Jonathan Sanu: Mereka Mengabdi Untuk Generasi Emas Kabupaten Kupang

  • Whatsapp
Guru honorer SMP Negeri 4 Amarasi Timur pose bersama Kepala Sekolah, Jonathan Sanu (tengah)

Kupang-infontt.com,- Berbicara mengenai dunia pendidikan memang tidak akan ada selesainya. Menempatkan pembangunan pendidikan sebagai sektor unggulan merupakan strategi yang tepat dalam membangun bangsa dan negara. Menjadi bangsa yang maju, berkualitas daya saing tinggi sudah menjadi tanggungjawab kita bersama. Terlalu dini mengatakan jika pendidikan di Indonesia ini sudah maju.

Perubahan dan evaluasi sudah dilakukan oleh Pemerintah Pusat demi mewujudkan Indonesia yang bermutu. Mulai dari perbaikan kurikulum, sistem penilaian, kreaktifitas guru, macam-macam model pembelajaran.

Bapak Anis Baswedan mengatakan bahwa mendidik merupakan tugas dari semua orang yang terdidik. Terutama pendidikan yang ada di daerah terpencil, terisolir, tertinggal, bahkan daerah yang secara geografis sulit untuk dijangkau.

Pendidikan yang berada di daerah daerah pelosok sangat minim perhatian dan campur tangan Pemerintah Daerah. Selain secara letak geografis sulit dijangkau setidaknya pihak Dinas Pendidikan Kabupaten melek akan permasalahan yang ada diruang lingkup kerjanya.

Karena tidak sedikit orang hebat yang terlahir dan mengenyam pendidikan di daerah terpencil. Mereka belajar, berjuang, dan membuktikan melalui prestasi akademik maupun non akademik sehingga dapat mencapai titik puncak kesuksesan.

Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 5 ayat 1 dan 3 yaitu “Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu” dan “Warga negara di daerah terpencil atau terbelakang serta masyarakat adat yang terpencil berhak memperoleh pendidikan layanan khusus.”

Mengacu pada UU tersebut jelas seorang pendidik wajib memiliki tanggungjawab besar akan dunia pendidikan yang ada di daerah terpencil. Tidak serta merta meningkatkan mutu di perkotaan saja melainkan pendidik juga berperan penting untuk melirik memajukan pendidikan yang berada di daerah terpencil.

Salah satu sekolah yang coba penulis (tim infontt.com) kunjungi yakni, SD Negeri Haenbaun dan SMP Negeri 4 Satap Amarasi Timur.Dimana di sekolah ini khususnya SMP Negeri 4 Satap Amarasi Timur, pengajar keseluruhannya masih berstatus honorer, terkecuali kepala sekolah, Jonathan Sanu.

Salah satu guru honor yang diwawancarai infontt.com, Sabtu (6/8), Samuel Aleng mengatakan, banyak suka duka mengajar di pelosok khususnya Kabupaten Kupang. Anak pelosok karakternya tidak seperti anak anak dikota.

“Sangat sulit mendidik di pelosok, apalagi guru yang mengajar disini honor semua. Bahkan kami sudah pengajuan setiap tahun mulai dari 2012 hingga tahun kemarin tapi tidak pernah diangkat,”ungkapnya kesal.

Samuel menambahkan, kekecewaan sudah pasti. Tetapi jika kekecewaan tersebut kita menampakkan maka korbannya anak anak. Alasan kami disini sederhana saja, mereka di desa butuh pembinaan dan pengembangan karakter sejak dini.

Dilain sisi kepala sekolah SMP Negeri 4 Satap Amarasi Timur, Jonathan Sanu, menjelaskan, bahwa cukup prihatin dengan tenaga pendidik yang ada di sekolahnya ini.

“Dibandingkan honor yang mereka terima setiap bulannya secara manusiawi memang tidak pantas, tetapi inilah kondisinya. Mereka mengabdi bukan karena gaji, tetapi karena niat membantu mencerdaskan generasi emas Kabupaten Kupang,” kata Sanu.

Sekilas kisah suka maupun duka di salah satu sekolah di Kabupaten Kupang. Masalah pemerataan mutu pendidikan menurut saya sebenarnya terletak pada kurang optimalnya distribusi guru yang tidak merata. Banyaknya kasus ditemukan guru yang berada diperkotaan cenderung menumpuk dan melebihi kuota, sedangkan guru di daerah terpencil sangat kekurangan.

Ironis, para sarjana muda yang mempunyai kualifikasi dibidang pendidikan jarang ada yang mendidik dan mengabdi sesuai panggilan hati di daerah terpencil. Berbagai alasan klasik bermunculan diantaranya, tidak siap jauh dari orang tua, takut ditinggalkan pacar, kondisi keamanan banyak begal, makanan dan minum tidak terjamin.

Mereka lebih banyak memilih mengabdi di kota-kota besar, padahal kalau mereka tahu anak-anak menanti sentuhan lembut sarjana muda yang energik.

Anak-anak yang berada didaerah terpencil membutuhkan model pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, menyenangkan. Mereka kurang mendapatkan dunianya, belajar sambil bermain, dan sebaliknya. Seakan-akan mereka ingin berontak dan meneriakkan “maukah kau (guruku) mengajariku di sini, kami butuh kasih sayangmu?” ya seperti itulah harapan mereka.

Semangat juang mereka tidak pernah hilang walau harus bangun pagi dan berjalan kaki berkilo-kilo meter, merasakan lecet ditelapak kaki karena tak bersepatu, menembus dinginnya embun pagi.

Mereka yakin dengan niat yang teguh dan kerja keras mampu menepis segala rintangan. Senyuman dan semangat mereka tunjukkan kepada dunia ada harapan dan kebahagiaan pada dirinya.

Guru berada di garda terdepan dalam menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang. Guru tidak sekedar mentransfer ilmu, melainkan juga menilai, mendidik pribadi yang berwawasan luas, dan berkarakter kuat dan cerdas.

Jadi, menurut saya penyebaran guru profesional atau berkualitas harus sampai di pelosok daerah supaya dapat memberikan efek positif dalam memajukan pendidikan di daerah terpencil. Dengan kehadiran mereka di pelosok desa diharapkan mampu meningkatkan kecerdasan intelektual dan membuka cakrawala ilmu pengetahuan baru.(Chris Bani)

Guru honorer SMP Negeri 4 Amarasi Timur pose bersama Kepala Sekolah, Jonathan Sanu (tengah)
Guru honorer SMP Negeri 4 Amarasi Timur pose bersama Kepala Sekolah, Jonathan Sanu (tengah)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan