Injil sampai di kampung Baob-Mollo

Polen-TTS, -.infontt.com.- Satu percakapan menarik bersama para tokoh masyarakat di desa Laob kampung Baob, sambil menikmati kopi hangat, mereka berkisah bagaimana para orang tua mereka menerima injil. Titus Lassi dan adiknya, Simon Lassi keduanya tokoh penting di kampung Baob. Keduanya bercerita bahwa Injil masuk ke Mollo dibawa oleh Pdt. H. Krayer van Aalst pada tahun 1916 dengan dua orang pembantunya yaitu tuan Tulabesi dan Sapulete. Keduanya dari Ambon-Maluku.

Setibanya di rumah saya membuka buku Sejarah GMIT Jilid 1 tulisan Pdt. Dr. Frederiek Djara Wellem. Pada buku ini tercatat bahwa pada tahun 1916 Kapan dijadikan tempat berkedudukan seorang pendeta pembantu. Pdt. H. Krayer van Aalst ditempatkan disana pada tahun 1916. Cocok/tepat seperti yang disebutkan dua orang tua di Boab.

Pdt. H. Krayer van Aalst
Pdt. H. Krayer van Aalst

Para orang tua ini menyebut sang pendeta berkebangsaan Belanda ini sebagai atoin’ makono’ (orang berjanggut).

Hasil kerja atoin’ makono’ ini nyata juga di kampung Baob yang jarak tempuh ke Kapan lebih dari 30 km mendaki-menurun, hutan lebat, dan menyeberangi sungai. Tiga orang menerima injil dan dibaptis yang kemudian berdampak luas di tengah-tengah masyarakat. Masing-masing bernama: Sone Saetban, dibaptis dengan nama Soleman Saetban; Bat Pa’i dibaptis dengan nama Bartolomeos Pa’i dan Tsabun Lassi dibaptis dengan nama Simon Lassi.

Simon Lassi
Simon Lassi
Titus Lassi
Titus Lassi

Simon Lassi ini adalah orang tua dari Titus Lassi dan Simon Lassi. Kedua nama terakhir ini pada saat bercerita mereka sudah uzur (roni)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *