Secangkir Kopi Bersama Marthen Dira Tome

  • Whatsapp

Malam itu adalah malam purnama di Kabupaten Sabu Raijua. Saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 wita ketika Tabloid Seputar NTT bertamu ke Rumah Jabatan Bupati Sabu Raijua. Cahaya bulan menimpa bayangan deretan pohon Lontar yang berdiri kaku di bagian timur rumah, menambah dramatisnya suasana malam. Dari teras di sisi timur rumah, sesekali pengendara sepeda motor melintas memecah kesunyian.

Saat itu hanya saya dan Bupati yang duduk berbincang. Kami memilih beranda (teras) bagian timur sebagai tempat ngobrol sambil menikmati paras purnama di pulau sejuta lontar ini. Berbagai topik pembicaraan, mulai dari berbagai pembangunan di Sabu Raijua menjadi diskusi hangat kami malam itu. Mulai dari Tiga Pabrik yang sementara dibangun yakni pabrik rumput laut, air mineral dan pabrik garam yang kini sudah berproduksi.

Bacaan Lainnya

Penghuni rumah jabatan Bupati sudah tidur semuanya, karena malam telah marayap mencapai titik waktu di pukul 23:00 wita. Jalan sudah sepi dan hanya saya dan bupati yang masih hangat berdiskusi seakan tak mau melepas malam berjalan sendiri. Namun tanpa saya duga, tiba-tiba Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome bangun menuju meja makan. Dia mengambil dua buah cangkir lalu menyeduh Kopi untuk kami berdua.

Saya terkejut karena baru kali ini saya menyeruput kopi buatan tangan seorang kepala daerah. “Ayo minum biar tidak ngatuk,” kata Ma Tade sapaan akrab Marthen Dira Tome. Sambil tersipu, saya lalu meneguk pelan kopi buatan sang bupati. Kami pun terus berdiskusi semakin dalam tentang apa saja yang sudah dibuat oleh pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, selama 50 purnama, Marthen Dira Tome dan Nikodemus Rihi Heke memimpin Kabupaten Sabu Raijua.

“Segala daya upaya telah kami lakukan untuk membangun daerah ini sekalipun dalam berbagai keterbatasan. sebagai pemimpin yang meletakkan dasar maka kami harus bekerja keras sekalipun harus diterpa berbagai tantangan baik yang datang dari luar maupun dari dalam masyarakat Sabu Raijua sendiri,” ujarnya.

Marthen lalu menjelaskan tentang tiga program pokok yang mereka lakukan yakni percepatan pembangunan Ekonomi masyarakat, percepatan pembangunan pendidikan, dan percepatan pembangunan kesehatan masyarakat dan program penunjang yaitu pembangunan infra struktur. Pembangunan Ekonomi dengan pendekatan amphibi melejit dengan pesat “Tak bisa dilaut maka di darat dan sebaliknya, Laut digerakan Darat diurus”, Katanya.

Pembukaan dan pengolahan lahan pertanian baru dengan menggunakan traktor dan hand traktor, pembagian benih dan pupuk, bantuan motor air dan selang, semuanya diberikan secara cuma-cuma. Hal ini dilakukan untuk mendorong terjadinya usaha tani pada musim kemarau, seperti jagung, bawang serta horti kultura dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi pengangguran semusim, produksi pangan meningkat luar biasa seperti padi, jagung, bawang merah dan komoditi lainnya.

Marthen juga memaparkan tentang pembangunan tambak garam sekaligus pengolahan garam Yodium tahun 2015 yang mencapai 121 hektar. Tambak garam ini akan menyerap tenaga kerja ribuan orang. Pendirian pabrik air kemasan dan pabrik rumput laut diwilayah Sabu Timur. Pengolahan dan pengemasan gula lontar menjadi gula air, gula semut dan gula lempeng dalam kemasan yang layak pasar, pengolahan minyak kayu putih.

“Kami juga melakukan pengembangan pakan ternak dan dan member bantuan seribu ekor sapi betina dan inseminasi buatan bagi masyarakat. Tidak hanya itu, ada juga bantuan kambing etawah dan ayam super harko” katanya.

Percepatan pembangunan pendidikan

Pada awal kepemimpinan Ma Tade dan Ma Balla, situasi bidang pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua sangat carut-marut. Pada tahun pertama tingkat kelulusan pendidikan di Sabu Raijua berada pada peringkat 21 dari 21 kabupaten kota. Berangkat dari kondisi tersebut, pada tahun kedua ( tahun 2011 ) pemerintah melakukan pembenahan di bidang pendidikan yaitu dengan melakukan Bedah SKL ( Standar Kompetensi Lulusan ) dan Penyelenggaraan Center MIPA tingkat SD, SMP dan SMA selama 6 bulan lamanya, dengan mendatangkan Nara sumber Dr. Keba Moto bersama tim dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru agar para guru mampu mempersiapkan anak didiknya dalam mengikuti ujian nasional dan mampu bersaing di bidang Sains dan Teknologi.

Disamping itu, UU Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 tentang tenaga pengajar harus berpendidikan Sarjana juga menjadi alas an pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru di Sabu Raijua. Dan upaya pemerintah pun berbuah manis dimana pada tahun 2013 tingkat kelulusan pendidikan di kabupaten Sabu Raijua mengalami peningkatan yang membanggakan dengan mendapat peringkat pertama dengan nilai tertinggi untuk NTT.

Terobosan pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Kabupaten Sabu Raijua berikutnya adalah mendirikan Akademi Komunitas Sabu Raijua (AKSARA ) dimana pada tahun 2014 pemerintah mendapat ijin pendirian dari Dikti dengan membuka 3 jurusan yaitu Jurusan Pertanian ( lahan kering & pengolahan hasil ) , Jurusan Perikanan ( budidaya rumput laut dan perikanan ) dan Jurusan Pengolahan Hasil Bumi. Dengan berbagai upaya pemerintah untuk memajukan dunia pendidikan di Sabu Raijua ini diharapkan dapat melahirkan generasi-generasi penerus yang cerdas, kreatif, inovatif, dan bijaksana.

“Bagi kami masyarakat yang sejahtera adalah masyarakat yang mandiri dibidang pangan dan tidak lagi merasa takut oleh hantu rawan pangan. Maka jangan heran ketika puncak musim kemarau orang sbau raijua panen dimana-mana, panen jagung panen bawang dan panen berbagai hasil bumi yang mereka tanam saat musim kering mencengkram pulau Sabu. Bicara soal kebun rakyat mandiri adalah bicara tentang mimpi yang menjadi nyata dimana ditengah tanah yang tandus dan gersang yang mampu menghasilkan pangan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Malam semakin larut dan rembulan yang malam itu paripurna dalam purnama telah condong kearah barat. Ayam telah berkokok dan kami harus menyudahi perbincangan di beranda timur saat purnama menjemput fajar di Kota Para Dewa, Sabu Raijua. (joey rihi ga)

Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome
Bupati Sabu Raijua, Marthen Dira Tome

Pos terkait

Tinggalkan Balasan