Menggantung harap pada sang Asa

  • Whatsapp
ilustrasi, antara harapan, kenyataan, dan perasaan. rizkyindra.com

ilustrasi, antara harapan, kenyataan, dan perasaan. rizkyindra.com
ilustrasi, antara harapan, kenyataan, dan perasaan. rizkyindra.com
Alkisah, suatu ketika seorang gadis bergelar sarjana ekonomi beranjangsana ke desa Mamut. Ketika dia berangkat dari kota, ada sejumlah data dan informasi yang telah ia kantongi. Nama desa, potensi manusianya, potensi alamnya, budaya dan lain-lain. Seluruh data dan informasi yang dimiliki itu bersifat mentah, sehingga ia memutuskan untuk tiba di desa Mamut untuk mengumpulkan dan mengklarifikasi. Ia menggunakan prinsip check and recheck (cek dan cek ulang). Benar adanya. Ketika si gadis sarjana ekonomi tiba di desa Mamut, ia mendapati kehidupan masyarakatnya sungguh teramat nyaman. Hubungan kekerabatan yang teramat kental, kehidupan ekonomi yang serba pas-pas diselingi dengan keluhan yang wajar manusiawi.

Di desa Mamut masyarakatnya sudah terbiasa dengan bau dekil, karena mereka kekurangan air untuk membersihkan tubuh. Anggota masyarakat, terutama ibu-ibu dan anak-anak berkewajiban mengambil air untuk keperluan dapur dan cuci barang perlengkapan dapur. Kebutuhan mandi hanyalah kepada anak-anak di bawah lima tahun (balita). Anak-anak yang sudah bisa melakukan kewajiban mengambil air, harus mandi di tempat pengambilan air. Orang dewasa, mandi sehari sekali di tempat pengambilan air, atau setiap dua hari mandi sekali. Mencuci pakaian harus dilakukan di sumber-sumber air yang jauh agar jauh pula limbahnya terbuang.

Data seperti itu ditemukan oleh si gadis sarjana ekonomi tersebut. Dia melakukan interviu atau wawancara kesana-kemari tentang bagaimana masyarakat dapat bertahan hidup di tengah-tengah kondisi alam yang kelihatannya ramah tetapi menurutnya ada upaya pelenyapan insan dan makhluk hidup lainnya secara senyap. Beberapa tokoh menjawab pernyataan itu dengan mengatakan bahwa, alam bukan pembunuh. Alam harus ditaklukkan dengan memelihara dan memanfaatkannya. Ada tokoh yang menjawab dengan menggunakan ayat-ayat suci dari kitab suci yang dipelajarinya. Ayat itu mengatakan, manusia harus berkuasa atas alam. Manusia harus memelihara alam yang diberikan Tuhan, bahkan Tuhan sendiri telah memberi kuasa kepada manusia untuk bertindak dan bersikap secara adil dan bijaksana terhadap alam. Manalah mungkin alam menjadi predator sekalipun secara senyap.
Gadis sarjana ekonomi itu hanya manggut-manggut saja, sambil terus mencatat seluruh data dan informasi yang ia peroleh. Catatan itu disimpannya di dalam alat produksi teknologi informasi yang disebut laptop. Masyarakat terheran-heran melihat benda itu. Si sarjana ekonomi kembali ke kota. Di kota, ia mengolah data dan informasi yang diterima dan diambilnya. Hasil olahan data dan informasi ini kemudian dikompilasi dengan berbagai teori ekonomi yang ia ketahui. Pada dasarnya tidak ada teori ekonomi yang bertujuan menyengsarakan masyarakat. Oleh karena itu, ia berusaha sedapat-dapatnya mengetahui bentuk dan tindakan ekonomi serta lembaga yang tepat untuk ditempatkan di desa Mamut.

Beberapa waktu berselang ia kembali lagi ke desa Mamut. Pemimpin desa dan seluruh masyarakat berkumpul untuk mendengarkan pidato sang gadis sarjana ekonomi ini. Inti dari pidato itu adalah bahwa di desa Mamut akan didirikan satu lembaga non profit yang akan mengangkat harkat dan martabat manusia di desa ini. Potensi manusia, aman. Potensi alam, aman. Infrastuktur jalan, jembatan, pemukiman, pemakaman, aman. Kenyamanan dan kepastian hukum, aman. Lembaga pendidikan dan proses berpendidikan di dalamnya, aman. “Mereka dapat diatur agar mengikuti kemauanku”, begitu si sarjana ekonomi membatin.” Pemerintahan dan kondisi sosial-politik, stabil dan aman. Segala analisis dibeberkan kepada tokoh masyarakat desa Mamut sehingga seluruh pemangku kepentingan di desa tersebut merasa bahwa sesungguhnya nama desa itu tepat, teramat tepat, sungguh jitu. Satu-satunya barang yang dimiliki di desa Mamut dengan nilai jual yang teramat tinggi adalah asa. Asa dapat laris-manis jika ada lembaga yang memfasilitasinya. Maka, dibutuhkan networking atau jejaring kerja sama.

Lembaga itu pun berdiri. Namanya, Pusat Penjualan dan Pembelian Asa disingkat PPPA atau P3A yang katanya diterjemahkan dari Centre for Sale and Buying of Hope (CefSaBoHo). Melalui lembaga ini masyarakat dapat menyerahkan asa miliknya untuk dijual ke tempat lain, karena kualitas asa di desa Mamut teramat unggul. Seluruh masyarakat desa Mamut memiliki jenis barang yang disebut asa itu.

Para pemuda terdidik direkrut melalui seleksi yang teramat ketat. Syarat unggulannya adalah beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut top of the top manager yang memenej seluruh proses perekrutan, syarat utama ini bila dipenuhi, maka terpenuhilah syarat-syarat lain di bawahnya, seperti jujur, beretika, sopan, pekerja keras pantang menyerah, berkiat, berniat, dan lain-lain yang sifatnya immaterial (tidak dapat dilihat). Singkat cerita, mereka yang tersaring pun diterima. Mereka ditempatkan sebagai top manager, staf manager, public relation (pablik releizon), salesman (seilsmen), saleswoman (seilswomen), cattering (katering), dan cleaning service (klining servis). Ada pula yang bertindak sebagai tenaga part timer (part taimer) yang sifatnya ad-hoc (ed hok). Komplit sudah syarat.

Job description (jop deskripzion) dibuat dan didelegasikan kewenangan dan responsibility (responsibiliti). Penjelasan kepada masyarakat menggunakan bahasa yang luar biasa menghipnotis sehingga setiap orang hanya bisa manggut dan angguk tanda setuju. Masyarakat dan para tokohnya bagai dicucuk batang hidungnya. Mereka ditarik mengikuti alur jalan tol yang disiapkan tanpa hambatan. Nama Tuhan disebut-sebut berhubung masyarakat ta’at beragama. Nama Tuhan dipakai untuk menghantui warga jika mencoba membandel. . Keta’atan tanpa pamrih. Kesetiaan tanpa suara. Menunduk dan tak boleh menengadah untuk sekedar melihat wajah top manager. Yang boleh dilihat hanyalah petugas seperti cleaning service, sementara petugas cattering tidak dapat dilihat karena dikerangkeng di dalam wadah hitam pekat tersekat asap.

Kantor P3A/Cef SaBoHo pun dibangun. Bangunan pendukung dibangun. Ruang-ruang tersekat manis, indah, menawan. Yang dimaksud menawan disini adalah menjadikan ruang-ruang itu tempat menawan (menahan) asa yang akan datang untuk barteran. Asa-asa diinventarisir. Tiap anggota masyarakat dapat membawa asa miliknya untuk disimpan pada etalase yang telah disiapkan agar kelak dapat dibarter dengan asa bermakhotakan golden dari tempat lain.

Hari-hari berlanjut. Si gadis sarjana ekonomi itu telah menjadi penjual asa dari desa Mamut. Produk ini tidak ada di desa tetangga. Hanya ada satu jenis barang yang dijual dari desa Mamut yaitu asa yang nilai tukarnya teramat mahal. Barang lainnya yang dimiliki sebagai potensi silahkan dijual secara lokal untuk kepentingan konsumtif. Sedangkan asa harus dijual/dibarter dengan asa di tempat lain. Seluruh asa dibuatkan gambar contoh, selanjutnya ditempatkan sebagai prioritas dalam proposal penawarannya dengan penjelasan semanis mungkin. Maklum, si gadis sarjana ekonomi ini luar biasa menggunakan ilmu ekonominya khusus pada sisi managemen pemasaran, dengan icon advertising atau periklanan. Rupanya dia lulusan teramat baik, summa cum lauda (pujian berpuji-pujian/sempurna) dari kampusnya. Dia penemu asa di desa Mamut. Langka. Unik. Berharga.

Luar biasa. Sampel-sampel asa diterima oleh para calon pembeli yang justru datang dengan melintasi laut dan udara. Para calon pembeli tidak puas melihat sampel. Mereka menghabiskan uang, waktu dan tenaga untuk bisa melihat secara langsung jenis asa milik desa Mamut. Rombongan demi rombongan. Sekali waktu rombongan minim saja. Pada waktu yang lain rombongan mencapai maksimum orang yang di antaranya memboyong keluarga (suami, isteri, anak). Semua itu hanya untuk meyakinkan diri, bahwa jenis asa di desa Mamut benar-benar kualitasnya patut diperhitungkan sebelum dibarter dengan asa dari tempat mereka. Berkali-kali kedatangan para calon pembeli asa sungguh menyibukkan semua stakeholder di P3A/CefSaBoHo mulai dari top manager, staf manager, public relation, salesman, saleswoman, cattering, cleaning service bahkan yang part timer pun harus urung sibuk.

Si gadis sarjana ekonomi ini pun tersenyum simpul. Kesibukan dan keringat akan akan berkurang hingga cukup lembab-lembab saja di pipi. Bila berlembab di pipi akan berminyak, cukup memakai tisu basah, lenyaplah si peluh. Pada suatu saat nanti, kesibukan akan datar-datar saja, dan keringat yang berlembab pun tidak muncul berkali-kali, hanya kegerahan di ketiak saja sehingga tidak kelihatan orang, kecuali sisa-sisanya bila kelupaan untuk dicuci akan menguning seperti emas. Para pembeli sudah menaruh trust (trast/kepercayaan) hingga teramat trust padanya. Dia akan terus mengirim sampel-sampel asa berikutnya ke tempat-tempat dimana dugaan kuatnya ada order. Gadis ekonom ini hebat. Dia merancang penandatanganan memorandum of understanding (MoU) yang diterjemahkan menjadi nota berdiri di bawah, bukan nota kesepahaman.

Nota berdiri di bawah menjadikan masyarakat berdiri di bawah, gadis ekonom melintang di tengah, dan yang membubuhkan tanda tangan berdiri di atas. Gadis ekonom menjadi jembatan penyeberangan, menjadi pipa penyalur air bersih, yang menurut masyarakat di desa Mamut, si gadis itu seperti turu-‘saif yang mengalirkan asa barteran. Hebat. Semakin berjayalah si gadis ekonom itu mendapatkan julukan itu.

Para asa semakin laris-manis. Pembeli berdatangan atau cukup mendaftarkan nama secara on line (on lain) di web site (web sait) P3A/CefSeBoHo yang tersedia di wartel (warung telekomunikasi). Zaman sudah mengajarkan begitu. Orang tinggal menyentuh tuts-tuts keyboard (kibor) maka di layar monitor akan bermunculan segala hal di seluruh dunia. Semua itu bagaikan penawaran kemewahan dan kenyamanan dunia yang dilakukan om Lusifer kepada Yesus.

Yesus dan om Lusifer pernah duduk bercerita. Ketika Yesus lapar, om Lusifer menawarkan batu untuk dijadikan makanan. Yesus menolak. Ketika om Lusifer menyuguhkan kemewahan dan kekuasaan di dunia untuk menjadi milik Yesus, Ia menolak. Ketika om Lusifer membawa Yesus ke tempat yang tinggi dan diminta menjatuhkan diri, Yesus mengusir om Lusifer. Lalu para malaikat datang dan melayani Yesus. Yesus hidup bukan dari makanan saja. Yesus tidak silau akan kemewahan dan kekuasaan. Yesus dapat saja menggunakan kuasanya untuk menjatuhkan diri tetapi tidak jatuh. Tetapi, Yesus mau supaya om Lusifer mengetahui bahwa Tuhan Allah mengutus Yesus sebagai Manusia Tulen untuk memberikan harapan hidup di masa yang akan datang. Yesus memberikan kepastian hidup. Yesus mengantar asa, dengan menjadi korbannya. Lusifer pun malu, melarikan diri, menyembunyikan wajahnya dari Yesus untuk tidak lagi dapat melihat Yesus yang teramat mulia itu.

Turu-‘saif menikmati aliran asa. Masyarakat tidak menyadarinya. Turu-‘saif mengendarai mobil mewah berkunjung melihat asa-asa milik desa Mamut yang sudah dibarter asa dari tempat lain. Semua asa desa Mamut telah diberi cap (marak) milik orang lain. Anggota masyarakat sadar bahwa asa yang diserahkan telah diberi tanda seperti orang Timor memotong telinga sapi dan babi yang disebut hetis. Hetisnya orang Timor di desa Mamut sudah dua pada satu asa. Asa yang diberi hetis tidak boleh disentuh secara kasar. Harus. Harus. Harus dijaga, dipelihara, diberi nutrisi bergizi. Jangan dikasari asanya. Dilindungi seperti binatang dan tumbuhan langka yang terancam punah. Kampanye untuk semua itu tidak habis-habisnya.

Makanya, petugas cattering harus selalu sigap. Ketersediaan makanan bergizi menjadi kebutuhan tiada berakhir antara masa selama menjadi bagian dari kepemilikan orang-orang di tempat lain yang mengirim gambar diri mereka. Ikan, susu, sayur lenggang kangkung, telur, dan berbagai makanan harus diolah secara sehat di persekatan asap hitam. Petugas-petugas P3A harus selalu siap kalau-kalau ada asa bertanda hetis, sakit. Masyarakat mendapat hantu kedua yang tidak kalah seramnya. Mereka tetap manut-manut saja. Siapa yang dapat mengangkat wajah untuk menghalau gadis sarjana ekonomi itu? Tidak bisa.
Laris-manis si asa. Si gadis terus menjual asa. Masyarakat desa Mamut terhisap dalam hipnotis kemewahan dunia lain. Mereka tidak lagi percaya diri untuk membangun dan mengembangkan dirinya. Mereka bergantung pada asa dari tempat lain. Pernyataan yang memojokkan P3A akan ikut dibela secara mati-matian oleh masyarakat yang menyerahkan asa padanya. P3A mempunyai bemper yaitu para orang tua dan top of the top manager yang sungguh amat dipercayai.
P3A bersembunyi di ketiak mereka. Menunduk, tersenyum. Membalik badan, mencibir. Mengulur tangan untuk berjabatan tangan. Mengepal tinju tanda gemas. Memasukkan tangan ke saku celana untuk merogoh kocek, belum sempat tagal terlihat oleh mata Tuhan. Mungkin lain waktu, Tuhan akan berpaling sehingga kesempatan itu akan dipakai. Mengangkat tangan tinggi pertanda memberi salam selamat jalan. Pulanglah kamu agar kami bisa merentangkan tangan menari-nari tanda gembira. Menari-narikan jemari di papan tuts laptop sambil berkomentar, semoga asa-asa berikutnya menghadirkan asa berbutiran berlian. Ya. Menjual asa menjadi profesi gadis jebolan fakultas ekonomi, jurusan managemen pemasaran. Ia berhasil. Berhasil dalam studi, berhasil dalam menstupidkan, namonob masyarakat.

Mobil yang ditumpanginya pasti tetap mulus. Sementara masyarakat beralaskan ketebalan hae-‘teri’ tagal sepasang sandal yang harganya sama dengan 2 ekor ikan yang dimasak petugas cattering di P3A tidak dapat dibeli oleh mereka. Pemandangan biasa-biasa saja, karena mereka sudah mamut sesuai nama desanya. Mereka sudah biasa hidup dengan kondisi itu. Mereka, masyarakat fatalis yang mudah dikibuli akan futurisme. Biarlah futurisme menjadi angan-angan, karena hari ini adalah fakta yang factual; nyata terlihat, wujud teraba. Mereka boleh menggapai asanya sendiri kelak jika sudah diindoktrin dengan karakter keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pembuktian ada. Karakter itu muncul ketika para pemangku kepentingan P3A gontokan mencari posisi lebih dan plus. Berkembanglah gosip bahwa semua itu adalah cara-cara yang halal berdasarkan keimanan dan ketaqwaan yang diajarkan di dalam P3A. Siapa yang dapat mencungkil gadis manis sarjana ekonomi yang telah mencengkeram desa Mamut? Si gadis tidak dapat dipacari apalagi dilamar untuk dikawini. Si gadis benar-benar cantik, rambutnya sudah diberi sentuhan lain aliran listrik bertenaga ion sehingga sudah lurus-mulus. Padahal, sebelumnya sisir yang dipakai haruslah yang berjarak-jarak dan berjarang-jarang tonefnya. Kulitnya yang dulu terasa kasar, kini kelihatan licin mengkilat seperti sapi paron terkandangkan, atau babi pedaging yang harus dipelihara dengan pakan yang khas. Tampilannya jauh berbeda. Bila pada awalnya ia mudah bergaul, kini ia menjaga jarak pergaulan. Bila pada mulanya sopan tutur katanya, kini agak kaku dan menjaga wibawa.

Kini, tercenganglah sudah pemangkut adat, pemangku agama, pemangku masyarakat. Para atitus-apao kuan, atukus-aneun too, mafefa’ hingga koro-manu, rakyat dan masyarakat mulut terkatup. Diam seribu bahsa. Diam. Ikuti saja program dan rencana jangka panjang sang Sarjana Ekonomi jebolan fakultas ekonomi memegang remote control. Ia menjadikan P3A sebagai suami tercintanya. Anak-anaknya adalah para asa persembahan masyarakat.

Masyarakat bergejolak di hati…, teduhkan. Bara membara di otak…, padamkan. Jantung berdetak kencang …, slow sajalah. Bimbang …, perteguh. Kecewa… tersenyumlah. Nikmati hari-hari yang datang dan pergi sebagaimana ketika si gadis sarjana ekonomi belum tiba.

Ooooh… .

By : Heronimus Bani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan