Bantu Aku Jadi PNS

imagesTak sabar dengan kehadiran Koran Lokal yang mengumumkan kelulusan Tenaga Kontrak Propinsi, aku lantas menggeber sepeda motorku menuju Ibukota Kabupaten.
Oh. Ternyata disana sepi…tak ada satupun Toko  ataupun kios yang buka. Dimana harus kucari ? di dasar kolam? Ah tidak! Sudah…kuurungkan saja niatku. kembali ke rumah dan Menunggu saja karena ada  tetangga sebelah rumah yang berlangganan Koran lokal  tersebut. Mungkin sore ini bisa aku dapatkan. ! yang jelas aku ingin segera tahu. Hasilnya seperti apa.
****
Menjadi Pegawai Negeri Sipil?
Itulah cita-citaku sejak aku mengenal sekolah menengah. Menjadi pegawai negeri itu enak, kata guru Bahasa Indonesiaku. Yang penting kamu berusaha kuliah hingga meraih gelar sarjana. Selanjutnya tunggu saja, setiap bulan uang akan datang menjumpaimu.

Sejak itu pula aku bermimpi menjadi pegawai negeri. Entah apapun pekerjaannya asal di bawah namaku bisa tertera sejumlah bilangan, kode rahasia yang menentukan nasibku sekarang dan di masa tua nanti. Oh, betapa enaknya menjadi pegawai negeri!

Tapi hingga kini aku masih juga ke ladang. Ladang yang berkerakal dengan tanaman jagung yang kurus-kurus ini tak seberapa memberi makan untuk aku, adik-adik dan ibuku. Tanamannya jagung tapi setiap hari kau harus makan nasi. Ada pohon pepaya, mangga, pisang dan jambu tapi semua itu tidak bisa menggantikan garam, vitsin dan minyak tanah. Ah, kebun ini kalau bukan warisan mendiang ayah hendak kujual saja. Aku hendak berangkat ke kota, dari hasil penjualan tanah itu.Tapi, jelek-jelek ini warisan mendiang ayah.

Akhirnya aku nekat. Kupinjam uang satu juta di koperasi desa, dan sebuah sepeda motor menjadi milikku setelah pinjaman itu diserahkan kepada dealer Sepeda Motor. Itu uang muka, yang menyisakan beberapa lembar yang cukup untuk beras dan minyak tanah bulan ini.

Hari demi hari sepedamotor itu kupacu. Ojek. Masuk kampung keluar kampung. Sambil sesekali menengok ladang berkerakal. Hujan dan terik tak kupeduli. Asal adikku bisa berkuliah di kota. Jurusan apalah itu tak penting. Tapi kalau bisa jurusan yang mudah menjadi pegawai negeri. Untuk itu aku sudah bertanya ke sana sini. Pak Govan, Guru SM3T yang setia kuojek ke mana-mana, menyarankan masuk ke Kesehatan. Dia juga menambahkan,”Menjadi bidan atau perawat butuh duapuluh juta. Kesehatan mahal!” Ah, tapi ada yang lebih mudah. Masuk FKIP saja. Cukup pilih apa saja. Karena di SMA kau jurusan IPS, pilih Ekonomi , Geografi atau Sejarah. Makanya adikku akhirnya memilih PPKn untuk menghindar dari cakaran di Geografi dan Ekonomi, serta hafalan di Sejarah. Yah, lumayanlah. Bisa berapa tahun? Empat atau lima tahun. Oke, tenang saja aku, kakakmu, akan berusaha. Sapi-sapi mendiang ayah masih beberapa. Tak usah ragu.

Hingga ketika sapi di kandang tertinggal tiga ekor, adiku berhasil meraih gelar sarjana. Betapa senangnya Namanya Maria Okleti, dibubuhi embel-embel es pe de, singkatan dari Sarjana Pendidikan. Dia akan menjadi guru yang menurut kata pameo, digugu dan ditiru. Memang benar pameo ini, Guru Bahasa Indonesia di SMPku dulu benar-benar digugu dan ditiru oleh muridnya: aku sendiri. Paling kurang, aku percaya pada pendapatnya tentang PNS.

Selepas wisuda, adikku sudah mulai mencekoki anak-anak di sekolah swasta , sebuah SMP Satu Atap, — walaupun atapnya lebih dari satu — di desa kami. Tahan-tahan, ya, sambil menanti jadwal testing.
nbsp;
“Kak, ada satu Bapak yang mau bantu,” kata adikku di suatu makan malam di rumah yang berdinding bebak beratap alang-alang itu, usai antrian mendaftar di kota Kabupaten yang jarang terik. “Dia bilang yang daftar untuk PPKN ada 35 orang tapi yang dibutuhkan hanya tiga orang.“

“Lalu?”

“Lalu dia bilang kalau kita mau, dia bisa bantu kita.”

“Bantu apa? Kalau dia mau bantu, ya bantu, toh.”

“Dia bilang, dia bisa atur supaya saya diterima.”

“Apa? Wah, lalu kau bilang apa?”

“Saya tanya dulu kakak, mau atau tidak. Dia ada kasih tinggal nomor.”

Tak sabar aku lantas memencet nomor yang disebutkan adik.

“Halo, selamat malam!” Suara dari seberang.

“Selamat malam. Ehm, ini dengan kakaknya Maria. Maria yang mendaftar untuk PPKN.”

“Oya, bagaimana? Maria sudah bilang-bilang?”

“Untuk itu, saya hubungi bapak.”

“Jadi kamu bersedia?” Bersedia apa?

“Pokoknya ini saya hanya bantu saja. Jadi kalau tidak mau ya sudah.” Apa yang dimaksud dengan ‘kalau tidak mau’?

“Oh, baik, baik bapak. Nanti saya usahakan.”

“Ok. Nanti tolong suruh adik, kasih nama dan nomor ujian di saya, ya?”

“Baik, Bapa!”

Aku menutup telepon. Aku percaya. Bapak itu masih saudara dengan nenek kami, katanya. Yah, tapi aku bukan orang yang tidak tahu adat. Adat orang kita perlu ada sirihpinang, bukan? Baiklah, Bapak. Dua ekor sapi.

***

Aku segera menelpon adik. Mengucapkan selamat. Dan, sudah tentu, satu-satunya sapi yang tersisa itu pasti cukup untuk acara syukuran.

“Kakak,” suara adik di telepon. “Bapak sudah di kantor polisi. Pengumuman hasil testing dibatalkan!”

Aku kehilangan huruf-huruf untuk dirangkai menjadi kata. Hanya ini [?] serempak dengan ini [!].

***

Proficiat buat teman-teman yang lulus seleksi Guru Kontrak  seluruh NTT tahun ini!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *