Keringkan Keringat dan Air mata dengan Sehelai Kain ini

Pdt Nuh Tnunay dan tim dari UBB GMIT KUpang; Foto diambil dari WAG UBB GMIT Kupang

Nunkolo-Amanatun,infontt.- GMIT Jemaat Efata Nunkolo telah menjadi tuan/puan rumah lokakarya mini Bahasa Meto’ Amanatun. Ketua, Majelis Jemaat Efata Nunkolo, Pdt. Nuh Tnunay, bersama 30-an anggota Majelis Jemaat dan anggota jemaat menghadiri lokakarya ini. Mereka antusias mengikuti materi-materi yang disajikan oleh Pemateri dari Unit Bahasa dan Budaya GMIT Kupang.

Unit Bahasa dan Budaya GMIT Kupang sebagai suatu unit yang dibentuk oleh MS GMIT untuk melakukan dokumentasi bahasa-bahasa daerah di lingkungan pelayanan GMIT. Hasil dokumentasi diikuti dengan lokakarya dan seminar-seminar agar jemaat/umat (masyarakat) mengetahui dan menyadari bahwa bahasa daerah mereka patut dipelajari, diketahui sistem tata tulis dan mulai melestarikannya baik secara lisan maupun tulisan.

Bacaan Lainnya

Di samping dokumentasi bahasa-bahasa, UBB GMIT Kupang melakukan tugas pokok menerjemahkan alkitab, khususnya Perjanjian Baru ke dalam Bahasa-bahasa daerah sasaran. UBB GMIT Kupang tidak secara serampangan menerjemahkan alkitab dan tidak serta merta semua bahasa daerah menjadi sasaran penerjemahan. Bahasa daerah sasaran mesti melalui proses yang baik, di antaranya melalui dokumentasi bahasa, mempelajari sistem tata tulis, fonologi dan lain-lain yang sesuai dengan kajian-kajian ilmu bahasa.

Bahasa Meto’ Amanatun menjadi salah satu yang disasar sehingga UBB GMIT Kupang melakukan persiapan setelah melalui serangkaian proses dokumentasi. Lokakarya mini ini merupakan langkah awal menuju persiapan penerjemahan alkitab khususnya Perjanjian Baru, dan diikuti dengan produk-produk buku yang disasarkan untuk pendidikan.

Ketua Majelis Jemaat Efata Nunkolo, Pdt. Nuh Tnunay menyampaikan rasa terima kasih karena MS GMIT melalui UBB GMIT Kupang dalam tugasnya telah menjangkau sampai ke pedalaman Timor termasuk mereka yang di Amanatun yang luas. Kiranya lokakarya ini memberi harapan baru bahwa bahasa Meto’ Amanatun penting untuk ditulis, dan terlebih lagi bila ditulis dalam kitab suci. Kepada para peserta, sang pendeta menghimbau agar lokakarya ini diikuti dengan baik termasuk bila ada tugas-tugas yang harus dikerjakan perlu diselesaikan.

Dua hari lokakarya mini berlangsung, seluruh peserta antusias dalam diskusi-diskusi dan mengerjakan tugas yang hasilnya dapat dilihat dan mereka membawa pulang untuk selanjutnya menjadi “modal” sosialisasi kesadaran berbahasa daerah lisan dan tulisan.

Pada hari dimana tim hendak memulai kegiatan, Pdt Nuh Tnunay bersama para tokoh di dalam jemaat ini menyematkan kain tenunan khas Nunkolo sebagai tanda penerimaan. Dalam sapaannya, sang pendeta berkata, “Bila berkeringat, keringkan dengan kain tenunan ini, bila menitikkan air mata karena mengenang kami di sini, keringkan dengan kain tenunan ini.”

 

Laporan: Heronimus Bani

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.