(Entah bisa menjawab rasa penasaran Pembaca? (3))

  • Whatsapp
salah satu tahap dari proses kerja tenun ikat oleh perajin tenun ikat

COBA BEKIN SIAP-SIAP

Heronimus Bani

Desember 2015, kami keluarga UBB berkumpul di Lasiana. Dalam nuansa canda bersahabat, kami membaca alkitab dalam bahasa Kupang, beberapa orang memberi pendapat, menyanyi dan berdoa. Ada permainan yang mengajak anak-anak keluarga UBB untuk saling mengenal dan bersahabat, serta anak-anak tetangga. Semuanya bergembira menyambut Natal 2015. Saat itu saya menyerahkan dua tulisan pendek tentang persiapan meminang. Saya menyebutkannya dengan versi 1 dan versi 2. Saya beritahukan pada kedua orang tua Ucu, dan menitipkan 2 tulisan yang disatukan dalam satu cetakan kecil/buram via kakak Ucu, Ben.

Bacaan Lainnya

Saya menawarkan dua versi maso minta. Pertama, yang khas dan isinya Amarasi Raya, diselingi gaya Kupang. Kedua, benar-benar cara Kupang, isinya Amarasi Raya. Menurut kedua orang tua, mereka akan menyampaikannya pada Ucu.

Pebruari 2017, orang tua Ucu ke Nekmese’. Kami membicarakan hal-hal yang bersifat tradisi Amarasi, khususnya maso minta agar tuntas perkawinan menurut adat. Mengapa? Karena keluarga pihak gadis menganggap, mereka yang “bule” tidak mempunyai hukum adat dalam hal mengurus perkawinan. Selanjutnya, keluarga saya diminta kesediaan untuk membantu mempersiapkan pakaian yang khas Amarasi Raya.

Kami menyanggupinya. Sejak Pebruari 2017 itu kami mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan pakaian tradisional masyarakat Amarasi Raya. Semula kami memilik kai bo’ (motif dengan gambar besar) untuk keseluruhannya. Saya memilih kaif yang satu ini dengan alasan: biasanya bulan Oktober di GMIT ada bulan keluarga. Pada bulan itu banyak keluarga baru dibentuk (dibangun). Memang filosofi kai bo’ bukan itu, karena sesungguhnya seluruh motif berkaitan dengan kepercayaan dan image masyarakat Amarasi Raya pada masa lampau terhadap “kekuasaan” yang lebih tinggi di atasnya, yang dihubungkan dengan siklus bertani pada lahan kering (peladang berpindah).

Pada masa lampau, setiap bulan Oktober peladang akan membakar hasil jemuran dari yang sudah ditebas. Ketika para lelaki membakar ladang, para perempuan yang tinggal di rumah mengukir motif itu pada lungsinan benang. Hasilnya nampak sangat indah. Mereka menyebutnya kai bo’, (harfiah, sepuluh sudut).

Ketika saya menawarkan motif ini kepada para perajin, mereka tidak sanggup menyiapkan hasil tenunan itu dalam waktu singkat. Mereka butuh waktu yang lama (6 – 12 bulan). Hal ini disebabkan mereka harus memilih benang yang berkualitas, pembolaan benang, pelintasan pada perangkat alat tenun pertama untuk menggambar dengan cara ikat, Selanjutnya pewarnaan yang tepat dan berkualitas, dan menenun. Bila hanya selembar, mungkin ada kesanggupan, tetapi sepasang untuk pengantin, ditambah aksesorinya, maka dibutuhkan waktu. Apalagi bukan hanya untuk pengantin. Kebutuhan pakaian tradisional (tais) cukup banyak dengan beragam motif.

salah satu tahap dari proses kerja tenun ikat oleh perajin tenun ikat

Akhirnya, kami komunikasikan dengan orang tua Ucu. Kami sampaikan “keluhan” para perajin tenun ikat. Selanjutnya mereka menyetujui untuk menenun tais dengan motif yang sesuai kecakapan dan kecepatan menyelesaikannya. Beberapa ibu perajin tenun ikat di desa Nekmese’ kami pilih. Ada yang mengikat (futus), kai ne’e. Ada panbua-ana’, koor kase. Khusus untuk pengantin, ada yang menyanggupi kai fanu’. Saya meminta pula untuk dibuatkan nafe dengan motif paus kenat. Semua itu kami kerjakan dalam tim yang saya bentuk secara tidak disadari oleh para perajin.

Mei – Juni 2017 kami mulai mencicil pengiriman hasil tenunan. Seluruhnya berjumlah 40 helai, termasuk yang disiapkan khusus untuk pengantin adat (tai-muti’,  po’uk, dan nafe; tai-runat, puo’uk). Hal yang tidak dapat kami penuhi, diusahakan oleh orang tua Ucu. (sampai di sini dulu ko??)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan