COVID-19, PERANG NYATA YANG HARUS KITA HADAPI

Simeon Sion

Kupang-InfoNTT.com,- Pandemi Covid-19   menggejala di bumi Pertiwi sudah memasuki usia satu setengah tahun. Di tengah hiruk pikuk dunia meningkatkan strategi memerangi pandemi ini, muncul pula varian baru jenis Delta.

Varian jenis ini sungguh berbeda dengan varian lama. Membaca pola penularannya, seolah-olah varian ini mengetahui strategi yang kita terapkan selama ini. Intinya dengan caranya sendiri ia berusaha menerobos pertahanan kita menuju sasaran dan dengan bebas memporakporandakan isi jiwa dan badan kita dari dalam.

Bacaan Lainnya

Oleh seantero dunia varian baru ini dikenal sebagai corona virus second wave. Varian Delta yang muncul awal Juli 2021 ini bermutasi begitu cepat dan telah menelan ribuan korban jiwa per harinya di Indonesia. Hadirnya varian ini telah membuat panik sejumlah pihak teristimewa pemerintahan negara kita dan sesegera mungkin menetapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat dibeberapa daerah yang tingkat penyebarannya tinggi dan bukan tidak mungkin pemberlakuan kebijakan ini akan berlaku meluas diseluruh Indonesia beberapa waktu yang akan datang.

Kita memang sedang dihadapkan pada sebuah tragedi bangsa, tragedi pandemi yang memaksa kita harus berperangmelawannya. Dia seperti musuh senyap yang terus menyerangkehidupan kita. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengibaratkan kita sedang mengalami counter intelligentdimana pihak musuh tanpa kita sadari telah masuk atau belum dalam sistem pertahanan kita karena kita tidak memiliki peralatan yang bisa melacak keberadaaannya. Kita hanya menunggu kapan kita aKan kalah dan memilih mengibarkan bendera putih lambang menyerah atas pandemi ini. Bill Gatesmenyindir keras berbagai negara yang kian gencar menyiapkan peralatan perangnya untuk menyerang sesama manusia, tapi lemah membangun tools untuk berperang melawan pandemi ini.  

Pernyataan ini memang secara jujur wajib kita akui. Betapa tidak, covid-19 gelombang pertama belum usai diberantas, muncul varian baru yang lebih agresif, varian Delta. Hal ini memang diluar dugaan, disaat kita ramai  bermimpi mengakhiri pandemi ini, muncul varian baru dengan eskalasi yang lebih mengkhawatirkan. Dibenak kitamasih teringat tanggal 21 Juli 2021 adalah hari dimana Indonesia menjadi episentrum pandemi Covid-19.

Puluhan ribu jiwa manusia berjatuhan didepan mata kita. Infeksi pun menggejala diantara sesama kita; orang tua, anak, saudara dan sahabat kita serta tetangga kita. Amat mencemaskan untuk kelangsungan hidup kita.

Perang ini sebenarnya adalah perang yang sangat sederhana bila dibandingkan dengan perang sesungguhnya, yang melibatkan dua atau lebih kekuatan (makna perang sesungguhnya). Perang ini adalah perang unik dimana kita sedang melawan virus yang tak tampak dan belum tahu kapan berakhirnya.  

Senin, 12 Juli 2021 di Stadion Wembley, Inggris dihelatpertandingan final Euro 2020. Dua jagoan sepak bola benua biru Italia versus Inggris berduel sengit hingga menyajikan pertandingan adu penalti.  Moment ini tentu menjadi tandatanya bagi negara negara non eropa, termasuk Indonesia. Mengapa para suporter begitu leluasa menyaksikan pertandingan secara langsung di sebelas stadion tempat pertandingan-pertandingan euro 2020 berlangsung tanpa menggunakan masker atau face shield ? Sudah berakhirkah pandemi covid-19 dinegara-negara eropa saat itu ? Setelah disimak, ternyata setiap negera eropa  terutama negara-negara penyelenggara turnamen telah menvaksin warganya dengan capaian 75 persen.

Mereka telah bersatu melawan covid-19 dengan mendisiplinkan diri mematuhi protokol kesehatan serta bersedia divaksin. Dan salah satu persyaratan menjadi penonton dalam setiap pertandingan euro 2020 adalah sertifikat vaksin. Himbauan pemerintah secara menyeluruh diikuti warga masyarakatnya tanpa banyak pertimbangan. Mereka percaya upaya pemerintah adalah upaya terbaik untuk menyelamatkan rakyatnya dari bahaya covid-19.

Bagaimana dengan Negara kita ?

Penanganan pandemi ini, menjadi dilema baru bagipemerintahan negara kita saat ini. Dilema bangsa yang diciptakan anak negeri  seolah-olah menjadi musuh baru yang wajib diperangi. Sebut saja orang-orang yang melanggar himbauan protocol Kesehatan, kelompok yang menganggapbahwa covid -19 adalah konspirasi global, PPKM adalah salah satu trik kaum tertentu untuk memetakan kekuatan agama tertentu, kelompok yang menggunakan situasi ini untuk kepentingan politik menjatuhkan pemerintahan dan fenomenaagama yang tidak mendukung upaya pemerintahan yang ada, hanya membuat perang pandemic akhirnya menjadi lebihheterogen dan rumit. Beban pemerintah semakin berat dan harus dipikulnya sendirian.

Pada lain kondisi ini membuat kelompok masyarakat yang terimbas akan menghadapi perang baru, yaitu perang melawan kelompok penegak hukum, matapencaharian dan infeksi virus (F. Budi Hardiman, Kompasedisi 21 Juli 2021, Perang Pandemi Kita).  

Kondisi ini memang tak bisa disangkal, semua pihak memiliki asumsimasing-masing tanpa memiliki kesatuan presepsi seperti para penonton piala euro 2020 lalu yang akhirnya membuahkan hasil dan mereka layak menari dan berpelukan di tribunpenonton menyambut kemenangan tim kesayangannya selamahampir sebulan penuh mulai 11 Juni hingga 12 Juli 2021.

Bila kondisi ini tetap terjadi di negeri kita, niscaya pendemi ini tidak akan berakhir dan bisa bermetamorfosis ke varian yang baru lagi. Target perang kita semakin kabur. Musuh yang sebenarnya sudah siap menyerah akhirnya harus menyusun kekuatan baru menjatuhkan kita semua.

Tanpa kesamaan pandangan atau persepsi sulit bagi kita untuk bergerilya melawan pandemi ini.

Viral dua pekan terakir setelah pemerintah menekankansertifikat vaksin sebagai prasyarat administrasi di pemerintahan dan moda transportasi, masyarakat di berbagai daerah mendadak minta divaksin. Mereka rela berdesak-desakan bahkan sampai pingsan hanya demi mendapatkanvaksin tahap pertama. Selanjutnya setelah jadwal pelaksanaan vaksin tahap dua, minat masyarakat sudah berkurang.

Hal ini tentu membuat efikasi vaksin itu tidak terjadi pada tubuh kita. Banyak pihak yang masih menganggap pandemi ini adalahremeh temeh politik negeri. Banyak yang belum percayakalau pandemi ini membahayakan. Bila waktunya ia terpapar, barulah tersadar bahwa memang musuh ini ada dan telah menyerang kehidupan kita.

Hemat penulis perang ini hampir usai, tanggal 17 Agustus2021 kita wajib mengibarkan bendera Merah Putih merayakan haru kemerdekaan kita ke 76 serta kemenangan kita melawan pandemi ini. Pada titik akhir perjuangan kita yang masih tersisa tiga pekan kedepan, mari bersama-sama pemerintah daerah maupun pusat, lawan musuh kita bersama yakni Virus Corona demi Indonesia Tangguh dan Indonsia Tumbuh.

Jauhkan egoisme agama dan politik yang hanya memperkeruhniat kita yang jernih untuk melihat Indonesia yang lebih maju.

Wassalam…..!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.