WOLOGAI: “Kampung Tua Yang Mempesona”

  • Whatsapp
Seorang wisatawan lokal foto bersama bapak Aloysius Leta, tokoh adat dan seniman lokal dengan back ground rumah penyimpanan benda – benda peninggalan leluhur dan tempat dilakukan upacara adat.

Seorang wisatawan lokal foto bersama bapak  Aloysius Leta, tokoh adat dan seniman lokal dengan back ground rumah penyimpanan benda – benda peninggalan leluhur dan tempat dilakukan upacara adat.
Seorang wisatawan lokal foto bersama bapak Aloysius Leta, tokoh adat dan seniman lokal dengan back ground rumah penyimpanan benda – benda peninggalan leluhur dan tempat dilakukan upacara adat.
Ende-infontt.com,- Kampung adat Wologai termasuk kampung tua yang masih memegang teguh adat dan tradisi leluhur yang hingga kini menjadi tatanan hidup masyarakat setempat. Kampung adat yang sudah ada sekitar 800 tahun yang lalu ini masih menyimpan suasana mistik yang penuh dengan misteri karena dari bangunan – bangunan megalitikum yang ada di sekeliling tempat upacara adat masih tertata baik sejak leluhur kampung ini menempatinya.
Hal ini disampaikan oleh salah satu tokoh masyarakat adat desa Wologai, Aloysius Leta (65) ketika di temui Infontt.com di kediamannya yang berada di kawasan ritual adat.
“ Kampung kami merupakan salah satu kampung adat tertua di Lio yangmana didirikan oleh leluhur kami sekitar 800 tahun yang lalu. Semua benda – benda adat warisan leluhur yang ada disini tetap kami jaga dan kami pelihara keasliannya.” katanya.
Aloysius yang menempati salah satu rumah adat peninggalan itu menuturkan bahwa bangunan rumah adat bersama ukiran yang ada di rumah masing – masing suku itu sama seperti bangunan dan ukiran yang telah diturunkan leluhur mereka dari masa ke masa . Demikian juga batu – batu ceper yang merupakan kuburan para leluhur sudah ada sekitar 20 generasi dan tidak boleh digeser atau dipindahkan oleh siapapun.
“ Bangunan rumah – rumah adat ini ditempati oleh masing – masing marga suku Lio yang ada di kampung ini. Dan juga batu ceper kuburan – kuburan leluhur yang sudah ada sekitar 20 generasi itu tidak boleh dipindahkan siapa pun” tuturnya lagi.
Saat ditanya jumlah pengunjung rata –rata per hari datang berkunjung, Theresia Mbu seorang guide lokal yang juga seorang guru mengungkapkan bahwa kehadiran pengunjung yang datang setiap hari tidaklah mesti. Mungkin karena kurang adanya promosi sehingga banyak orang yang belum mengetahui kampung adat Wologai namun pada saat pesta adat pengunjung lokal maupun mancanegara meningkat drastis.
“Pengunjung yang datang kesini tidak mesti banyak tetapi dalam sehari pasti ada yang berkunjung. Mungkin karena promosi kami kurang gencar sehingga para pengunjung belum tahu kampung ini. Namun pada saat pesta adat berlangsung pengunjung baik wisatawan asing maupun lokal meningkat drastis” ungkapnya.
Ukiran dari Kayu
Sembari melihat bangunan – bangunan rumah adat yang tradisional di sini kita juga melihat beberapa ukiran patung dari kayu hasil karya pemahat lokal bapak Aloysius Leta (65) yang juga tokoh adat setempat. Tak terhitung lagi hasil karyanya dibeli oleh wisatawan lokal maupun manca yang berkunjung kesana dan membeli patung – patungnya sebagai ole – ole untuk dibawa ke negaranya.
Saat Infontt.com datang, pak Aloysius tengah membuat ukiran kayunya dan langsung menyapa dengan senyum khas dan logat Lio yang sangat kental.
“ Mari ke sini dan lihat – lihat hasil karya tangan bapak. Yang tertarik dan berminat silahkan beli sebagai ole – ole dari kampung adat Wologai” katanya sambil menjelaskan arti dari setiap patung hasil karyanya.
Dirinya menjelaskan kalau dia bisa memahat patung – patung itu tanpa belajar dari oranglain. Dia belajar secara otodidak sejak dirinya berusia 27 tahun dengan mendapat ilham dari Tuhan dan leluhur untuk pembuatan patungnya.
“ Saya mendapat ilham dari Tuhan dan leluhur untuk memahat patung ini. Saya tidak pernah belajar ke orang atau diajarkan oleh orang lain bagaimana caraa membuatnya tetapi semua itu berlangsung secara otodidak” jelas ketua seksi seni budaya sanggar Nua Puu Pu Lepembusu ini.(welano)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan