Manek, Maneleo dalam Bayang-Bayang Politik Praktis

sumber foto: situs Humas DPRD Kab. Rote-Ndao
sumber foto: nttone.com Masyarakat Serubeba dan para maneleo
sumber foto: nttone.com
Masyarakat Serubeba dan para maneleo

Pengantar
Manek, Maneleo, dua istilah yang tidak asing bagi telinga masyarakat Rote-Ndao, dua pulau kecil di wilayah terselatan Indonesia. Manek, diterjemahkan sebagai raja, dan Maneleo diterjemahkan sebagai kepala suku. Jadi, dua istilah ini ada hubungannya dengan jabatan dalam pemerintahan adat pada masa sebelum NKRI terbentuk. Di samping Manek dan Maneloe terdapat pula sejumlah jabatan dengan istilah yang khas masyarakat Rote-Ndao seperti Mana songgo, Mane Dombe dan Mane Dae Langgak. Pada mereka terdapat hubungan yang sifatnya koordinatif dengan Manek. Antara Manek dan Manelo terdapat hubungan komando yang struktural (Paul Haning, 2013).

Manek dan Maneleo Jabatan Pemimpin Informal
Manek dan Maneleo masih terasa ada sampai dengan saat ini. Sayangnya peran dan fungsi manek sudah tidak nampak sekalipun secara fungsional. Paling nampak akhir-akhir ini adalah ketika Bupati Rot-Ndao, Drs. Leonard Haning, MM. Ia menghidupkan maneleo sebagai salah satu stakeholder dalam pembangunan di kabuapten terselatan NKRI ini. Sang Bupati bahkan menciptakan satu model yang kelihatannya sentralistik yaitu adanya Maneleo Ina Huk ~ maneleo utama, maneleo kehormatan.

Read More

Berikut kabar-kabarnya. Bupati Rote Ndao, Drs.Leonard Haning,M.M, Selasa, 7 Juni 2011, pukul 09.00 Wita dikukuhkan menjadi Maneleo Ina Huk atau Maneleo Kehormatan Kabupaten Rote Ndao. Pengukuhan ini dilakukan oleh Sesepuh Tokoh Adat Rote Ndao, Soleman Zacharias di alun-alaun kantor bupati Rote Ndao. Pengukuhan bupati sebagai maneleo ina huk ini dilakukan kepada Bupati Lens Haning karena dalam kapasitas sebagai bupati Rote Ndao yang adalah pembina masyarakat adat di kabupaten Rote Ndao. Pengukuhan ini juga demi memenuhi syarat agar bupati Rote Ndao dapat mengukuhkan Badan Pengurus Forum Komunikasi Tokoh Adat Peduli Budaya Kabupaten Rote Ndao dan kecamatan Se-Kabupaten Rote Ndao pada moment yang bersamaan (Majalah Online Rote-Ndao).

… selain sebagai maneleo Ina Huk, dirinya sebagai Bupati juga membutuhkan keterlibatan maneleo dalam mendukung kegiatan pelayanan kemasyarakatan. Dengan kaloborasi dengan budaya akan menjadi sebuah kekuatan untuk membawa rote lebih baik lagi. demi untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan serta kesejahteraan bersama maka perlu dimulai dengan memperkuat simpul-simpul tali soliditas dan penyatuan komitmen diantara anak leo (metrotimor.com).

sumber foto: situs Humas DPRD Kab. Rote-Ndao
sumber foto: situs Humas DPRD Kab. Rote-Ndao

Paul A. Haning (guru, penulis pemerhati masalah kebudayaan orang Rote-Ndao) mempunyai beberapa buku yang telah beredar namun, tidak terdapat istilah Maneleo Ina Huk. Maneleo Ina Huk diciptakan yang dapat diterjemahkan sebagai upaya merapatkan organisasi para maneleo yang didirikan secara informal dan berperan secara fungsional.

Jodian A. Suki menulis dalam blog Kompasiana tentang Budaya Politik Pembangunan Masyarakat Rote Ndao Peran Maneleo Dalam Upaya Percepatan Pembangunan SDM Di Rote Ndao Maneleo adalah sebutan kehormatan yang dapat diandalkan di tengah-tengah kelompok masyarakat Rote Ndao. Kelebihan Maneleo mengutip D.S.Ch. Manafe dalam tulisannya, “Organisasi Sosial Ekonomi Orang Rote” pada Rote Ndao Pos Edisi 32/Thn I/Oktober 2002 h.9 ) bahwa maneleo adalah orang yang dituakan dan dianggap mampu memimpin serta mengatur kepentingan para anggota maupun rumpun marga/famili yang ada dalam leo tersebut. Seorang maneleo bertanggung jawab untuk mengatur kewajiban para anggota yang berkaitan dengan siklus kehidupan (kelahiran, perkawinan, kematian bahkan setiap persoalan yang dihadapi anggota Leo. Seorang Maneleo mempunyai kemampuan dan kewajiban untuk mendorong dan mempengaruhi masyarakat yang tergabung dalam organisasi yang dipimpinnya untuk melakukan sesuatu dalam bidang pembangunan. Sikap pengabdian seorang Maneleo secara total mesti diberikan kepada anggotanya. Maneleo adalah pemimpin informal yang berada di masyarakat. Pemimpin informal yang melayani persoalan maupun kebutuhan orang lain dengan kasih. Karena itu seorang Maneleo tidak bisa membatasi pelayanannya sebatas pada duit masuk kantong tetapi juga bagaimana menyejahterakan anggota Leo dan masyarakat lainnya.

Memperhatikan tulisan Manafe yang dikutip Suki, sekalipun jabatan maneleo dianggap sekedar jabatan informal, namun peranannya amat diperhitungkan di samping jabatan formal lembaga kemasyarakatan seperti ketua RT dan Ketua RW. Humas DPRD Kabupaten Rote-Ndao melalui situs resminya menyatakan bahwa Lens Haning melibatkan tokoh agama dan para maneleo dalam pengawasan terhadap kinerja pejabat.

Sekedar perbandingan pemimpin informal etnis Timor (walaupun ada keragamannya). Ada istilah amnasit; tetapi masih ada usif-usif yang secara informal diakui di tengah-tengah masyarakat adat Timor. Dalam banyak hal para usif dan amnasit memiliki peran yang dapat menutup atau dapat saja mengabaikan jabatan formal di desa (kepala desa, kepala dusun, para ketua RT dan ketua RW). Kabupaten Kupang melembagakannya dalam Lembaga Adat secara berjenjang dari Kabupaten, Kecamatan hingga Desa/Lurah.

Pada etnis Ende dan Lio terdapat mosalaki. Mereka juga memainkan peran dalam hal siklus kehidupan. Pada masyarakat adat Sabu/Hawu terdapat mone ama. Masih banyak lagi jabatan informal di tengah-tengah masyarakat pada beragam etnis di Nusa Tenggara Timur yang seringkali menjadi media/jembatan dari pemerintah daerah dalam melayani masyarakat.

Maneleo dan para pejabat informal berpolitik praktis?
Menengok, melirik, dan melongok ke tengah-tengah masyarakat pedalaman, apakah para maneleo dan pemangku jabatan informal pada beragam etnis tidak memainkan peran dalam politik praktis? Jawabannya berupa pertanyaan kembali, dari kaca mata mana? Tengok saja para kandidat atau yang digadang-gadang akan dikandidatkan menjadi pejabat publik (bupati, walikota gubernur). Para pemangku jabatan informal di dalam masyarakat yang dicari. Para bakal calon atau calon hingga calon tetap (katanya) tidak ingin menunggangi para kepala desa, lurah, camat. Mereka lebih suka bertemu dengan tokoh. Di dalam masyarakat yang disebut tokoh itu adalah pemimpin-pemimpin informal. Maka, di Rote-Ndao tentulah para maneleo.

Menyongsong masa akhir tugas (jabatan) bupati Rote-Ndao, para maneleo berbondong-bondong dari leo-leo bersama-sama melamar Paulina Haning-Bullu (istri sang bupati Lens Haning) untuk dibakalcalonkan menjadi calon bupati penerus Lentera (NTTONE.com). Ini sudah fakta. Artinya, para maneleo sebagai pemimpin informal secara sadar berpolitik praktis. Tentu saja tidak ada pasal dan ayat aturan yang melarang mereka. Maka, tidak salah juga mereka melamar (bacanya: memohon kesediaan ibu Haning) untuk dibakalcalonkan kelak.

Pertanyaannya, apakah murni kemauan sendiri? Tidak adakah “tangan setan” mendalangi? Dimana posisi maneleo ina huk ketika para maneleo mendatangi rumah pribadinya? Inilah politik praktis. Beritantt.com mencatat bahwa berbagai elemen masyarakat dari hampir seluruh Kabupaten Rote Ndao terus berdatangan ke kediaman Ny. Paulina Haning untuk meminta kesediaan Ny. Paulina agar dapat maju dalam pesta Demokrasi Lima Tahunan tersebut.

Penutup
Pemimpin informal di tengah-tengah masyarakat seperti maneleo, amnasit, mosalaki, dan lain-lain patut mendapat tempat untuk menjaga kelestarian budaya. Merekalah yang secara fungsional mengingatkan pentingnya melakukan ritus tertentu, sikap dan tindakan tertentu agar hubungan timbal-balik manusia-alam dan manusia-kuasa yang lebih tinggi terjaga dengan baik. Mereka yang paham politik praktis pasti tidak ingin terjebak ke sana sehingga fungsi mereka tetap sebagai pelindung masyarakat, bukan penunjuk jalan satu-satunya ke dalam arena politik praktis.

By : Heronimus Bani

Related posts

Leave a Reply

2 comments