Kupang-InfoNTT.com,- Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat sejarah dengan memamerkan Gua Natal di Vatikan tahun 2025. Karya “Weaving Hopes” oleh Maria Tri Sulistyani dari Papermoon Puppet Theatre mengangkat kisah inspiratif ibu-ibu penenun Suku Mollo sebagai simbol harapan.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas karya ini. “Kami bangga karena suara Mama-Mama Mollo yang selama ini menjaga tanah, air, dan kehidupan dapat bergema hingga Vatikan,” katanya.
Menurut Gubernur NTT, karya ini bukan hanya sebuah karya seni dan iman, tapi juga kesaksian tentang martabat perempuan, keberanian menjaga alam, dan nilai-nilai luhur budaya NTT. Mama-Mama Suku Mollo telah menjaga tradisi tenun dan alam dengan gigih.
“Karya ini juga merupakan hasil kolaborasi antara seniman, akademisi, dan diplomat. Universitas Sanata Dharma Yogyakarta terlibat dalam pendalaman konseptual dan riset budaya,” ujarnya.
Gua Natal Indonesia ini menjadi sumber inspirasi bagi dunia, memperkuat pesan damai, keadilan, dan cinta terhadap ciptaan Tuhan. “Semoga karya ini semakin meneguhkan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia,” harap Gubernur Melki.
Duta Besar RI untuk Tahta Suci Vatikan juga memberikan dukungan luar biasa untuk karya ini. Terima kasih kepada seluruh tim yang telah mewujudkan Gua Natal Indonesia di Vatikan.
Karya “Weaving Hopes” ini membuktikan bahwa budaya dan iman dapat bersatu dalam karya yang menginspirasi. Mama-Mama Mollo telah menunjukkan bahwa menjaga alam dan tradisi adalah kunci harapan.
Gua Natal ini dipamerkan dalam acara “100 Presepi in Vaticano” di Lapangan Santo Petrus dari 8 Desember 2025 hingga 6 Januari 2026. Ini adalah momen bersejarah yang menunjukkan tradisi dan identitas budaya Indonesia kepada dunia.
Maria Tri Sulistyani, pendiri Papermoon Puppet Theatre, mengibaratkan tangan penopang Keluarga Kudus sebagai tangan-tangan yang mendukung dan menemani, termasuk tangan para penenun, petani, dan gembala.
Semoga Gua Natal Indonesia ini membawa berkah dan inspirasi bagi kita semua, dan semakin mempererat hubungan Indonesia dengan Vatikan.
Editor: Chris Bani





