Manakah yang Terasa lebih menarik: Mudik dan Balik?

Foto Antara/M.Risyal Hidayat@nasional.kompas

[seri ke-2, sambungan tulisan sebelumnya, Pulang kampung, nih!]

Gaung mudik sudah berakhir. Kini kita memasuki kabar-kabar terbaru mengenai  balik. Kabar-kabar teranyar terutama berkaitan dengan pengaturan arus lalu lintas angkutan darat dan penyeberangan. Angkutan darat dan penyebarangan akan melancarkan arus barang dan orang. Berikutnya mengenai penumpukan penumpang di bandara dan dermaga. Hal ini kiranya terlihat dari gambaran yang dibuat oleh news website, cnnindonesia.com. Rupanya ada capaian rekor tertinggi pada arus mudik 2022 ini, dimana 1,7 juta kendaraan meninggalkan Jabodetabek. Di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tercatat 150 ribu penumpang setiap harinya dalam musim mudik. Ini catatan di pulau Jawa, dan dibuat oleh satu laman berita.

Bacaan Lainnya

Mudik sudah terjadi sehingga kaum Pemudik telah menikmati nuansa itu. Mereka telah sampai di kampung halaman masing-masing, dan telah pula melepas segala kerinduan setelah 2 tahun ditemboki covid-19. Peluk-cium, silaturahmi, berkeliling kampung untuk sekadar memanjakan mata pada perubahan-perubahan kampung, dan lagi di antaranya sekaligus berwisata bila kampung halaman berdekatan dengan lokasi wisata. Mudik 2022 telah memberi kesan tersendiri pada kaum Pemudik. Kesan-kesan itu dipatri bagai satu prasasti di relung hati masing-masing pemudik. Satu kelompok Pemudik yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak, tentulah mempunyai sudut pandang dan opini yang saling berbeda. Arsip pada fail benak dan kenangan saling berbeda. Berkisah di sekitar mudik 2022 akan saling berbeda yang menjadikan rak dan pajangan di wajah pencerita menjadi berwarna. Mungkin pula saling melengkapi menjadi satu rangkaian yang runut dengan polesan tambahan yang menarik dan mengesankan.

Pada masyarakat perkotaan yang memang benar-benar terlahir di kota, mudik baginya merupakan suatu peluang berwisata. Pada mereka yang terkategori sebagai kelompok elite, menghuni pemukiman kaum elit, musim mudik bagi mereka sebagai masa liburan untuk melancong. Seorang Sahabat Guru Penulis (Moch.Khoiri) menyajikan suatu fenomena pada saat musim mudik. Saya membacanya sambil tersenyum dan membenarkan analisis yang logis tersebut berdasarkan hasil observasi lapangan. Menurut Moch.Khoiri (dalam MENGEVALUASI NIAT MUDIK KITA – Literasi, Sastra dan Ruang Ketiga (muchkhoiri.com)), masyarakat perkotaan kelas menengah ke atas memanfaatkan musim mudik untuk berlibur dengan memindahkan kamar tidur dari rumah ke hotel-hotel. Bukan lagi suatu fenomena, tetapi fakta. Lihat saja yang dicatat oleh https://www.metrojambi.com/, tingkat hunian hotel-hotel meningkat di Jambi.

Maka, kiranya saya dapat menggambarkan bahwa mereka mengalihkan pandangan dari taman-taman di pekarangan rumah ke taman-taman impian di luar rumah atau bahkan jauh dari rumah. Mereka meninggalkan kamar mandi lalu berenang di kolam-kolam renang. Dapur mewah diliburkan sehingga seluruh perangkat dapur tersenyum karena tidak merasakan panas, pedis, dingin, hambar, dan lain-lain rasa di kulit dan lidah asisten rumah tangga. Lalu mereka menunggu saja di meja makan ketika para pelayan bar atau resto berkewajiban melayani dengan hospitality and full smile. Dapur dan ruang makan berganti suasana. Mesin pencuci pakaian pun berlibur. Ia tidak dipekerjakan dengan tumpukan pakaian dengan siraman deterjen dan air mencapai sekitar 200 liter sekali mencuci. Lingkungan perkotaan menjadi lengang, jalan-jalan sepi, kompleks perumahan tidak terlihat kesibukan. Udara menjadi bersih, dan polusi bunyi menjadi berkurang.

Dari media daring yang sempat saya baca di antaranya: cnnindonesia.com; kompas.com; suara.com; detik.com; tempo.com; di sana tergambar situasi dan suasana mudik dan balik digambarkan sebagai lancar dan aman. Mungkinkah begitu? Tidak selalu. Mengapa? Karena yang terlihat merupakan gambaran umum suasana, sementara yang tidak terlihat dan terekam kaum laptopist tentu tidak terpublish. Maka, saya berselancar untuk menemukan hal yang tidak jauh berbeda kabarnya.  Lalu akhirnya di sana ada kabar yang kurang menggembirakan. Apa itu?

Khusus di Jawa Barat, sebanyak 103 kecelakaan terjadi sepanjang arus mudik dan balik Lebaran 2022 di wilayah hukum Polda Jabar. Dari insiden tersebut sebanyak 29 orang mengalami luka berat, 137 luka ringan, dan 37 orang meninggal dunia. Demikian catatan yang dibuat oleh suara.com (10/5/22). Itu satu titik kabar. Tentu masih ada yang lainnya, bukan?

Balik. Semua yang mudik akhirnya akan balik, kecuali yang merindukan untuk pulang kampung halaman selamanya, tidak balik. Ketika balik apa yang akan mungkin saja terjadi? Pikiran dan benak bergejolak. Boleh atau tidak, membawa seorang anggota keluarga ke kota?! Boleh atau tidak, ada yang menitipkan diri untuk mencari pekerjaan di kota?! Boleh atau tidak, menambah satu atau dua orang asisten rumah tangga?! Atau balik saja sebagaimana ketika mudik. 

Mudik-Balik, dua hal yang berbeda sisi pada satu bidang datar. Keduanya selalu memberi dampak pada lingkungan sekitarnya. Dampak itu terjadi pula pada hal-hal yang terasakan dan nyata seperti dampak sosial dan psikologis, ekonomi dan ekologi; politik praktis dan policy (kebijakan). Kini tinggallah pada kita memberi makna dan nilai pada dua hal ini secara seimbang.

 

Dari Koro’oto di sudut desa Nekmese, Amarasi Selatan, 10 Mei 2022
Penulis: Heronimus Bani

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

2 Komentar