Derap Langkah Kegetiran

Rima kemenangan rasa gempita
Manakala petang menjelang datang
Barisan kaum intelek bergirang riang
Mengarak langkah berhimpitan raga
Bibir bergincu dibalut selembar
Leher kekar digantungi seutas
Teguh dan kokoh bagai pejantan
nada bervibrasi bagai betina bertelur sebutir.

Satu per satu nama disebutkan
langit berawan turut mendengarkan
istana bertangga membisu di sana
turus berpancang tinggi rasa menggeleng
alun-alun menggelar ritme derap langkah
merasakan jejak-jejak bergetaran pilu
walau di antaranya hendak mengguncang nurani
sia-sia gergantang dibuka pada kaum kulit keras
irama minor yang indah sekalipun tak terhirau
hingga tarian kaum kulit badak tak bertepuk.

Bacaan Lainnya

Satu per satu meninggalkan taman impian itu
kembali ke lahan semai ilmu pengetahuan dasar
membaca menulis dan menghitung
secara spiralis bertambah luas seturut umur bertambah
anak disapih dari induk almamaternya
meninggalkan ibunda dalam senyum dan langkah ringan
sementara ibundanya tertegun dalam kenangan getir
ia dibalik-bolak seperti pemain kaneker
sebutir gundu tewas di arena dalam
sebutir lainnya melanglang di atas kanvas bahagia
kaum badak bercula terus menggaringkan cambuk.

Bahagia bertajuk kesediaan dibalur kesedihan
mereka pulang dengan merunduk-runduk
ketika petang sudah pergi makin menjauh
utara dan selatan terjauh mesti dicapai
ke barat menyeberang selat ditandu perahu
selamat bertugas kaum intelek rendahan
siapa yang rela memberimu tanda jasa?

Penulis: Heronimus Bani
Umi Nii Baki, 1 Juni 2022

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.