LESSON STUDY SEBAGAI MODEL PENGEMBANGAN PROFESI GURU DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN

  • Whatsapp
Naranto M. Malay

 

Bacaan Lainnya

Oleh:
Narantoputrayadi Makan Malay, S.Pd., M.Hum
STAF DOSEN FKIP PRODI PEND.BAHASA INDONESIA UNIVERSITAS NUSA CENDANA

A. Pendahuluan
Di dalam proses pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat penting. Hal ini dikarenakan guru yang membuat segala kebijakan di dalam kelas termasuk perencanaan bagaimana cara mengimplementasikan kurikulum. Dalam kaitan ini Anderson & Mitchener (1994) mengatakan bahwa pengetahuan, pengalaman dan paradigma guru tentang pembelajaran akan sangat mempengaruhi apa yang terjadi di dalam kelas. Dengan demikian cara siswa tergantung pada kemampuan guru mengajar. Peran guru adalah membantu siswa dalam mengkonstruksi konsep secara tepat, mampu menggunakan ketrampilan proses, dapat mengembangkan sikap positif terhadap pembelajaran dan dapat merespon ide-ide siswa yang kurang akurat. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk berfikir, mengalokasikan waktu, menciptakan setting belajar, menyediakan peralatan, mengidentifikasi sumber belajar, menilai kemajuan siswa dan membantu siswa dalam menilai diri sendiri.
Menurut Glenn (2000: 14) kemampuan mengajar yang berkualitas bukanlah bakat yang dibawa sejak lahir, tetapi kemampuan itu dapat dipelajari dan disempurnakan secara terus menerus. Ketrampilan mengajar khusus, misalnya kemampuan untuk membedakan antara apa yang paling penting dipelajari oleh siswa atau apa yang paling sulit dipahami siswa, hanya dapat diperoleh melalui pelatihan, konsultasi, kolaborasi dan praktek langsung. Selain itu, kualitas mengajar yang baik juga menuntut guru untuk menguasai materi bidang studi dengan baik pula. Hal ini berarti bahwa guru dituntut untuk selalu belajar dan berupaya terus menerus meningkatkan pemahaman bidang studi serta kualitas mengajarnya agar dapat membimbing belajar siswa dengan baik. Bahkan Anderson & Helms (2001) mengatakan bahwa proses belajar yang dilakukan guru merupakan unsur kunci dalam reformasi pendidikan. Agar mengajar berkualitas dapat tercapai, maka pihak-pihak yang terkait seperti stakeholder haruslah mendukung dan mengkondisikannya secara berkelanjutan. Misalnya melalui pengembangan profesi, memberikan kesempatan untuk melanjutkan studi, menggunakan teknologi secara efektif, memberi pengakuan dan penghargaan bagi guru yang berprestasi .
Pengembangan profesi guru merupakan suatu proses pendidikan yang terencana, kolaboratif dan berkelanjutan yang bertujuan untuk membantu guru dalam (1) memperdalam materi bidang studi; (2) mengasah ketrampilan mengajar di kelas; (3) menghasilkan dan menyumbang pengetahuan baru terhadap profesi; (4) meningkatkan kemampuan memonitor belajar siswa, sehingga mereka dapat memberikan umpan balik yang konstruktif pada siswa dan membantu mengarahkan mengajarnya sendiri (5) melanjutkan studi dalam bidang ilmunya dan pendidikan pada umumnya (Glenn, 2000: 18). Ada berbagai cara untuk membantu guru dalam pengembangan profesi seperti disebutkan di atas, salah satunya adalah dengan lesson study.
Lesson Study merupakan program pengembangan profesi guru yang dalam prosesnya para guru berkolaborasi untuk membuat rencana pembelajaran (PLAN), mengimplementasikan dan mengamati pembelajaran tersebut di kelas agar diperoleh data tentang proses dan hasil belajar siswa (DO), serta menggunakan hasil pengamatannya untuk memperbaiki pembelajaran (SEE). Namun kadang- kadang pembuatan rencana pembelajaran dilakukan oleh seorang guru, tapi yang penting di sini adalah adanya kolaborasi dalam implementasi dan refleksinya. Dalam kegiatan Lesson Study, para guru terlibat dalam pengujian secara sistematis tentang praktek-praktek pembelajaran di kelas agar kegiatan belajar mengajar menjadi lebih efektif. Dengan demikian lesson study melibatkan guru agar belajar yang lebih mendalam tentang praktek pembelajaran yang pada akhirnya menuju pada peningkatan kualitas hasil belajar siswa.
Pada awalnya Lesson Study di kembangkan di Jepang, namun dewasa ini mulai berkembang di beberapa wilayah di Amerika, Australia maupun Eropa. Lesson study di Jepang telah dilakukan sejak akhir perang dunia ke 2, yang pada mulanya merupakan gerakan massa guru yang mencoba mengganti pendekatan mengajar ceramah dengan pendekatan belajar yang berpusat pada siswa dan menekankan pada problem solving. Lesson study berpotensi untuk meningkatkan pembelajaran karena dalam prosesnya para guru bekerja secara kolaboratif dalam pembuatan perencanaan pengajaran secara rinci, mengadakan pengamatan pembelajaran di kelas, serta melakukan diskusi dan refleksi. (Beauchamp and Zoller, 2002). Sebagai salah satu cara pengembangan profesi keguruan dalam rangka meningkatkan kualitas para guru, lesson study dapat dilaksanakan di negara kita. Oleh karena itu, agar penerapannya dapat efektif, maka guru perlu mengenal dan tahu cara mengimplementasikan lesson study. Dalam makalah ini akan dibahas tentang kharakteristik pengembangan profesi keguruan yang berkualitas, proses mengimplementasikan lesson study, dan potensi lesson study untuk meningkatkan pembelajaran.

B. Bagaimanakah Kharakteristik Pengembangan Profesi Guru yang Berkualitas?
Tidak ada satupun pendekatan “one size fit for all” untuk pengembangan profesi guru yang efektif. Perbedaan-perbedaan dalam kondisi administrasi sekolah, guru, siswa dan sarana prasarana secara unik mempengaruhi proses pengembangan profesi dan juga mempengaruhi ciri-ciri keefektifan pengembangan profesi (Guskey, 2003). Agar supaya pengembangan profesi dapat efektif, maka kegiatan pengembangan profesi harus didesain, diimplementasikan, dan dievaluasi untuk memenuhi kebutuhan guru dalam setting tertentu (Guskey, 1995). Menurut Guskey (2003), ada beberapa kharakteristik pengembangan profesi guru yang sangat berkualitas yang didasarkan pada hail-hasil penelitian dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Oleh karena itu, pengembangan profesi guru selain harus didesain, diimplementasikan dan dievaluasi sesuai dengan kebutuhan guru, juga harus mencerminkan kharakteristik pengembangan yang berkualitas.
Beberapa kharakteristik pengembangan profesi guru yang berkualitas yang paling sering disebutkan dalam literatur adalah sebagai berikut (dalam Kedzior and Fifield, 2004):
1. Berpusat pada materi pelajaran. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman dan ketrampilan guru dalam pembelajaran berhubungan langsung dengan seberapa besar pengalaman pengembangan profesi menekankan pada pengayaan materi pelajaran. Berpusat pada materi pelajaran juga mencakup pertimbangan tentang pengetahuan awal siswa yang terkait dengan materi pelajaran dan strategi guru dalam melibatkan siswa secara aktif untuk memperoleh pengetahuan baru.
2. Diperluas. Pengalaman yang diperluas dalam pengembangan profesi guru, tidak hanya sekali pertemuan misalnya, akan memudahkan guru dalam mendalami meteri pelajaran yang lebih substansial, kesempatan untuk melakukan pembelajaran aktif lebih banyak, dan dapat mengembangkan hubungan yang relevan dengan tugas guru sehari-hari.
3. Kolaboratif. Menurut King & Newmann ( 2000 ), guru benar-benar belajar ketika mereka berkolaborasi dengan teman sejawat, baik di dalam maupun di luar sekolah, dan ketika mereka banyak memperoleh informasi dari peneliti dari luar sekolah.
4. Bagian dari tugas sehari-hari. Pengembangan profesi seharusnya lebih diutamakan berbasis sekolah dan dikaitkan langsung dengan tugas mengajar guru sehari-hari.
5. Berkelanjutan (ongoing). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan profesi sebaiknya berkelanjutan, tidak episodik, dan dilakukan follow-up serta dukungan untuk belajar lebih lanjut (Association for Supervision and Curriculum Development, 2003).
6. Koheren dan terintegrasi. Pengembangan profesi seharusnya terkait dengan pengalaman yang konsisten dengan tujuan guru, sejalan dengan standar kurikulum, asesmen, dan inisiatif reformasi lainnya; dan diinformasikan oleh bukti-bukti penelitian terbaik yang ada (Guskey, 2003).
7. Berbasis inkuiri. Pengembangan profesi guru seharusnya mendorong inkuiri terus menerus dan refleksi melalui pembelajaran aktif.
8. Kebutuhan guru. Pengembangan profesi guru seharusnya merespon kebutuhan dan minat yang diidentifikasi sendiri oleh guru untuk mendukung peningkatan individu dan sekolah. Pengembangan profesi lebih bermakna bagi guru jika mereka menggunakan materi dan proses milik mereka sendiri (King & Newmann, 2000).
9. Didasarkan pada kinerja siswa. Performans siswa seharusnya digunakan sebagai landasan untuk pengembangan prefesi guru (Guskey, 2003)
10. Evaluasi diri. Pengembangan profesi guru harus mencakup evaluasi diri guru agar dapat mempertimbangkan kegiatan pengembangan profesi guru berkelanjutan (Guskey, 2003).
Ada banyak model pengembangan profesi yang mengaitkan beberapa kharakteristik kualitas pengembangan profesi di atas. Namun ada kecenderungan terutama di negara-negara Barat untuk meninggalkan model workshop “sit and get” dalam topik-topik umum menuju usaha yang diprakarsai oleh guru untuk mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan-permasalahan yang berakar dari tugas mereka sehari-hari. Lesson study merupakan salah satu contoh dari model pengembangan profesi yang menggabungkan beberapa kharakteristik kualitas yang telah disebutkan di atas.

C. Bagaimanakah Cara Mengimplementasikan Lesson Study?
Pelaksanaan Lesson Study merupakan proses yang mencakup banyak langkah dimana guru-guru bekerja sama dalam suatu tim untuk mempelajari, dan membuat rencana pembelajaran (PLAN). Selanjutnya salah seorang guru dari tim tersebut mengajar di depan kelas sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun, sedangkan anggota tim lain melakukan pengamatan secara rinci proses pembelajaran yang terjadi (DO). Setelah kegiatan pembelajaran selesai, semua anggota tim bertemu untuk mendiskusikan hasil pengamatan (refleksi) dan membuat pertimbangan bagaimana meningkatkan kualiatas pembelajaran yang telah dilakukan (SEE). Rencana pembelajaran yang telah diperbaiki berdasarkan hasil refleksi dapat diterapkan lagi pada kelompok siswa yang lain jika diinginkan dan dilakukan kembali proses pengamatan, kolaborasi dan analisis serta revisi pembelajaran kembali. (Fernandez and Chokshi, 2002; Watanabe, 2002). Lewis ( 2002a; 2002b) mengelompokkan langkah-langkah dalam lesson study menjadi sebuah siklus yang terdiri dari 4 langkah yaitu: (a) perencanaan dan penetapan tujuan, (b) melaksanakan research lesson (pengamatan mendalam di kelas), (c) melaksanakan diskusi hasil pengamatan, dan (d) konsolidasi belajar. Selanjutnya, Takahashi, dkk (2004) menyarankan bahwa agar lesson study seperti yang dinyatakan Lewis dapat dilaksanakan secara efektif maka guru harus belajar melakukan analisis/kajian materi pembelajaran (kyozaikenkyu) dengan cermat dan trampil.
Dalam konteks lesson study, Kyozaikenkyu yang efektif akan membantu guru dalam:
• Menentukan dengan jelas tujuan pembelajaran
• Meningkatkan pengetahuan guru terhadap materi pelajaran (konsep, lingkup dan urutan materi)
• Mengembangkan rasional untuk melakukan research lesson.
• Merencanakan research lesson secara tepat dengan menggunakan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai.
• Memberikan pengalaman belajar yang lebih kaya pada siswa dengan cara: (a) menyediakan pertanyaan-pertanyaan yang telah dipertimbangkan untuk mendorong pemikiran siswa yang dalam, (b) mempertimbangkan berbagai ide dan miskonsepsi yang dimiliki siswa, ( c) memfasilitasi diskusi siswa dan mengarahkankannya pada pemahaman yang lebih dalam.
• Mengevaluasi research lesson dengan kritis dan memperoleh pengalaman belajar yang maksimal.
• Mentrasfer pikiran kritis tentang hubungan materi pelajaran dan perangkat pembelajaran kedalam perencanaan pembelajaran sehari-hari.
Berikut ini diuraikan langkah-langkah Lesson Study yang lebih rinci menurut siklus Lewis ( 2002a; 2002b) dan proses kyozaikenkyu yang disarankan oleh Takahashi, dkk (2004).
1. Merencanakan dan Menetapkan Tujuan
Langkah pertama ini meliputi pembentukan tim perencana, melakukan analisis/kajian materi pembelajaran (kyozaikenkyu) dan membuat rencana pembelajaran secara kolaboratif untuk merealisasikan tujuan -tujuan belajar ke dalam research lesson.
a. Membentuk Tim Perencana Lesson Study
Kegiatan Lesson study diawali dengan membentuk tim lesson study. Tim ini biasanya terdiri dari 3 sampai 6 orang guru yang berminat untuk bekerja sama meningkatkan pembelajaran mereka. Anggota tim pada umumnya berasal dari bidang studi yang sama. Namun dapat juga berasal dari peserta yang berminat dengan bidang studi tersebut walaupun tidak mengajarkan materi pelajaran yang sedang dikembangkan. Tugas tim adalah mengembangkan rencana pembelajaran yang terperinci untuk direalisasikan dalam research lesson.

B. Melakukan analisis/kajian materi pembelajaran ( kyozaikenkyu)
Kyozaikenkyu (baca “kyo-zy-‘ken-kyuu”) merupakan sebuah proses dimana guru-guru mengkaji semua aspek materi dan perangkat pembelajaran ( Takahashi dkk, 2004). Materi yang dikaji mencakup isi kurikulum, tujuan pembelajaran, rencana pembelajaran, peralatan, buku pelajaran, buku pegangan guru, laporan open house lesson study dan ide-ide yang diperoleh dari pengamatan selama research lesson. Selain itu, kyozaikenkyu mencakup analisis pengetahuan awal siswa, pengalaman belajar, dan pemahaman yang memungkinkan guru untuk bisa mengantisipasi reaksi dan pemecahan terhadap masalah yang dipelajari siswa selama pelajaran berlangsung. Secara garis besar kyozaikenkyu terdiri dari dua fase yaitu 1) kajian materi pelajaran dan 2) kajian perangkat pembelajaran.
1) Kajian Materi Pelajaran
Meningkatkan pemahaman guru terhadap materi bidang studi merupakan tujuan lesson study dan kyozaikenkyu dapat membantu menggali materi lebih dalam. Ada tiga hal utama yang dianalisis dalam fase ini yaitu: (i) materi pelajaran , ruang lingkup dan urutannya; (ii) status pemahaman siswa saat ini dan (iii) tujuan dan hasil belajar yang diharapkan.

(i) Materi Pelajaran , Ruang Lingkup dan Urutannya
Memahami topik pelajaran dan kesesuaian topik menurut lingkup dan urutannya merupakan langkah awal dalam kyozaikenkyu. Timm harus menyediakan waktu untuk memahami materi pelajaran, kharakteristik topik yang mereka pilih dan mengapa mereka mengajarkan topik tersebut dengan cara tertentu. Untuk memulai kyozaikenkyu tim dapat mengkaji standar kompetensi, buku pelajaran, manual guru yang biasanya digunakan untuk merencanakan pelajaran. Guru perlu mengkaji dan memahami bagaimana buku pelajaran menginterpretasikan standar kompetensi dan bagaimana buku itu membantu siswa membangun pengetahuan dan ketrampilan. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa didiskusikan misalnya:
• Konsep-konsep apa yang akan diajarkan dalam pokok bahasan ini?
• Konsep mana yang akan menjadi fokus untuk research lesson ?
• Apa artinya konsep ini?
• Kapan konsep ini akan diajarkan? Apa alasan untuk mengajarkan konsep ini pada poko bahasan tertentu)
• Konsep apa yang telah dipelajari siswa yang dapat digunakan sebagai landasan untuk memahami konsep ini?
• Ide baru apakah yang diharapkan akan dibangun siswa dengan menggunakan konsep ini dimasa mendatang?
Salah satu tujuan kyozaikenkyu adalah mentransformasikan ruang lingkup pelajaran dan urutan penyajiannya kedalam bentuk flow chart yang menggambarkan hubungan antara berbagai topik pelajaran dan menekankan salingketerkaitannya. Tentu saja mengembangkan flow chart bukanlah akhir proses ini. Akan tetapi, tim lesson study harus mencoba menyatakan hubungan antara berbagai topik secermat mungkin. Menganalisa materi pelajaran, lingkup dan urutannya akan membantu guru untuk merencanakan pelajaran yang lebih koheren dan berfikir maju dalam konteks keseluruhan pokok bahasan, bidang studi dan kurikulum.

(ii) Status Pemahaman Siswa Saat Ini
Memahami pengetahuan awal siswa atau status pemahaman siswa secara konkrit yang terkait dengan topik pelajaran yang akan digunakan dalam research lesson merupakan langkah berikutnya dalam kyozaikenkyu. Pertanyaan yang perlu dipertimbangkan adalah:
• Pengetahuan awal atau pengalaman belajar apakah yang diperlukan siswa untuk mencapai tujuan?
• Kemungkinan miskonsepsi apa yang pada umumnya dimiliki siswa tentang topik ini?
• Bagaimana kemungkinan respon siswa ketika dihadapkan dengan pertanyaan atau permasalahan tertentu?
• Apa yang dapat dipelajari dari berbagai respon siswa?
Sangatlah penting bagi guru untuk memiliki pemahaman yang baik tentang pemahaman yang dimiliki siswa karena guru bisa lebih memahami materi pelajaran itu sendiri. Selanjutnya, pengetahuan materi yang lebih baik tersebut dapat memunculkan lebih banyak ide-ide tentang apa yang dipelajari siswa. Dari pengetahuan tentang materi pelajaran dan pengetahuan tentang pemahaman siswa tersebut guru dapat membuat asumsi tentang rute belajar siswa yang berbeda yang bisa diikuti. Pemahaman akan rute belajar ini membantu guru meningkatkan kemampuannya dalam mengamati dan memahami bagaimana siswa berfikir, belajar dan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari selama research lesson
Pada saat tertentu dalam proses ini, sementara pengetahuan guru bertambah dan diskusi ide-ide berkembang, sangatlah penting untuk mulai mempersempit fokus research lesson sehingga guru dapat mengidentifikasi tujuan konkrit dan hasil belajar yang diharapkan. Ada perkataan orang Jepang: “untuk mengajarkan satu, anda harus belajar sepuluh”. Konsekuensi penting perkataan ini adalah “ketika anda belajar sepuluh, maka anda perlu memilih dan memfokuskan satu”. Ketika pemahaman guru tentang materi pelajaran meningkat, maka guru perlu memusatkan hanya pada konsep yang paling penting untuk siswa, sehingga tidak kehilangan perhatian pada tujuan khusus pelajaran.

(iii) tujuan dan hasil belajar yang diharapkan
Setelah mempelajari materi pelajaran dan urutannya serta mengidentifikasi status pemahaman siswa, langkah berikutnya dari kyozaikenkyu adalah menetapkan pemahaman yang jelas terhadap tujuan dan outcome yang diharapkan dari research lesson dan juga dari pokok bahasan secara keseluruhan. Tujuan dapat diidentifikasi dengan cara menempatkan pemahaman siswa saat ini dalam lingkup dan urutan materi pelajaran. Guru mungkin bertanya, ” Apa yang akan kami ajarkan? Apakah hasil yang diharapkan dalam membelajaran ini? Dengan mengidentifikasi tujuan secara jelas dan eksplisit yang sejalan dengan status pemahaman siswa, tim lesson study kemudian dapat menggunakannya untuk tujuan evaluasi. Menilai pemahaman dan belajar siswa jauh lebih akurat jika tujuan dan hasil belajar yang diharapkan sudah dinyatakan dengan jelas. Pelajaran biasanya memiliki beberapa tujuan yaitu tujuan khusus topik pelajaran (misalnya, memahami proses mitosis dan meiosis) dan tujuan untuk bidang studi atau tujuan jangka panjang dan biasanya lebih ditekankan pada kemampuan intelektual, kebiasaan berfikir dan kualitas diri individu. Misalnya, Pelajaran Biologi yang meningkatkan pemahaman siswa tentang mitosis juga bertujuan untuk mengembangkan penalaran ilmiah siswa atau menumbuhkan rasa ingin tahu siswa tentang fenomena Biologi. Untuk mendapatkan hasil belajar yang maksimal dari proses lesson study, maka tujuan jangka panjang yang lebih luas dan tujuan khusus pelajaran harus dipertimbangkan. Contoh: dalam pelajaran “Menyelidiki kharakteristik gas” tujuan pelajaran dapat dinyatakan sebagai berikut:
• Siswa dapat membuat gas dari bahan-bahan yang akrab dalam lingkungannya sehari-hari dan menyelidiki kharakteristiknya.
• Siswa dapat memperlakukan gas dengan aman dan menggunakan pengetahuannya tentang gas dalam kehidupan sehari-hari.
• Siswa dapat mengembangkan minat terhadap pelajaran ini dan menguasai ketrampilan proses dasar melalui pelajaran in.
• Siswa dapat belajar dan bekerja sama secara kooperatif dalam kelompoknya.
2) Kajian perangkat pembelajaran
Jika tim lesson study telah menyatakan pemahaman yang baik tentang materi pelajaran, urutan materi dan pemahaman status pengetahuan siswa, maka fase kedua kyozaikenkyu adalah mempertimbangkan perangkat pembelajaran untuk menyajikan materi pembelajaran dengan efektif. Fase ini diakhiri dengan membuat rencana pembelajaran.

(i) Perangkat pembelajaran
Mengkaji perangkat pembelajaran merupakan fase kedua dalam kyozaikenkyu. Langkah ini meliputi menganalisa, memilih, dan memodifikasi tugas-tugas belajar atau aktifitas pembelajaran yang potensial untuk digunakan, atau bahkan mengembangkan tugas-tugas baru. Untuk mengawali kegiatan ini, tim dapat menganalisa tugas atau aktifitas dalam buku pelajaran yang terkait dengan topik pelajaran sebagai bahan pertimbangan. Tim perlu mengkaji apakah aktifitas atau tugas-tugas dalam buku pelajaran, ditinjau dari sudut siswa sebagai pebelajar, dapat mendorong belajar siswa? Apakah aktifitas tersebut memerlukan tambahan kegiatan untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan? Proses ini menantang guru untuk mencari keterkaitan antar konsep dan mencari sumber-sumber belajar yang lain jika tugas dalam buku pelajaran tersebut kurang memadai dalam memfasilitasi belajar siswa. Biasanya kehadiran seorang ahli dalam materi bidang studi sekaligus berpengalaman dalam lesson study diperlukan di sini terutama saat-saat mengawali kegiatan lesson study. Dengan bantuan ahli ini, tim dalam mengkaji perangkat pembelajaran akan mengarahkan kepada pertanyaan-pertanyaan seperti:
• Apakah tugas atau aktifitas ini bermanfaat dalam membantu siswa memahami konsep yang akan kita ajarkan?
• Pengetahuan dan ketrampilan apakah yang akan dikembangkan siswa melalui permasalahan atau aktifitas ini? Apa peran kita dalam aktifitas ini dalam membantu mereka mencapai tujuan belajar?
• Bagaimana seharusnya kita menyajikan informasi ini secara visual (misalnya, di papan tulis, kertas grafik, dll) sehingga dapat membantu pemahaman siswa?

(ii) Menulis rencana pembelajaran
Tahap akhir dari proses pengkajian adalah membuat rencana pembelajaran untuk digunakan pada saat research lesson. Membuat rencana pembelajaran untuk kegiatan lesson study merupakan tujuan kyozaikenkyu. Rencana pembelajaran menjabarkan tujuan dan hasil belajar yang diharapkan, rasional, langkah-langkah kegiatan pembelajaran, antisipasi respon siswa, proses asesmen. Menuliskan rencana pembelajaran merupakan aktifitas penting karena mencatat apa yang telah dipelajari oleh tim melalui kyozaikenkyu dan mendokumentasikan dengan jelas ide-ide tim yang telah diusulkan. Rencana pembelajaran yang dikembangkan oleh tim guru biasanya memberikan informasi yang cukup rinci kepada peserta lesson study, seperti: mengapa tim memutuskan menggunakan permasalahan dan aktifitas tertentu bagi siswa; mengapa tim menggunakan pilihan kata tertentu untuk pertanyaan-pertanyaan kunci yang akan diajukan pada siswa. Informasi tentang pelajaran meliputi (a) apa yang harus dipelajari siswa dalam pelajaran ini (menurut standar/kurikulum); (b) apa yang telah dipelajari siswa sebelumnya; (c) apa yang menjadi fokus/tema pelajaran atau pokok bahasan ini (dengan membandingkan (a) dan (b), tujuan pelajaran harus dinyatakan dengan jelas); (d) bagaimana siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.
Merencanakan sebuah research lesson merupakan kegiatan yang sedikit berbeda dengan merencanakan kegiatan pembelajaran biasa. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan beberapa pertanyaan pokok yang membantu dalam perencanaan yaitu:
1. Pengetahuan/konsep awal apakah yang dimiliki siswa saat ini tentang topik yang akan diajarkan?
2. Pengetahuan/konsep apa yang kita harapkan akan dikuasai siswa setelah berakhirnya pelajaran (atau pokok bahasan ini)?
3. Bagaimanakah langkah-langkah pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan?
4. Proses berfikir yang bagaimana yang akan digunakan siswa agar mereka dapat memahami topik ini berdasarkan pengetahuan awalnya?
5. Apa yang akan membuat pelajaran ini memotivasi dan bermakna bagi siswa?
6. Bukti-bukti apakah yang akan kita kumpulkan dari pelajaran ini agar membantu kita merefleksikan tujuan belajar dan tujuan jangka panjang (perkembangan siswa)? Misalnya, data apa yang harus dikumpulkan mengenai belajar, motivasi, dan tingkah laku siswa; bagaimana format yang diperlukan untuk mengumpulkan data itu; dan siapa yang diberi tanggung jawab untuk setiap format tersebut?

2. Melaksanakan research lesson dan mengumpulkan bukti-bukti belajar
Research lesson adalah sebuah proses pembelajaran di kelas dimana seorang anggota tim mengajar di kelas dengan menggunakan rencana pembelajaran yang telah dikembangkan secara kolaboratif dan anggota tim yang lain mengamati dan mengumpulkan bukti-bukti tentang belajar, apa yang difikirkan siswa dan keterlibatan mental siswa. Pengamat yang berasal dari luar tim atau luar sekolah bisa diundang untuk mengamati pembelajaran di kelas tersebut. Dalam perencanaan sebelumnya, tim memikirkan bagaimana cara mengumpulkan data yang dapat membantu mereka mengetahui sejauh mana tercapainya tujuan belajar. Tim juga mengembangkan protokol pengamatan berdasarkan prediksinya terhadap respon siswa dan memutuskan jenis bukti yang akan dikumpulkan dari siswa. Sebelum kelas dimulai, kepada siswa diinformasikan tentang adanya research lesson dan pengamat yang akan berada di dalam kelas serta menjelaskan apa yang akan mereka lakukan. Pengamatan kelas yang konvensional biasanya memfokuskan pada apa yang dilakukan guru di depan kelas. Namun pengamatan pada penelitian pelajaran memusatkan pada siswa dan apa yang dikerjakan siswa dalam merespon pembelajaran. Team memberikan pengamat salinan rencana pembelajaran dan handsout yang digunakan siswa dalam pelajaran, juga memberikan pertanyaan-pertanyaan khusus pada pengamat untuk memfokuskan perhatiannya selama pembelajaran. Dalam proses ini, biasanya satu atau dua orang anggota team merekam pembelajaran dengan menggunakan kamera video untuk mengumpulkan bukti-bukti belajar.

3. Mendiskusikan dan Menganalisa bukti-bukti belajar
Bukti-bukti siswa telah belajar bisa dilihat dari LKS, unjuk kerja selama percobaan, kegiatan diskusi siswa, rekaman kegiatan pembelajaran dan sebagainya. Langkah ketiga ini mengacu pada tiga pertanyaan. Bagaimana cara siswa mencapai tujuan pembelajaran? Bagaimana cara meningkatkan pembelajaran? Apa yang telah kita pelajari dari pengalaman ini? Setelah pelajaran diajarkan dan masih segar dalam pikiran, tim dan pengamat undangan bertemu untuk mendiskusikan dan menganalisa pembelajaran tersebut. Partisipan, dengan membawa catatan dan dokumentasi lain, mengutarakan hasil pengamatan, interpretasi dan komentarnya terhadap pembelajaran. Tujuannya adalah untuk menganalisa dan mengevaluasi pembelajaran ditinjau dari sisi akademis, misalnya pemahaman terhadap materi pelajaran dan proses berfikir siswa, motivasi dan sikap siswa terhadap pelajaran dan tingkah laku siswa selama pembelajaran berlangsung. Untuk mempersiapkan sesi pasca pembelajaran, akan sangat membantu apabila seseorang ditunjuk untuk mencatat dengan cermat sesi ini dan mengumpulkan data tambahan dari pengamat lain. Dalam diskusi, guru yang mengajar diberi kesempatan untuk berbicara dahulu baru diikuti dengan anggota kelompok dan pengamat yang lain. Diskusi harus berpusat pada pembelajaran (bukan cara mengajar guru) dan menganalisa apa, bagaimana, dan mengapa siswa belajar atau tidak belajar dari pembelajaran yang telah dilakukan.

4. Konsolidasi Belajar
Pada langkah keempat lesson study ini, tim memutuskan perlu tidaknya pembelajaran yang telah didiskusikan hasilnya tersebut diajarkan dan diamati lagi. Jika tim merasa perlu mengajarkan kembali pelajaran tersebut, maka tim akan mengulang kembali siklus lesson study dengan terlebih merevisi rencana pembelajaran yang ada berdasarkan informasi-informasi yang diperoleh dalam diskusi maupun saran-saran untuk meningkatkannya. Jika tidak perlu, maka tim akan menulis laporan yang rinci tentang apa yang telah mereka pelajari melalui proses lesson study dan kemudian membagikan laporan ini kepada semua anggota tim atau orang lain yang berminat. Pada umumnya, lesson study menghasilkan tiga produk ilmiah yaitu:
(1) Rencana Pembelajaran. Rencana pembelajaran merupakan deskripsi pelajaran dengan informasi (termasuk hands out dan bahan-bahan suplemen) yang diperlukan untuk mengajarkan pelajaran. Rencana mencakup catatan yang membantu pengajar lain untuk memahami bagaimana mengajarkan pelajaran itu, apa yang diharapkan pada siswa selama belajar dan saran-saran tentang bagaimana merespon siswa saat pembelajaran.
(2) Panduan Pengamatan. Panduan menunjukkan bagaimana mengamati pembelajaran, termasuk siapa yang diamati dan bukti-bukti apa yang harus dikumpulkan selama pembelajaran.
(3) Laporan Research Lesson. Laporan menyimpulkan bagaimana kinerja siswa dan mengevaluasi pembelajaran berdasarkan bukti belajar siswa. Laporan mencakup rencana pembelajaran, data siswa, dan refleksi tentang apa yang telah dipelajari yaitu menjelaskan bagaiman siswa belajar topik pelajaran, bagaimana kesulitan yang dialaminya dan memberikan pemikiran yang lebih luas tentang bagaimana siswa mempelajari materi pelajaran. Laporan juga menyarankan modifikasi lebih lanjut dari materi yang bersangkutan.
Langkah-langkah dalam lesson study dapat digambarkan sebagai berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

D. Lesson Study Sebagai Jalan Utama Menuju Peningkatkan Kualitas Pembelajaran

Proses dalam lesson study menunjukkan beberapa kharakteristik pengembangan profesi yang baik jika dilaksanakan dengan efektif. Jika guru meningkatkan materi pelajaran melalui lesson study, maka siswa mereka akan memiliki kesempatan yang lebih baik untuk meningkatkan pemahaman dan performans mereka. Bagi guru, lesson study memberikan cara dinamis untuk berbagi materi pengetahuan baru dan pendekatan-pendekatan mengajar yang menghargai peran utama guru. Keuntungan lain yang tidak langsung dari lesson study adalah “keprofesionalan” mengajar. Saat guru menyediakan waktu untuk mempelajari pengajaran, maka siswa, orang tua dan masyarakat pendidik pada umumnya akan memperhatikan hal tersebut secara serius. Jika lesson study dapat diimplementasikan dengan sukses maka beberapa jalan utama menuju peningkatan pembelajaran akan nampak, yaitu: (a) meningkatnya pengetahuan materi pelajaran; (b) meningkatnya pengetahuan tentang pembelajaran; (c) meningkatnya kemampuan untuk mengamati siswa; (d) memperkuat hubungan kesejawatan; (e) memperkuat hubungan antara praktek pembelajaran sehari-hari dengan tujuan jangka panjang; (f) meningkatkan motivasi dan rasa percaya diri guru; (g) meningkatkan kualitas rencana pembelajaran yang telah dimiliki (Lewis, Perry and Hurld, 2004).
Untuk mengimplementasikan Lesson study secara berkelanjutan, maka semua semua sistem pendidikan harus mendukungnya. Misalnya: (a) dukungan dari para stakeholder seperti dewan sekolah, pengawas, kepala sekolah, guru, orang tua, masyarakat maupun siswa; (b) dukungan sistem pendanaan; (c) dukungan dari orang-orang yang ahli dalam bidang studi dan berpengalaman dalam proses lesson study; (d) mengintegrasikan lesson study dengan pengembangan profesi yang lain; (e) memasukkan kegiatan lesson study sebagai jadwal kegiatan reguler; (f) mempertahankan tema penelitian sekolah atau tema team lesson study; (g) membuat sistem insentif yang dapat mendorong guru-guru untuk terus melaksanakan lesson study.
E. Penutup
Guru merupakan komponen yang penting dalam proses pendidikan. Pengetahuan, pengalaman dan keyakinan guru tentang belajar dan mengajar akan sangat mempengaruhi apa yang dilakukannya di dalam kelas. Oleh karena itu, keprofesionalan guru dalam pembelajaran perlu senantiasa ditingkatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkannya adalah melalui implementasi lesson study.
Lesson study merupakan salah satu model pengembangan profesi yang potensial untuk meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau dari kharakteristik yang dimilikinya. Untuk mengawali implementasi lesson study, sebaiknya “dimulai dari yang kecil” dan menunjuk guru-guru yang mau melakukan dengan sukarela. Seperti halnya usaha reformasi pembelajaran yang berkelanjutan, lesson study nampaknya juga menghadapi beberapa tantangan seperti waktu, dukungan administrasi, beban kurikulum, belajar bagaimana mengamati, mengkritik dan dikritik, serta terbatasnya “ahli” materi bidang studi yang sekaligus juga memahami lesson study.

Rujukan
Anderson, R. D., & Helms, J. V. (2001). The ideal of standards and the reality of schools: Needed research. Journal of Research in Science Teaching, 38(1), 3–16.
Anderson, R. D., & Mitchener, C. P. (1994). Research on science teacher education. In D. L. Gabel (Ed.), Handbook of research on science teaching and learning: A project of the National Science Teachers Association (pp. 3–44). New York: Macmillan.
Beauchamp, A and Zoller, K. 2002. The opportunity and challenge of lesson study. CPS Connection. Vol . 2, No. 6,
Fernandez, C., & Chokshi, S. (2002) A practical guide to translating lesson study for a U.S. setting. Phi Delta Kappan.84(2), 128-134.
Glenn, John. 2000. Before It’s Too Late. A Report to the Nation from the National Commision of Mathematics and Science Teaching for the 21st Century. Washington: US Department of Education.
Guskey, T. R. (2003) Analyzing lists of the characteristics of effective professional development to promote visionary leadership. NASP Bulletin. 87(637), 38-54.
Guskey, T. R. 1995. Results-oriented professional development: In search of an optimal mix of effective practices. North Central Regional Educational Laboratory. http://www.ncrel.org/sdrs/areas/rpl_esys/pdlitrev.htm . Diakses November 2003.
Kedzior,M. & Fifield, S. 2004. Teacher Professional Development. The Education Policy Brief, Vol 12. online http://www.rdc.udel.edu.
Lewis, C. (2002b). Lesson study: A handbook of teacher-led instructional change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools.
Lewis, C., Perry, R., and Hurld, J. 2004. A deeper look at lesson study. Educational Leadership.
Lewis, Catherine C., & Tsuchida, Ineko. 1998. A lesson is like a swiftly flowing river: How research lesson improve Japanese Education. American Educator
Lewis, Chatherine. 2002a. What are theessential elements of lesson study? The CPS Connection, Vol. 2 (6), 1-4
Richardson, Joan. 2004. Lesson study: teacher learn how to improve instruction.National Staff Development Council. Online. Http://www. nsdc.org. Diakses 14 Mei 2005.
Takahashi, A., Watanabe, T., Yoshida, M., Wang-Iverson, P., and Wendy Coffman. 2004. Improving the Quality of Lesson Study: Learning to Become Kyozaikenkyu Practitioners. Research for Better Schools.
Watanabe, T. (2002) Learning from Japanese lesson study. Educational Leadership. 59(6), 36-39.

RINGKASAN PELAKSANAAN LESSON STUDY
Naranto Makan Malay,S.Pd.,M.Hum.

Kegiatan lesson study mencakup kegiatan perencanaan (Plan), implementasi pembelajaran di kelas (Do) dan diskusi hasil pengamatan/ refleksi (See).

Perencanaan (Plan).
• Kapan dilaksanakan
• Materi/topik apa yang akan dipilih
• Strategi pembelajaran apa yang digunakan
• Fokus apa yang menjadi pengamatan dalam Lesson Study
• Siapa yang merekam gambar
Implementasi (Do)
• Mengamati bagaimana pelaksanaannya di kelas
• Mengamati bagaimana peran para pengamat
• Merekam (Video) pelaksanaan pembelajaran
Diskusi hasil pengamatan (see)
• Bagaimana kesan guru model
• Bagaimana kesan para pengamat, data apa yang mereka berikan
• Pelajaran apa yang bisa diambil oleh para pengamat.

Rekomendasi untuk perbaikan proses pembelajaran yang telah dilakukan.
• Bagaimana cara mengajarkan pokok bahasan tersebut untuk pelajaran berikutnya dalam topik yang sama
• Apa yang perlu diubah dalam rencana pembelajaran

Pos terkait

Tinggalkan Balasan