Merdeka dalam Kesunyian dan Kecemasan

Heronimus Bani
Heronimus Bani

Merdeka dalam Kesunyian dan Kecemasan

Tujuh laksa berpanca telah kau lewati. Masa-masa yang sulit di awal kehadiranmu yang menegangkan, dimana kau kumandangkan merdeka di depan moncong senjata. Kau tetap kibarkan panji kemenanganmu, merah-putih. Kau tak pedulikan kata sang penguasa. Kau bangun dan tegak berdiri di keletihan perjuangan mengusir kolonial dan kaum pengagung imperial.

Seluruh masa kritis pada titik-titik waktu pergolakan kau padamkan apinya walau harus kau korbankan jiwa dan raga, nama dan harta. Tapi, kau terus kibarkan panji kemenangan di atas landasan lima butir mutiara bernas milik bangsamu yang menjadi jiwa, roh, dimana dari sana sudut pandang diarahkan mencapai visi bangsa.

Read More

Kau telah pernah tiba pada masa gemilang swasembada pangan dan tinggal landas. Sayangnya kecepatan itu bagai burung puyuh belaka hingga kau harus turun merayap kembali karena ributnya anak-anakmu di pentas politik. Saat kau hendak melakukan promosi dan demosi para pemimpinmu, anak-anakmu tak rela memberi pangkuan pada yang dipromosikan hingga lahirlah reformasi dengan segala trik dan intrik atas nama demokrasi. Demokrasi kita telah menaikkan derajat anak bangsa hingga melahirkan frame baru, … dia adalah kita.

Kini, ketika laut sudah dan hendak terus dipunggungi, ketika sudut-sudut terpencil sudah dan sedang hendak dirambah dalam sentuhan dia adalah kita, malah datang korona padamu dan pada anak bangsamu.

Galau dan Cemas menjadi sebab-musabab penanganan yang merogoh kocek negara sedalam-dalamnya. Refocusing menjadi tonggak baru, subsidi sesuatu yang biasa menjadi luar biasa hingga para pekerja berupah minimum pun disubsidi.

Galau dan cemas menjadikan negeri makin sunyi pada masa dimana hari lahirmu akan diperingati. Di udara tiada atraksi para penerbang. Di laut, gelombang laut dan angin rupanya rindu pula melihat aksi para pelaut. Di darat, pepohonan, bukit, lembah, danau, sungai dan banyak alun-alun bagai menunduk menunggu diketuk dan mendapaatkan kebasan merah-putih.

Kesunyian melanda negri? Tidak! Di sana ada simpang-siur kritik tanpa solusi, saran bernada sinis, solusi tanpa salut pada negeri dan pemimpinnya.

 

Koro’oto, 16 Agustus 2020

Heronimus Bani

Related posts

Leave a Reply