tua?”
Seorang bapak berumur 50 tahun ketika ditanyai dengan pertanyaan, “Apakah kamu mengenal orang yang bernama Veky Koroh?” Ia menjawab, “Saya sempat melihat wajahnya. Kata dan tindakannya. Ketika itu saya masih belia tetapi ikut dalam kegiatan-kegiatan seperti tujuh belasan, karena pada masa itu wajib merayakan tujuh belasan selama seminggu. Perayaan itu luar biasa ramai tetapi tertib walau menghadirkan masyarakat dari dua puluh tiga desa di bekas swapraja Amarasi.”
Jika bertanya pada orang yang berumur di atas 60 tahun, mimik, raut wajah dan air muka berubah. Guratan di wajah seakan hendak membuat kisah bahwa mereka hidup dalam kebersamaan sebagai pemuda pada masa itu. Mereka mengenal Veky Koroh, di dalamnya termasuk sepak terjangnya.

Bila berkunjung dan bertanya kepada para pegiat politik praktis dan birokrasi pemerintahan, apakah mereka akan menjawab seperti kebanyakan orang Amarasi Raya? Akan sangat berbeda. Itu suatu kepastian. Mengapa? Karena Veky Koroh, sosok dan tokoh di kalangan Golkar yang adalah orgasisasi sosial poltik pada masa Orde Baru. Orsospol tentu terminologinya berbeda dengan organisasi politik (orpol), bukan?

Jika begitu, maka baiklah Penulis kembali kepada masyarkat Amarasi Raya. Dalam perspektif masyarkat Amarasi Raya, VHR Koroh adalah tokoh, Usif, Uispah, Nai, yang berbeda di kalangan masyarakat pada umumnya. Mengapa? Ia tidak lebih tinggi dijunjung dari H.R. Koroh atau pun Don A. Koroh, atau Arnold Abineno. Ia sama dan disejajarkan dengan mereka. Tetapi, bedanya, ia adalah tokoh terakhir yang “menasional” di kalangan Amarasi Raya. Publik Amarasi Raya mengetahui dan mengenal sang tokoh karena kepakaran, kepiawaian, kecekatan, kecerdasan, dan keahliannya. Ia bahkan dapat saja dianggap sangat visioner dalam hal managemen pertanian berbasis lahan dan ternak; arsitek dan perencana handal untuk sistim “bongkar-pasang”, dan perencana infrastruktur yang diandalkan.

Apakah sejumlah sebutan itu bukan sanjungan berlebihan? Dapat saja ya, bagi mereka yang tidak mengalami dan merasakan. Kepada mereka yang mengalami dan merasakan akan mengatakan bahkan lebih dari itu. Mereka harus meninggalkan rumah, isteri dan anak untuk kebaikan bersama. Pengorbanan waktu, tenaga, materi, hingga perasaan (emosi). Sang tokoh tidak kompromi dengan pengorbanan yang “sedikit” itu (limit waktu 30 hari setiap tahun antara Juni-Juli).
Bila kita bertanya pada siswa kelas VI, “Apakah kamu mengetahui tentang buku berpetak?” Mungkin ia menjawab secara pasti, “Ya. Saya tahu!” Di sana dibuatlah gambar-gambar yang menurut ukurannya sangat pasti penempatannya.

Bila berkunjung ke daerah persawahan, lihatlah kotak-kotak yang mirip. Di sana ditanamilah dengan padi pada musimnya. Model itulah yang dapat disebut grip. Pemukiman di Amarasi Raya (pah nai’ rasi’) dibuatkan sedemikian yang dipadukan dengan penataan jalan desa (gang) serta jalan penghubung antardesa. Bukankah itu jasa? Bukalah peta pada masa satelit ini dengan menggunakan aplikasi google map.

Bila memetik buah kelapa pada kelapa yang pantas dipanjati seekor monyet, maka layak pula berkata, “Ini jasa seorang idelis pertanian tanaman perkebunan.” Dialah Veky Koroh. Bila masih ada pates (lamtoro) pada hari ini yang tersisa, itu diperintahkan untuk ditanam oleh sang tokoh. Menemukan gamel di seluruh Amarasi Raya dari Ma’rena’ sampai Fatu’sobe’ dari Noekaesmuti’ sampai Ponain, bukankah itu tanaman paling akhir yang dianjurkan untuk ditanam setelah lamtoro diserang hama kutu loncat. Siapa yang menganjurkan? VHR Koroh.

Bila hari ini jaringan listrik sampai ke desa-desa di Amarasi Raya secara mudah, siapa penganjurnya? VHR Koroh. Ketika itu desa-desa (kuan) di Amarasi Raya berada di lereng dan lembah. Ia membongkar dan menempatkannya ke tempat yang strategis. Alasannya paling kurang ada dua: pertama, supaya mudah transportasi, dan kedua, kelak kamu akan dilistriki. Kamu akan menekan tombol, lampu akan menyala. Ternyata kemudian, pada tahun 1990 Oekabiti dan Baun menikmati listrik. Dua tahun kemudian (1992) program Listrik Masuk Desa sehingga, walaupun ada “korban” dimana banyak pepohonan lintang-pukang ditebang tanpa ganti rugi, masyarakat Amarasi Raya “pasrah” karena telah mengetahui sebelumnya bahwa desa-desa akan dialiri listrik. Mulanya hanya 12 jam (malam) saja, dan kini sudah 24 jam walau sering padam.

Bila bertanya mengapa harus dipindahkan ke lokasi lain dan bukan tetap di tempat? Jawabannya, prediksi bahwa berdomisili di lereng dan lembah bahaya bencana selalu mengancam. Banyak kuan ketika dipindahkan ke lokasi sentralisasi desa, ternyata kemudian terjadi longsor. Po’on-po’on diguling tanah longsoran. Masyarakat mengeluh karena tanaman sumber pendapatan hilang tenggelam dalam longsoran. Tetapi, tidak ada korban jiwa manusia. Lalu, sesudah longsor berlalu mereka menanam di atas longsoran itu. Tanah itu gembur, subur. Tersenyumlah para petani.

Bila melihat sapi-sapi dengan tubuh tambun dan mengkilap, darimanakah datangnya? Oh, jika melewati pintu Oesao atau menembus pintu Oepura, maka dipastikan datang dari Amarasi Raya. Mengapa sapi-sapi itu tambun dan mengkilap bulu pada kulitnya? Pates, lamtoro dan pisang. Tiga jenis tanaman ini penyebabnya. Ketiganya adalah tanaman pakan ternak terbaik. Pakan ternak lainnya yang dianjurkan dan digalakkan adalah rumput gajah, king grass dan turi (gala-gala). Selain itu, ternak sapi tidak diperkenankan untuk dilepaskan. Sapi-sapi harus dikandangkan secara ketat. Ia dipelihara laksana ternak babi yang taunya makan-tidor. Dengan begitu, maka akan mengurangi gerak sehingga proteinnya bertimbun dan tambunlah sang sapi.

Kenangan panjang tiada berakhir. Tarian massal ketika bekerja siang, malam berdansa. Bagaimana lagi kalau harus bercerita tentang krira’ pada setiap tujuh belasan. Apa lagi ketika sang tokoh berada di Jakarta sebagai wakil rakyat. Adakah yang ditinggalkan sebagai nobef dan ‘niim baraf? Tentu saja ada.

Monumen VHR Koroh: aset daerah, kesejarahan dan objek wisata


Di Nusa Tenggara Timur, banyak sudah monumen dibangun. Paling tidak seperti di kota Kupang, ada Monumen: Sobe Sonba’i, Prof. W.Z. Johannes; El Tari, I. H. Doko, Trisula Timor (I.H. Doko, El Tari, H.R. Koroh) di Bundaran PU. Di Ende, ada patung Ir. Sukarno dan Mori Longa. Di Pulau Ndana-Rote, ada Monumen Jenderal Besar Sudirman. Begitu pula nama-nama jalan yang digunakan untuk mengenang jasa para martir. Jalan Tompelo, jalan Cakmalada, Jalan W. J. Lalamentik, Jalan El Tari, Jalan Frans Seda, Jalan H. A. Koroh(*), Jalan SK Lerik, dan lain-lain. Semua itu sesungguhnya mesti dapat dimaknai sebagai monumen aset di daerah provinsi ini, yang diletakkan di daerah otonom kota atau kabupaten.

Dapatkah kesemuanya itu diterima sebagai bernilai sejarah? Tentu saja jawaban atas pertanyaan itu adalah: Ya! Memang, belum semua tokoh yang disebutkan itu dianggap sebagai pahlawan. Tetapi, sepak-terjang mereka telah diakui sehingga disematkan pada nama jalan, dan dibangunkan monumen. Tiga nama besar telah menjadi pahlawan yang dikenang oleh NKRI. Prof. W. Z. Johannes, Ir. Herman Johannes, dan I. H. Doko. Ketiga putra terbaik Nusa Tenggara (Timur) ini telah diabadikan secara nasional sebagai pahlawan. Lainnya? Adakah nilai kepahlawanan pada mereka? Ada. Namun, tidak harus diakui secara nasional.

Jika demikian, VHR. Koroh dapat dianggap pahlawan, sekalipun itu hanya secara internal untuk masyarakat Amarasi Raya. Mengapa? Karena telah diurai sebelumnya. Nilai-nilai juang yang dimiliki dan etos kerja sang tokoh VHR Koroh sangat membekas bagai telapak kaki di tanah becek yang telah mengering, bagai tapak tangan di pipi sehabis tertampar. Membekas secara mendalam. Sakit tapi nikmat pada akhirnya.

Membangun monumen VHR Koroh di Amarasi Selatan dengan mengambil lokasi di halaman Kantor Camat Amarasi Selatan, suatu kebanggaan. Bangunan monumen itu akan dicatat sebagai aset pemerintah daerah kabupaten Kupang. Ia akan tercatat pula sebagai salah satu objek dan destinasi wisata berbasis sejarah di Kabupaten Kupang, yang disejajarkan dengan Sonaf Baun-Amarasi Barat, Sonaf Kau’niki-Fatule’u, Sonaf Oni’nama-Babau dan masih banyak yang lainnya. Butuh sentuhan artifisial sebagai bentuk keberpihakan pemerintah daerah ini. Dengan begitu, akan terjadi peningkatan derajat viralitas si objek dan destinasi.
Amarasi Selatan menawarkan pantai Teres pada masa ini. Pada masa yang akan datang Monumen VHR Koroh menjadi satu di antara objek dan destinasi itu.

Akhir Kata


VHR Koroh dalam ide dan semangat akan dipelihara dan dilestarikan. Hal ini nyata dari niat tulus masyarakat Amarasi Selatan untuk membangun monumen ini dan menulis biografinya. Keberhasilan membangun dan menulis biografi sang tokoh akan menjadi daya dukung yang memberi efek pada pembangunan masyarakat di Amarasi Raya. Maka, marilah bersama dalam proses ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan