Pdt.(emr) Semuel V. Nitti: Teks, Amanat, Tindak lanjut

  • Whatsapp
Pdt. (emr) Semuel V. Nitti

Pdt. (emr) Semuel V. Nitti
Pdt. (emr) Semuel V. Nitti
Amarasi Raya, -.infontt.com.- Majelis Klasis Amarasi Timur(MKAT) di bawah Pdt. Yakob Niap dalam salah program pelayanan tahun pelayanan 2016 yaitu Pembinaan Presbiter. Pembinaan presbiter dilakukan di rayon-rayon se-klasis Amarasi Timur. Salah satu isi dari pembinaan ini adalah bagaimana mempersiapkan renungan/khotbah. Narasumber yang dihadirkan MKAT adalah Pdt (emr) Semuel V. Nitti.

Senin, (29/08/2016) bertempat di Jema’at O’of Honis Naet desa Nekmese’, Pdt.(emr) S.V. Niti mengantar materi ini yang disesuaikan dengan latar belakang dan tingkat pendidikan para presbiter yang mayoritas terdiri dari penatua, diaken. Kepada para presbiter disajikan teknik sederhana mempersiapkah khotbah/renungan. Teknik itu disebut TAT, teks, amanat dan tindak lanjut.

Seorang pengkhotbah dalam menyiapkan diri untuk berkhotbah, mesti membaca teks, meneliti latar belakang teks, menemukan kata-kata kunci, menemukan kata-kata yang perlu dicarikan makna. Maka, teks (bacaan Alkitab) benar-benar harus dibaca secara baik. Perlu ada catatan-catatan.

Seorang pengkhotbah perlu memperhatikan amanat yang terkandung di dalam teks. Amanat itu bisa mengandung pengajaran tentang Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Dapat pula berisi pengajaran tentang gereja, manusia, alam dan lain-lain. Varian amanat yang dikandung dalam teks seperti nasihat, teguran dan larangan, janji, penghiburan dan motivasi.

Terkahir, tindak lanjut. Khotbah yang baik mesti berakhir dengan tindak lanjut yaitu ajakan agar menerapkan amanat yang sudah diperdengarkan. Penerapan itu dapat terjadi pada orang pribadi, keluarga, kelompok/komunitas, kehidupan bersama sebagai jemaat, kehidupan bersama sebagai masyarakat.

Kegiatan ini sangat membantu dan dirasakan manfaatnya. Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur ketika menutup menyatakan, bahwa para pendeta sebagai presbiter pun mendapatkan pengetahuan dan penyegaran dalam pembinaan ini. Di antara penyegaran itu adalah pemerkayaan khazanah khotbah sesuai konteks dimana pengkhotbah berada, selain mempelajari tafsiran dan literatur.

Pesan penting Pdt. (emr) Semuel V. Nitti, bahasa pengkhotbah adalah yang dapat dimengerti/dipahami oleh pendengarnya. Maka, gunakanlah bahasa hati pendengar. Karu hi mraib te, hai mneen, mes karu hi mi’uab meto’ te hai mihiin. Kalau kamu berbicara dalam bahasa Indonesia (bahasa asing) kami mendengar, tetapi kalau kamu berbicara dalam bahasa daerah (uab meto’) kami mengerti/memahami. (roni)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan