Rinai Kenangan Masa

Ketika aku muda, aku menyemai butiran asa membenam benih impian
butiran asa bertunas dan benih impian berdaun segar bermakhotakan tetesan embun
saat itu kuseberangkan raga hendak menebar dan menabur rasa berirama pengetahuan
laut dan selat bergelombang kuseberangi bersama visi yang kukibarkan
lalu tebaran dan taburan pada benak-benak berpotensi kutunaikan
hingga titik masa penanda kenangan di pulau selatan kutinggalkan.

Ketika aku merangkul dan merengkuh keindahan benih-benih cinta
aku melayangkan impian pada bintang-bintang kemurahan
kupeluk dan kuelus-elus buah cinta dan kuhantarkan satu persatu
pada ranah kecerahan menurut pilihan ketekunan dan kecermatan
bersama yang kucintai dalam bingkai kemesraan kami tersenyum
ketika buah-buah cinta kami naik pentas-pentas kecil pilihan mereka.

Bacaan Lainnya

Ketika aku menapak tangga pesona rasa dan raga bersemi
rasanya aku mendapatkan makhota kemewahan bersisian suri
di sana mereka yang bersisian sering berhadap-hadapan gimik
bagai ikan-ikan berenang di lautan lepas dimainkan ombak dan gelombang
kami hendak tiba di kedalaman terdalam atau hendak naik di permukaan terluar
agar kami dapat membuktikan kualitas diri sebagai yang handal dan diandalkan
walau di sana matahari tak selalu bersinar cerah karena terhalang arakan gemawan
aku tiba jua di labuhan sederhana bersama mereka yang kutuntun di jalan masa.

Ketika aku menapaki tangga berundak kualifikasi akademik
aku ditantang dunia digitalisasi yang tak hendak berkompromi
aku merelakan raga dan rasa bermain dalam kubangan berkaburan
berharap tiada yang mengabur-ngaburkan irama di telinga dan mata berinsting
akhirnya aku tiba di pendopo santuy bersama bintang selatan pengemas mimik
lalu kutarikan secara gemulai tari rentang solusi aman dan tenangkan rasa kecukupan.

Kini aku tiba di titik masa dimana tangan mencoba meraih nilai dari butiran asa berawal
aku akan kembali ke liang kedamaian sambil mengelus kecemasan yang kukemasi di dada
di sana aku hendak mencoba menoleh untuk meniti rinai kenangan masa yang kulewati
hendak kuraih dan kupungut satu dua tiga atau sebanyak mungkin butiran bernas pada titik-titik masa itu
aku sampai di sini di titik masa perhentian karsa dan karya di ladang pergumulan ipteks.

terima kasih pada duniaku, dunia pendidikan dasar.
aku tinggalkan di sini, dan para sahabat melanjutkan karsa dan karya
agar kelak visi bangsa dan negara yang fatamorganik itu terkejar
menurut varian versi kualitas diri dan kualifikasi individu di tiap titik masa.

*puisi untuk seorang sahabat (Guru, Pengawas Dikdas) yang memasuki masa pensiun

Umi Nii Baki, 3 Juni 2022

Penulis: Heronimus Bani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.