Mofu’ Faut Fua Mese’, Batu Pertama Batu Penjuru

Wabup Kupang, J. Manafe, meletakkan batu pertama; Foto: Ansel Bani

Mofu’ Faut Fua Mese’, Batu Pertama Batu Penjuru

Pengantar

Bacaan Lainnya

Akhir-akhir ini istilah groud breaking sangat viral daripada istilah peletakan batu pertama, padahal penggunaan frasa groud breaking rasanya hanya gaya-gaya saja yang sama dengan peletakan batu pertama. Mengapa groud breaking lebih baik daripada peletakan batu pertama? Saya hanya berasumsi saja, bahwa orang menggunakan frasa berbahasa asing agar nampak lebih keren, bergaya dan merasa lebih memiliki kosa kata asing daripada yang lainnya.

Saya bertanya pada Abah Google, Apa yang dimaksud dengan groud breaking? Ia memberikan jawaban dalam Bahasa Inggris seperti ini, Groundbreaking, also known as cutting, sod-cutting, turning the first sod or a sod-turning ceremony, is a traditional ceremony in many cultures that celebrates the first day of construction for a building or other project. Such ceremonies are often attended by dignitaries such as politicians and businesspeople. The actual shovel used during the groundbreaking is often a special ceremonial shovel, sometimes colored gold, meant to be saved for subsequent display and may be engraved. In other groundbreaking ceremonies, a bulldozer is used instead of a shovel to mark the first day of construction. In some groundbreaking ceremonies, both the shovel and the bulldozer are used to mark the first day of construction[1]. Kalimat panjang di atas bila diterjemahkan akan menjadi seperti ini: Peletakan batu pertama, juga dikenal sebagai pemotongan, pemotongan tanah, pembubutan tanah pertama atau upacara pembalikan tanah, adalah upacara tradisional di banyak budaya yang merayakan hari pertama konstruksi untuk sebuah bangunan atau proyek lainnya. Upacara seperti itu sering dihadiri oleh pejabat tinggi seperti politisi dan pengusaha. Sekop yang sebenarnya digunakan selama peletakan batu pertama sering kali merupakan sekop upacara khusus, terkadang berwarna emas, dimaksudkan untuk disimpan untuk tampilan berikutnya dan dapat diukir. Dalam upacara peletakan batu pertama lainnya, buldoser digunakan sebagai pengganti sekop untuk menandai hari pertama pembangunan. Dalam beberapa upacara peletakan batu pertama, baik sekop dan buldoser digunakan untuk menandai hari pertama pembangunan. Jadi daripada saya pun urun gaya bagai kelebihan kosa kata, baiknya saya menggunakan frasa peletakan batu pertama.  Budaya Nii Ainaf dan Mofu’ Faut Fua Mese’

Pada kalangan orang Timor (Atoin Meto’) masyarakat adat mengenal istilah nii ainaf (nii ~ tiang; vocal rangkap dibaca dalam satu bunyi; ainaf ~ induk/ibu). Nii Ainaf diterjemahkan secara harfiah, artinya tiang induk. Bangunan tradisional masyarakat adat Timor yang disebut umi (ume) kbubu’ di tengah-tengahnya ada satu tiang yang disebut tiang induk (nii a[2]inaf). Tiang induk ini akan ditancapkan terlebih dahulu dengan upacara yang khas, sebelum keseluruhan konstruksi bangunan umi (ume) dibangun hingga selesai kelak.

Pada ume (umi) kbubu’ yang juga disebut lopo[3] sesungguhnya tidak terlihat apa yang disebut nii ainaf itu karena, pokok tiang ditanam di tengah-tengah (pusat ~ usaf ~usan) dari lingkaran bakal rumah. Lalu, sambungannya bagai tiang maya di tengah area kosong yakni tempat dimana penghuni akan tinggal. Sambungannya terlihat sebagai tiang penyangga utama rangka atap yang ujungnya sampai pada bubungan rumah. Itulah nii ainaf sesungguhnya.

Lalu bagaimana dengan faut fua mese’ yang diterjemahkan secara harfiah batu buah satu ~ satu buah batu. Batu yang demikian ini dikenal luas pada masyarakat adat di Timor ketika orang mulai mengenal konstruksi bangunan dengan menggunakan beton. Fondasi (fanderen) bangunan akan dimulai dengan campuran: batu, pasir, air, dan semen. Empat unsur ini menjadi perekat yang “membatu” selama mungkin yang ditempatkan pada dasar konstruksi bangunan (rumah/Gedung).

Masyarakat adat di Timor pun mengganti pendekatan nii ainaf dengan mofu’ faut fua mese’ yang secara harfiah jatuh batu buah satu ~ batu satu buah jatuh, maksudnya, meletakkan batu pertama. Batu pertama yang dimaksudkan di sini yaitu batu sudut, batu penjuru, batu yang menjadi cikal-bakal bersejarah dari bangunan tersebut. Batu itu akan “tegak berdiri” di dalam dasar bangunan yang memikul beban keseluruhan bangunan selama mungkin. Ia akan bertahan di sana ketika suatu waktu bangunan itu mengalami berbagai terpaan seperti: angin, hujan, hingga perubahan secara fisika yakni lapuk, karatan dan lainnya yang menjadi penyebab kerusakan dan kehancuran bangunan.

Mofu’ faut fua mese’ pada kalangan masyarakat adat di Timor sudah menjadi budaya baru yang menggantikan nateek nii ainaf ~ meletakkan/menancapkan tiang induk. Hal ini karena upacara nateek nii ainaf kurang populer atau tidak dipopulerkan pada zaman ini ketika orang mulai menggeser konstruksi bangunan rumah tinggal dan rumah adat. Rumah adat diganti konstruksinya dengan beton dan seng sehingga mofu’ faut fua mese’ yang lebih dikenal.

Tempat Ibadah Kaum Kristen di Timor dalam Budaya Mofu’ Faut Fua Mese’

Kaum Kristen menghafal dan menyanyikan secara baik satu nomor lagu berjudul: the Chruch’s One Foundation, karya Samuel J. Stone & Samuel S. Wesley (1864 & 1866) yang diterjemahkan oleh Yamuger dan ditempatkan dalam Kidung Jemaat Nomor 252. Pada penggalan bait pertama lagu ini berbunyi: Batu Penjuru Greja dan Dasar yang esa, yaitu Yesus Kristus, pendiri umat-Nya. Ketika lagu ini dinyanyikan oleh kaum Kristen mereka akan merasakan nuansa yang amat imaniah karena Junjungan umat yaitu Yesus Kristus menjadi “batu penjuru, batu pertama” yang menopang “gereja” yang didirikan-Nya. Jadi, Rabi. Rabuni, Guru Yesus tidak mendirikan agama, Ia mendirikan Gereja yang dalam hal ini bukan gedungnya. Kaum Kristen bila bersekutu, di situlah gereja. Kebutuhan tempat untuk bersekutu secara teratur itulah maka, mereka membangun Gedung gereja. Hal ini sesuai tuntutan zaman sebagaimana yang dilakukan para tokoh dalam alkitab. Salomo membangun Bait Allah (1 Tawarikh 28:9-21; 29:1-9; 1 Raja 5:1-18; 2 Tawarikh 6:12-42; 7:1-5; 1 Raja 11:9-13).

Selanjutnya saya mengutip dua ayat alkitab dimana tertulis di sana pernyataan tentang batu penjuru. Mazmur 118:22 berbunyi, batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Ayat ini kemudian dikutip kembali baik oleh Yesus dalam pelayanan-Nya, misalnya dalam Matius 21:41-45. Penulis Kitab Kisah para Rasul 4:11 yang mengutip ayat ini dengan menambahkan catatan sebagai berikut, Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan – yaitu kamu sendiri –, namun ia telah menjadi batu penjuru. Ayat-ayat alkitab ini (dan pasti masih ada lagi) telah menjadi panduan teologis ketika jemaat/umat Kristen akan membangun satu tempat ibadah yang disebut gedung gereja.

Di Indonesia jemaat/Umat Kristen yang merencanakan untuk membangun Gedung gereja tidak mudah mendapatkannya. Pemberitaan-pemberitaan tentang ditutupnya rumah-rumah ibadah kaum Kristen marak dimana-mana, termasuk dihalang-halangi untuk tidak membangun dan tidak boleh beribadah. Gangguan pada mereka yang sedang beribadah pun dilakukan. Semua bentuk persekusi ini tidak menyurutkan jemaat/umat Kristen di Indonesia untuk membangun Gedung gereja, baik dengan cara “peletakan batu pertama” yang dihadiri pejabat pemerintah, pejabat gereja dan berbagai kalangan yang bersimpati dan berempati.

Di Indonesia Membangun tempat ibadah (mis.gedung gereja) dengan menghadirkan pejabat pemerintah, tentu tidak sekadar suatu sikap harmoni dalam kerangka tri toleransi: toleransi antar umat  beragama, toleransi intern umat beragama, dan toleransi umat beragama dengan pemerintah. Tidak sekadar perwujudan tri toleransi itu, tetapi sudah rahasia umum bahwa kehadiran pejabat pemerintah dan pejabat politik sangat berpengaruh pada gerak dan daya pembangunan itu sendiri. Oleh karena itu, “ritual” yang demikian tidak mudah dilakukan oleh pihak institusi keagamaan, misalnya oleh kaum Kristen, termasuk di sebahagian provinsi Nusa Tenggara Timur dimana Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) berdiri.

Pendekatan (lobi) untuk menghadirkan seorang pejabat pemerintah (gubernur, bupati, walikota) mesti dilakukan beberapa kali agar memastikan hal kehadirannya. Hal ini sangat penting mengingat penjadwalan kegiatan pejabat pemerintah yang padat dan sangat sering bertubrukan acara/kegiatan. Bila pejabatnya sudah menyatakan kesiapan menghadiri undangan yang dilakukan dengan pendekatan nateek oko’mama’ ~ (harfiah meletakkan tempat sirih-pinang), maka pulanglah perwakilan umat dengan badan yang terasa amat ringan dan hati riang. Mereka akan sangat bersemangat menyiapkan segala hal yang akan menaikkan derajat umat/jemaat/masyarakat dan pejabat itu sendiri. Harga dan nilai kehadiran seorang pejabat pemerintah terasa lebih penting dibandingkan kehadiran seorang pejabat gereja (agama). Padahal, membangun Gedung gereja tidaklah di bawah control pemerintah. Perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pembangunan dilakukan oleh Majelis Jemaat yang kolektif kolegial. Majelis Jemaat membentuk satu panitia yang bekerja sampai bangunan itu selesai. Sementara itu secara organisatoris, Majelis Jemaatlah yang bertanggung jawab pada keseluruhan program pelayanan, pembangunan dan pengembangan gereja.

Posisi pejabat pemerintah bagai “penginjeksi” semangat dengan daya dan nutrisi tertentu belaka. Ada harapan terselubung atau bahkan benar-benar terbaca ketika pejabat pemerintah benar-benar hadir dan menyatakan sesuatu yang meringankan beban. Padahal, beban itu sendiri dibuat oleh jemaat/umat yang merindukan adanya suatu bangunan tempat ibadah (dhi. Gedung gereja). Mengapa bergantung pada pemerintah? Karena tri toleransi tadi. Pemerintah (provinsi, kabupaten, kota) memiliki sumber daya/dana yang kiranya dapat disalurkan untuk mengurangi beban anggaran dari jemaat/umat.

Pernyataan ini tidak mudah diterima oleh jemaat/umat yang sedang membangun, tetapi fakta bahwa menghadirkan pejabat pemerintah di kalangan umat beragama dalam kerangka membangun tempat ibadah sudah dipastikan untuk mendapatkan suntikan anggaran. Maka, umat beragama  di Nusa Tenggara Timur dewasa ini sangat suka mengundang Gubernur NTT, Dr. Victor B. Laiskodat. Kehadirannya akan membuat masyarakat (umat beragama) merasa “ringan badan” dibandingkan bila pejabat non pemerintah. Lalu, bersukacitalah mereka yang mendapatkan “hujan berkat” dari Gubernur NTT, Dr. Victor B. Laiskodat. Akankah “hujan berkat” itu terlunasi segera?

Dalam suatu kesempatan peletakan batu pertama pembangunan Gedung gereja, pejabat yang mewakili Gubernur NTT menyampaikan bahwa, sekalipun bapak Gubernur membuat pernyataan untuk memberikan sejumlah anggaran, panitia tetaplah harus mengajukan proposal kepada pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini perlu dilakukan untuk menyesuaikan dengan pagu anggaran yang tersedia dalam APBD bidang Bantuan Sosial. Daftar tunggu menanti di meja kaum birokrat.

Mari membangun tempat ibadah dengan bersandar pada kekuatan sendiri dengan bersandara pada Sang Khalik Pemilik Kehidupan. Ia akan menggerakkan dan mengirimkan sumber daya yang menghidupkan dan melancarkan pekerjaan besar demi kemuliaan nama-Nya di tengah-tengah umat yang heterogen.

Tuhan memberkati.

 

Penulis: Heronimus Bani, S.Pd.,M.M

 

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Groundbreaking

[3] https://uminiibaki.blogspot.com/2018/10/lopo-dan-maknanya-heronimusbani.html

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.