Tanggul Proyek Rehabilitasi Irigasi D.I. Tilong Jebol, Petani Naben Tasipa Minta Ingat Kesepakatan

  • Whatsapp
Nampak tanggul proyek Rehabilitasi Bendungan dan Jaringan Irigasi D.I. Tilong jebol.

Kupang-InfoNTT.com,- Sebagian petani di Kecamatan Kupang Tengah dan Kupang Timur, khususnya di 3 desa, yakni Desa Oelpuah, Tanah Putih dan Oefafi akan mengalami gagal panen pasca bencana seroja yang melanda wilayah tersebut pada 4 April lalu.

Gerson Loinati, salah satu petani sawah dari Desa Tanah Putih kepada media ini, Selasa (20/4/2021) menjelaskan bahwa areal persawahan seluas 200 hektare yang ada di wilayah tersebut akan mengalami gagal panen lantaran jebolnya bendungan Naben Tasipa yang sementara dibangun.

“Luas sawah milik petani di Naben Tasipa kurang lebih 200 hektar persawahan yang terdampak penyebolan bendungan tersebut. Sehingga kami petani dari Oelpuah, Tanah Putih dan Oefafi akan mengalami gagal panen karena bendungan Naben Tasipa telah jebol,” ungkapnya.

Menurut Gerson, bendungan ini terletak di Kupang Timur tepatnya di Desa Oefafi. Bendungan ini juga sudah mulai dikerjakan pada 18 Februari 2021 dengan nilai anggaran mencapai 26 milyar rupiah. Proses pekerjaan ini masuk dalam progres Rehabilitasi Bendung dan Jaringan Irigasi D.I. Tilong di Kabupaten Kupang (Premium Bendungan Tilong).

“Tanggul jebol dan masyarakat jadi korban. Kami harap alat berat yang ada di lokasi tersebut bisa dipakai untuk membuat normalisasi. Selain itu, sudah ada kesepakatan sebelum dimulai pekerjaan bahwa sawah masyarakat juga harus diperhatikan agar tidak ada petani yang susah. Buktinya belum ada penanganan serius baik dari instansi terkait, maupun dari perusahan yang melakukan aktivitas di lokasi proyek tersebut,” jelasnya.

Gerson juga mengakui bahwa ada juga bantuan 2 unit mesin pompa air yang dikhususkan untuk membantu petani sawah. Namun jarak yang harus ditempuh untuk mengairi sawah-sawah tersebut sejauh 2 kilometer lebih. Artinya kemungkinan besar air tidak bisa sampai ke lokasi persawahan.

Dirinya berharap kontraktor bisa memfungsikan alat berat yang ada di lokasi proyek untuk mungkin membantu petani membuat normalisasi air, sehingga air bisa mengairi areal persawahan masyarakat.

“Masyarakat yang kerja sawah di area situ bisa lapar PAD tahun 2021 ini, karena hampir 50 persen sawah sudah rusak. Maka itu saya minta alat berat untuk membantu memperbaiki bendungan yang jebol supaya air bisa masuk ke sawah,” ujar Gerson.

Hal lain yang harus sama-sama dilihat dan diikuti menurut Gerson, adalah kesepakatan bersama antara masyarakat, kontraktor dan juga Balai Sungai Nusa Tenggara II, bahwa proyek tersebut akan berjalan, namun harus tetap memperhatikan kesejahteraan rakyat, yang mana para pihak sekalian masyarakat, harus mengupayakan agar air masuk ke areal persawahan dan aktivitas para petani sawah tidak terhenti.

Diketahui bersama bahwa proyek yang berada di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang tersebut bersumber dari APBN, dan dikelola oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II, Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Pemamfaatan Air Nusa Tenggara II Provinsi NTT, Irigasi dan Rawah I.

Proyek ini dikerjakan oleh PT. Bangun Konstruksi Persada dengan anggaran Rp. 26.799.836.891,48. Proyek akan dikerjakan selama 300 hari kerja terhitung mulai 18 Februari 2021.

Laporan: Chris Bani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan