Home / Cerpen / Semalam Mendayung Cinta di Lalao (2)

Semalam Mendayung Cinta di Lalao (2)

By: Heronimus Bani
love a
Di pagi buta sekitar pukul 05.00 WIT, di dermaga penyeberangan Bolok banyak sepeda motor beriringan mengantri untuk mendapatkan tiket. Dari mulut para pengendara sepeda motor, para sopir dan calon penumpang feri yang akan ke Rote terdengar perbincangan dengan bahasa daerah yang sangat kental dalam varian mulai dari Melayu Kupang, Dhao, Lole, Tii, Delha, Rikou, dan lain-lainnya. Beberapa suara yang ditenggelamkan dalam dialek Betawi diucapkan oleh beberapa orang yang datang dari pulau Jawa. Sekelompok wisatawan berjumlah lima orang berasal dari Australia dengan bahasanya sendiri mendapat perhatian penumpang yang mengantri di loket pembelian tiket. Empat orang yang lain mengenakan pakaian dinas militer, nampaknya dari satuan te en ii aa el. Dua orang anggota polisi bersiaga di pintu masuk, memberi hormat kepada seorang anggota polisi yang akan ikut sebagai penumpang. Rupanya sang polisi yang mendapat penghormatan itu adalah Kapolres Rote-Ndao dan dua orang anggota yang menjadi ajudannya. Lima prajurit te en ii aa de yang masih muda dengan seragam doreng bersepatu boat dan ransel di punggung memberi pemandangan tersendiri. Rupanya kelima prajurit ini baru saja menyelesaikan masa belajar dan hendak kembali ke kampung sekedar melepas penat dan berpamitan dengan orang tua sebelum bertugas. Di sisi lain nampak empat orang berpakaian dinas berwarna keki. Di bahu mereka terdapat gambar logo provinsi nusa tenggara timur. Rupanya mereka pegawai dari salah satu es ka pe de tingkat provinsi Nusa Tenggara Timur. Pemandangan di pagi hari yang memberi pelajaran bahwa berbahasa daerah itu menunjukkan darimana datangnya seseorang, dan di pelabuhan penyeberangan seperti ini, antara pejabat sipil, militer, dan masyarakat sipil tiada batasnya, bahkan terhadap orang asing sekalipun.
Antrian di depan loket pembelian tiket berkurang di depan, sedang dari belakang terus bertambah. Dua jam setelahnya kapal feri yang akan menyeberangkan penumpang dan barang termasuk kendaraan roda dua dan roda empat, siap berangkat. Para penumpang di atas feri bersibuk ria mengambil tempat yang paling aman dan nyaman. Kendaraan roda dua dan empat diatur parkirannya di dek yang memungkinan untuk masuk dan keluar. Para penumpang vi ai pi seperti anggota te en ii aa el dan anggota polisi dan prajurit menempati ruang yang ekslusif.
Nampak dari kejauhan menuruni bukit, dua sepeda motor sedang berkejaran laksana para pembalap. Kedua sepeda motor itu masing-masing membawa dua orang dengan sejumlah barang bawaan. Mereka tiba pukul 07.15 WITa. Dengan wajah gugup pengendara sepeda motor yang pertama tiba di loket pembelian tiket. Terlambat. Dek sudah penuh dengan kendaraan.
“Maaf pak, sudah penuh! Mungkin masih bisa untuk penumpang tanpa kendaraan. Tapi, untuk kendaraan sudah tidak mungkin.” Kata petugas kepada pengendara sepeda motor.
Kepada pengendara sepeda motor kedua, petugas menyampaikan hal yang sama.
Pak, sama sekali sonde bisa lai ko? Beta pung motor kici sa, banding deng ini nyong dua ni. Dong pung motor ‘kan besar, jadi sonde bisa. Ma beta pung masi bisa sisi-sisip.” seorang gadis memberi penjelasan pada petugas di loket.
“Coba pi cek do. Ini petugas di sana dong yang kasitau bilang su ponu. Botong di sini musti kasitau ju ko jaga orang pung rasa aman deng barang di atas kapal. Ma, kalo te’o paksa na, coba pi ko kalo dong bilang bisa na, neu … “
jawab petugas di loket.
Gadis itu pun menyalakan mesin sepeda motor, melajukan sepeda motornya hingga di depan pintu masuk ke area parkir di bibir pantai sebelum masuk pintu kapal. Petugas melalui corong menyampaikan bahwa sudah tidak ada tempat untuk kendaraan roda dua. Penumpang pun hampir tidak dapat lagi diterima.
Gadis itu mendekati petugas. Berbincang-bincang beberapa saat. Nampak petugas tidak bersedia menerima argumentasi gadis itu. Sementara itu seorang pemuda menyusul dan turut menyela dalam perbincangan itu. Petugas bersikeras untuk tidak menerima lagi kendaraan untuk diseberangkan. Perdebatan dengan masing-masing argumentasi yang dapat diterima. Si gadis dan si ganteng mempertahankan pendapatnya hanya untuk bisa mendapatkan tempat di dalam kapal. Mereka bertiga, dan dua unit sepeda motor. Akhirnya mereka diterima.
Gadis itu meraih handphone dan memberi kabar kepada petugas di loket bahwa ia boleh mendapat tiket bersama dua orang pemuda. Namanya disebutkan.
Pak, beta bole nae deng motor. Tolong isi beta pung nama pak. Liat di itu kartu nama yang beta kasi tenga tu,” begitu ia memberi kabar pada petugas di loket.
Kaka. Kaka pulang pi loket sana ko beli tiket su. Ais tolong bawa deng beta punya ee. Ini beta titip doi ko bayar beta punya. Bisa ko?” Gadis itu meminta pada dua pemuda di depannya sambil menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu.
“Nona nama sapa ko?” tanya pemuda yang dimintai tolong.
“Beti. Nanti sa, kalo su sampe di kapal baru ba’omong. Te lai sadiki su jalan. Balom dapa tampa lai bagini.” jawab gadis itu yang ternyata bernama Beti.
“Beta pung nama Messakh.” Kata Messakh sambil menyodorkan tangan untuk berjabatan sekaligus berkenalan.
Beti menerima tangan itu dan menyebutkan namanya, “Beti!”
Beberapa menit kemudian pemuda yang satunya lagi tiba dengan tiket di tangannya. Beti menerima tiket dari tangan pemuda itu. Ketiganya mengambil ancang-ancang dengan bersepeda motor untuk masuk ke dalam kapal. Di pintu masuk kapal, tiket diterima oleh petugas dengan wajah yang nampak sangat marah yang tertahan. Petugas terpaksa harus mengatur sedemikian rupa agar kedua sepeda motor itu mendapat tempat.
Beti seakan tidak peduli pada petugas yang menunjukkan wajah seperti itu. Sementara itu Messakh dan adiknya Daniel masih sempat memberi senyuman pada petugas sekaligus meminta maaf karena keterlambatan mereka.
“Maaf, Pak. Botong talat sadiki. Ini su bekin repot. Ma, botong hanya bisa bilang trima kasi su dapa tampa. Bekin repot bapa dong, ma botong bisa pulang kampung.” Begitu Messakh memberi penjelasan pada petugas di pintu masuk kapal, sambil merapikan posisi sepeda motornya.
Beti sudah mendapat tempat setelah dipersilahkan oleh beberapa orang yang sudah mengenal dan mengetahui siapa dia yang datang terlambat. Sedangkan Messakh masih berdiri agak bingung mencari tempat karena hampir setiap lorong sudah ditempati oleh penumpang. Daniel, adiknya mengajaknya ke dek atas. Sayang sekali di sana pun sudah penuh. Mereka akhirnya memutuskan untuk duduk di samping sepeda motor yang sudah agak terhimpit itu.
“Duduk di samping motor, sa… Kapal jalan ampa jam. Nanti botong pake waktu ko jalan-jalan. Ampa jam sonde lama botong su sampe di Pante Baru. Botong yang kaluar daluan. Tadi masok paling balakang, to? Begitu Daniel memberi penjelasan pada kakaknya Messakh.
“Ia, hanya beta pikir kalo bisa ada tampa na, beta mau baring sadiki. Beta rasa pusing.” kata Messakh.
“Tunggu ko beta pi minta di itu Om Sopir di sana. Mudah-mudahan dia masi inga beta.” Daniel mengatakan itu lalu beranjak pergi di antara himpitan kendaraan dan penumpang. Ia berhasil mendekati seseorang yang dikenalnya.
“Om Feri, selamat pagi. Bale lai pi Rote ee… Pasti yang Om Feri bawa minggu lalu ada ontong, andia ko su bale lai, oo… ?“ kata Daniel dalam nada canda dibumbui selidik.
“Ontong apa? Itu bos dong pung urusan. Beta hanya sopir sa… Kalo suru pulang beta pulang. Pasti ada barang yang beta musti bawa maso Kupang lai. Lu inga to, minggu lalu bawa bawang deng gula aer, gula lempeng, kacang tanah, deng kacang ijo. Na, beta antar di pasar. Bos su tunggu memang.” Om Feri memberi penjelasan pada Daniel.
“Om. Omong-omong ma beta mau minta tolong.” kata Daniel.
“Minta tolong apa?” tanya Om Feri.
“Beta deng beta pung kaka. Beta datang jemput ko botong pulang pi Rote. Dia agak lama di Surabaya. Kemarin baru turun. Na, dia mau tidor ma, Om lia sa, tampa sonde ada lai. Kalo Om Feri bole na, beta minta tampa muka ko kaka bisa tidor barang satu jam. Bisa ko?” pinta Daniel.
“Lu pung kaka mana?” tanya Om Feri. “Pi pange bawa datang sini. Bole tidor di muka.” kata Om Feri mengizinkan.
Messakh akhirnya mendapat tempat untuk tidur. Ia begitu nyenyak. Sementara kapal sudah melaju. Banyak di antara para penumpang yang tertidur pulas. Ada pula yang sekedar berjalan kian- kemari. Ada pula yang duduk-duduk saja, bercanda, dan lain-lain aksi seperti foto bareng, selfi atau duduk menikmati makanan atau minuman seadanya di atas kapal itu.
Beti, ada di antara para penumpang. Ia cukup gesit dan mudah bergaul. Ia berkesempatan bercerita dengan anggota prajurit baru yang ada di atas kapal itu. Nampaknya ada yang dia kenal sehingga ada derai tawa yang menunjukkan ketidakcanggungan di antara mereka.
Satu setengah jam berlalu. Messakh terjaga dari tidurnya. Setelah berbasa-basi mengucapkan terima kasih kepada Om Feri, sang sopir yang memberi tempat padanya untuk beristirahat, Messakh pun mencoba untuk bersosialisasi di atas kapal itu. Ia masih ingat gadis di pelabuhan Bolok-Kupang yang sama-sama nyaris tidak dapat menyeberang ke Rote karena alasan keterlambatan. Ia mencoba membuang mata mencari-cari keberadaan gadis itu. Akhirnya matanya tertumbuk pada gadis itu yang berdiri di salah satu sudut kapal sambil memandang keluar. Rupanya sedang menikmati perjalanan laut yang hanya memakan waktu kurang lebih empat jam. Ia tidak lagi bercerita dengan para prajurit muda tadi. Perlahan Messakh mendekati Beti.
“Halo. Boleh berdiri di sekitar tempat ini?” tanya Messakh.
“Ko ini beta pung tampa ko minta izin. Ini kapal. Orang mau duduk, badiri, jongkok, tidor, jalan-jalan, ko mau apa itu orang pung urusan.” jawab Beti agak ketus.
“Rupanya saya ada di tempat yang salah, dan waktu yang kurang tepat. Tapi … boleh untuk sekedar menyambung cerita, paling tidak mengisi waktu, berhubung tadi pagi kita senasib, bukan? Messakh berusaha masuk dalam percakapan dengan pancingan situasi pagi hari ketika masih berada di pelabuhan Bolok.
“We, lu orang mana ko pake Bahasa Indonesia yang baik dan benar, ni? Hebat!” kata Beti sinis.
“Saya tidak dari mana-mana. Saya orang dari Rote yang agak lama di luar sana….” terpotong
“Oh… Pantas ko bagitu. Ma andia, kalo pulang kampung na, jang lupa ko pake bahasa daerah te, ortu dong sonde talalu mangarti kalo bahasa tinggi-tinggi, wuang? Beti menyela.
“Ngomong-ngomong, saya mau minta terima kasih. Saya kira, kalau saja nona, ...
“Beti! Kata Beti memberitahukan namanya.
“Ya. Beti. Saya minta terima kasih. Dan, selanjutnya, boleh berkenalan?” tanya Messakh sambil menyodorkan tangan.
Beti menerima jabatan tangan Messakh.
“Messakh.”kapal feri b
Perkenalan yang singkat, tetapi berkualitas. Sifat supelnya Beti dan sedikit kesabaran Messakh membuat keduanya segera dapat cair dalam suasana yang mengantar mereka dalam bercerita mengisi kekosongan waktu. Mereka berdua terlibat dalam percakapan seputar orang-orang muda Rote-Ndao yang banyak merantau meninggalkan Nusa Lote, Ndao, Landu, Nuse untuk banyak kepentingan. Di antara kepentingan itu adalah studi, untuk segala jenjang pendidikan, varian program studi dan keahlian. Bahkan di antaranya banyak sudah yang mengharumkan nama daerah, baik level lokal di Rote-Ndao, provinsi NTT hingga level nasional dan internasional. Keduanya sempat menyebut nama-nama seperti W. Z. Johannes, Herman Johannes, Adrianus Mooy, Pdt. Oktovianus, dan Charles Messang.
Tiba-tiba kapal feri mengalami goncangan hebat. Dari pengeras suara terdengar pengumuman agar para penumpang tetap tenang. Ternyata mereka sudah memasuki selat Puku’afu. Rupanya para penumpang pun sudah mahfum dengan situasi ini, walau tidak dapat dipungkiri bahwa ada di antaranya sempat pucat, dan terlihat ada yang mengeluarkan dan membuang cairan berisi melalui mulut. Selat Puku’afu sering membahayakan kapal-kapal dalam pelayaranan mereka. Korban sudah berjatuhan secara berulang di selat ini. Selat yang sering membuat berita yang menggegerkan. Selat Maut, Selat Tangis dan Duka. Kuburan tanpa nama untuk para pelayar dan pelaut yang na’as yang melintasi selat bukan pada waktu yang tepat. Selat dengan berjuta cerita dan kenangan.
Melewati Puku’afu, Messakh teringat cerita kepahlawanan Foeh Mbura dan rombongan tiga perahu layar yang berangkat ke Batavia. Sangga Ndolu, begitu nama ekspedisi ini. Mereka tidak langsung berlayar ke Batavia, tetapi terbawa arus sampai ke pulau Pasir. Berbekal makanan apa adanya yaitu campuran gula cair dengan parutan kelapa yang disebut leppa mereka dapat bertahan hidup untuk melanjutkan pelayaran ke Batavia. Mereka akhirnya tiba di sana sebagai rombongan ekspedisi dengan ide-ide yang brilian. Mereka ingin mengetahui apa dan bagaimana dunia luar itu, perkembangan dan perubahan apa yang didapatkan untuk kiranya dapat diterapkan sekembalinya dari sana. Messakh mengajak Beti bercerita tentang hal ini.
Rasanya Beti kurang nyaman dengan kisah-kisah masa lampau. Ia kurang menyukai cerita sejarah. Tapi, Messakh tidak kehabisan akal. Setelah melalui candaan segar, akhirnya Messakh dapat memulai kisah itu.
Feri yang membawa mereka akhirnya merapat ke pelabuhan Pantai Baru. Mereka akan segera berpisah, namun Messakh tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Ia masih sempat mengajak Beti mengambil foto dengan latar belakang kapal feri. Adegan lainnya masing-masing duduk di atas sepeda motornya. Dan, akhirnya mereka akan berpisah setelah sebelumnya saling memberikan nomor telepon genggam untuk saling berkomunikasi.
Pertemanan Messakh dan Beti terus berlangsung. Sebagai alumni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, keduanya saling berbagi cerita tentang keinginan mereka untuk menjadi guru. Sekalipun berjauhan mereka tetap dapat saling berkomunikasi dan bahkan bersua di kota Ba’a. Di sana mereka bergabung dengan pemuda Ita Esa dalma kegiatan-kegiatan sosial kepemudaan. Sesekali Messakh berkunjung ke rumah Beti untuk kepentingan yang direka-rekakan.
Keseringan bersama membuat benih-benih cinta tumbuh di hati keduanya. Sayangnya, Messakh belum ada keberanian untuk mengutarakannya. Ia berjanji di dalam hatinya, ia akan menyatakannya kelak, setelah ia telah menjadi guru.
Suatu sore dalam siarannya, radio Suara Malole mengumumkan bahwa akan ada penerimaan calon pegawai negeri sipil untuk berbagai jabatan, di antaranya guru. Messakh mendengar pengumuman itu. Ia mengabarkannya kepada Beti. Beti pun mengetahui kabar dari radionya.
Proses penerimaan calon pegawai negeri pun mereka ikuti. Tahapan demi tahapan dilewati. Pengurusan berkas dari berbagai instansi yang berhubungan dengan hal itu diikuti oleh Messakh dan Beti. Mereka menjadi semakin akrab. Testing dan proses berlangsung sampai dengan pengumuman kembali melalui radio Suara Malole pun mereka ikuti.
“Messakh,” suara Beti dari balik telepon
“Ya…” jawab Messakh.
“Beta dengar pengumuman di radio, botong dua pung nama ada. Lulus. Beta dengar ada teman laen dong ju. Itu teman dari Namberala yang dia pung nama Dorkas. Ais yang dari Ndao yang dia pung nama Benja tu, lulus ju. Wui… itu Benja sama ke agak kapala batu, ma dia lulus ju, ee…” Beti menguraikan.
“Yang pasti, botong lulus. Jadi, siap-siap ko jadi ibu guru. Pasti bakatumu beta mesti pange bilang, ibu Beti.” jawab Messakh.
“Lu ju nanti jadi Pak Messakh.” balas Beti tersenyum di balik telponnya.
Senyuman berarti milik Beti di bawah terang bulan purnama malam itu diselingi angin semilir pantai Rote Timur.gadis dan hp

Check Also

Pengumuman Hasil Ujian SMAN 2 Taebenu Dibarengi dengan Temu Pisah 2 Guru

Taebenu-InfoNTT.com,- Mengakhiri jalan panjang yang penuh dengan tantangan, hambatan dan cobaan, semuanya untuk membentuk pribadi …

Tinggalkan Balasan