Opini || Mayana Runesi: Teknologi Semakin Canggih, Literasi Jadi Basi

  • Whatsapp
Mayana Runesi
Mayana Runesi

InfoNTT.com,- Peran Pembaca;
Lyndon B. Johnson, Presiden Ke-36 Amerika Serikat dalam sebuah kutipan menegaskan “Kunci utama dari semua permasalahan yang dihadapi negara-negara didunia terletak pada satu kata yaitu PENDIDIKAN”. Hal serupa juga ditegaskan Tony Blair, Perdana Menteri Inggris bahwa Ia mempunyai tiga tugas utama sebagai perdana menteri yakni, PENDIDIKAN, PENDIDIKAN dan PENDIDIKAN. Mengacu pada pandangan pemimpin negara-negara maju tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan memiliki peran yang amat penting dalam keberhasilan suatu negara.

Jika pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam keberhasilan suatu negara, bagaimana mengembangkannya agar tercipta suatu negara yang maju dan berhasil? Mengutip tulisan Dr. Roger Ferr bahwa membaca merupakan jantungnya pendidikan, tanpa membaca pendidikan akan mati. Dapat juga dilihat bahwa membaca sangatlah berperan penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan karena semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Sebab, ketika membaca seseorang dapat memperoleh pengetahuan lebih dari yang didengar atau dilihat sehingga menjadi batu loncatan bagi keberhasilan disekolah maupun kehidupan kelak dimasyarakat.

Bacaan Lainnya

Minat membaca di Indonesia menelaah kembali keadaan era ini, masyarakat Indonesia terkhususnya pelaku pendidikan menjadikan membaca sebagai kebutuhan urutan kesekian atau bahkan bukanlah kebutuhan sama sekali. Teknologi era ini menghantar pelaku pendidikan pada kenyamanan menemukan informasi dengan tepat dalam waktu amat singkat dan membuat mereka malas menyelami berlembar-lembar buku hanya untuk menemukan satu informasi yang dibutuhkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang disampaikan Satria Dharma melalui Gerakan Indonesia Membaca-Menulis 2015 lalu, dijaman modern ini sembilan puluh persen siswa Indonesia hanya mengandalkan hidupnya dengan melihat dan mendengar saja tanpa membaca! Hal tersebut didukung dengan penelitian bertajuk MOST LITTERED NATION IN THE WORD yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada maret 2016 lalu yang menempatkan Indonesia pada urutan ke-60 dari 61 negara yang diteliti. Keberadaan Indonesia persis dibawah Thailand dan diatas Botswana, Padahal dari segi infrastruktur pendukung, minat membaca Indonesia bahkan melampaui negara-negara Eropa.

Seakan belum cukup rendahnya minat baca Indonesia kembali dipertegas UNESCO, dimana minat membaca Indonesia dipersentasikan hanya mencapai 0,001% atau dari setiap seribu orang hanya ada satu orang yang benar-benar memiliki minat membaca.

Melihat minimnya minat membaca di Indonesia, kemudian timbul pertanyaan seperti oleh salah satu sastrawan Indonesia Taufik Ismail : mengapa orang Indonesia sedikit, sangat sedikit, luar biasa sedikit yang membaca buku? Pertanyaan ini agaknya menjadi pukulan bagi masyarakat Indonesia, sebab bukannya tak berdasar pertanyaan itu dilontarkan, Taufik Ismail sendiri melakukan penelitian ke-13 negara di Asia antara Juli-Oktober 1997 mengenai kewajiban membaca buku, tersedianya buku wajib baca diperpustakaan sekolah dan bimbingan menulis dan didapati bahwa Siswa Indonesia menempati urutan ke-13 dari 13 negara dengan kewajiban membaca nol judul buku.

Faktor Penghambat Minat Membaca

Mengapa Orang Indonesia sedikit, sangat sedikit, luar biasa sedikit yang membaca buku? Tentulah terdapat faktor yang dapat menghambat tumbuhnya minat baca di Indonesia. Faktor tersebut antara lain:

• Banyaknya hiburan TV dan permainan di rumah atau di luar rumah yang membuat perhatian anak atau orang dewasa untuk menjauhi buku. Sebenarnya dengan berkembangnya teknologi internet akan membawa dampak terhadap peningkatan minat baca masyarakat kita, karena internet merupakan sarana visual yang dapat disinosimkan dengan sumber informasi yang lebih baru/terkini, tetapi hal ini disikapi lain karena yang dicari di internet kebanyakan berupa visual yang kurang tepat bagi konsumsi anak-anak.

• Banyaknya tempat-tempat hiburan seperti taman rekreasi, karaoke, mall, supermarket dan lain-lain yang menjadikan anak-anak lebih senang menghabiskan waktu disana daripada diperpustakaan.

• Budaya baca masih belum diwariskan oleh nenek moyang kita, hal ini terlihat dari kebiasaan ibu-ibu yang sering mendongeng kepada putra-putrinya sebelum anaknya tidur dan ini hanya diaplikasikan secara verbal atau lisan saja dan tidak dibiasakan mencapai pengetahuan melalui bacaan.

• Para ibu disibukan dengan berbagai kegiatan di rumah atau di kantor serta membantu mencari tambahan nafkah untuk keluarga, sehingga waktu untuk membaca sangat minim.

• Buku dirasakan oleh masyarakat umum sangat mahal dan begitu juga jumlah perpustakaan masih sedikit dibanding dengan jumlah penduduk yang ada dan kadang-kadang letaknya jauh.

• Kebiasaan yang ditanamkan kepada anak-anak bukanlah dengan mencari tahu, anak-anak dibiasakan dengan cara serba cepat dan serba mudah sehingga ketika seseorang ingin mencari suatu informasi lewat membaca terlebih dahulu dirasakannya terlalu lama atau berat.
Upaya Peningkatan Minat Membaca
Menyadari kesenjangan antara pentingnya membaca dan rendahnya minat membaca, maka perlu diupayakan beberapa hal yang dapat membantu menumbuhkan minat membaca, terutama dikalangan pendidikan. upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam membantu meningkatkan minat membaca antara lain:

• Menumbuhkan budaya membaca. Hal tersebut tidaklah dapat serta-merta dilakukan. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam hal ini. Orang tua dapat mengajarkan anak membaca, setelah itu bantulah anak untuk menjadikan membaca sebagai suatu kebiasaan yang kemudian membentuk karakter. Dari karakter inilah kemudian anak dapat menjadikan membaca sebagai budaya (Baswedan, 2016).

• Membangun motivasi minat membaca. Meningkatkan minat membaca harus dimulai dengan menemukan motivasi diri dalam membaca. Ketika motivasi tersebut terus ada maka keinginan untuk membaca pun dapat terus ada.

• Menyisihkan waktu yang tepat untuk membaca. Ketika membaca dilakukan pada waktu yang tepat, maka pembaca dapat memahami benar apa yang dibaca sehingga yang dibaca tersebut benar-benar bermanfaat.

• Buku sebagai makanan. Buku perlu dipersepsi sebagai makanan –tepatnya “makanan ruhani”. Membaca adalah “memakan” makanan ruhani yang bergizi secara perlahan untuk merasakan “kelezatan” buku tersebut. Dalam mempersepsi buku sebagai makanan ini, seorang pembaca kemudian dapat memperlakukan buku dan deretan teks lain yang ingin dibaca sebagai sesuatu yang dapat dicicipi terus-menerus. (Hasyim, 2015).

• Memfungsikan membaca sebagai kewajiban. Membaca perlu disadari sebagai jantung pendidikan yang dapat membuat pendidikan terus hidup, sehingga membaca menjadi satu hal yang sangat penting peranannya dalam pembelajaran.

Oleh: Mayana Runesi (Mahasiswi semester 2, Jurusan Pendidikan Giografi, Fakultas FKIP Undana)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan