Akhirnya Bertemu Juga

  • Whatsapp
bersama Sri Sugiastuti dan Wijaya Kusumah; foto: Nelci Therik

Sesungguhnya saya tidak pernah berpikir untuk mempunyai teman guru penulis yang levelnya nasional di republik ini. Tetapi, akhirnya terjadi juga. Mengimani sebagai makhluk ber-Tuhan, semua ini terjadi oleh karena sudah ada dalam pengetahuan dan rencana Tuhan, maka saya mengaminkan semua ini. Tuhan menghendaki saya berteman dengan mereka yang suka menulis, bahkan telah menjadi profesi mereka.

Paling kurang ada dua penulis yang hari ini bertemu dengan saya di Kota Kupang. Keduanya datang jauh-jauh dari pulau Jawa dari dua kota berbeda. Seorang datang dari Solo dan seorang dari Jakarta. Siapa mereka?

Sri Sugiastuti, saya menyapanya dengan nama ibu Astuti; sementara para rekan Pegiat Literasi Nusantara dan Asosiasi Guru Menulis menyapanya dengan nama Bunda Sri.

Dunia digital telah mempertemukan kami; Gurusiana sebagai salah satu blog besar para guru penulis menjadi jembatannya. Dari sana, lahir grup WhatsApp Asosiasi Guru Menulis (AGM), yang berlanjut ke Pegiat Literasi Nusantara (PLN).

Intensitas “pertemuan” dominan di dunia maya melalui AGM dan PLN. Dari sana lahir paling kurang tiga buku karya bersama, dan dua buku karya individu. Ketiga buku itu adalah, Pelangi Praktik Literasi oleh Grup WhatsApp AGM, Muara Kasih Ibu oleh PLN, dan The Spirit of 2020 oleh PLN.

Sri Sugiastuti sendiri aktif menulis di blog Kompasiana, blog gurusiana, good reads, olahkata. dan masih ada lagi  tempat padanya untuk menuangkan ide, termasuk memotivasi rekan-rekan guru agar bangkit untuk mulai menulis. Nama Sri Sugiastuti akan dapat ditemui dan dikenal ketika pembaca bertanya pada Google.

Wijaya Kusumah, saya menyapanya dengan nama Pak Wijaya, sementara itu ia sendiri dikenal luas dengan nama Omjay. Seorang guru TIK yang kesehariannya berada di SMP Labschools Jakarta. Selain mengajar, kesibukannya yang turut melambungkan mata pelajaran TIK adalah sebagai Sekjen Ikatan Guru TIK.

Sebagai bloger, di sana selain menulis, ia pun mengajak para guru untuk terus menulis. Menulis setiap hari rasakan bedanya, rasakan hasilnya, nikmati dampaknya. Kira-kira demikian apa yang diketahui dan menjadi motivasi individu dari seorang Wijaya Kusumah.

Kami akhirnya dapat bertemu di Kota Kupang dalam suatu pertemuan ilmiah yang dikemas dalam Seminar dan Workshop e-learning. Di sana, keynote speakernya adalah Wardiman Joyonegoro, mantan Mendikbud era Orde Baru. Beliau menyajikan materi tentang Teknologi Edukasi Transformatif Era Digital Revolusi Industri 4.0.

Dalam wadah seminar dan workshop ini selain kedua teman yang dapat ditemui, juga telah bertemu pula dengan para birokrat di dunia pendidikan seperti Rektor Universitas PGRI 1945, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, dan Ketua Pengurus Daerah PGRI Kota Kupang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

2 Komentar

  1. Berjayalah terus wahai guru-guruku. Walau pada akhirnya jasa-jasamu tidak di anggap.
    Namun jika tanpa mu wahai guru, apa jadinya aku ini. Kini kau semakin tidak di anggap; terlebih jika kau mencubitku untuk aku menjadi pintar, demi membekali diriku utk sukses di kemudian hari. Dengan demikian apakah kau menyerah wahai guruku?
    Tidak! Saya tahu; di benakmu tidak pernah terbesit kata menyerah.
    Terima kasih atas jasa-jasamu wahai para guruku.
    Salam hormat!