Home / News / Geli dan Gelisah, Seri Ke-2 Tulisan Perjalanan di Payap University Chiang Mai Thailand

Geli dan Gelisah, Seri Ke-2 Tulisan Perjalanan di Payap University Chiang Mai Thailand

InfoNTT.com-, Halo Pembaca. Salam sejahtera. Ass.wr.wb. Ohm Santi Santi Santi Ohm. Namo Budaye. Salam Kebajikan. Keren…

Saya penuhi janji sebagai hutang dulu.

Aih… kali ini saya gelisah benar-benar. Artikel yang satu ini saya tulis dua kali, unggah selalu gagal. Semoga kali ketiga ini berhasil

Saya ingat untuk memenuhi janji saya pada pembaca. Jadi, saya terus berusaha agar tulisan ini berhasil diunggah. Ceritanya berlanjut darimana?

Oh ya. Dari Denpasar. Ya. Kami bermalam di Denpasar di hotel Puri Nusantara. Pagi tiba. Ada cerita bahwa ada yang bangun tengah malam, lalu tidur lagi. … haha.. Gelisah…

Kami siap berangkat setelah dibangunkan oleh petugas hotel pada pukul empat subuh. Sebelum berangkat senior gelisah. Ia mau membuka koper, ternyata, koper tak sudi dibuka. Koper sayapun ada eror pegangannya. Gelisah? Sedikit, tentu. Jalani saja.

Ketika berangkat, sopir yangmengantarkan bertanya, tujuan ke mana? Jawabannya, “Thailand.” Ia balas menimpali, “Oh, internasional… .” Akh… rasa beda sedikit… haha… geli.

Tiba di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai Denpasar. Kami segera menuju ruang pemeriksaan barang. Bingung setelahnya. Kami menuju counter yang mana? Cari-cari, tanya-tanya counter Air Asia di lantai bawah. Kami tiba di sana, antrian sudah mulai mengular. Lalu, ada yang gelisah. Tiket? Akh… setelah bongkar map fail, ada tiket di sana.

Sesudah check in, kami menuju ex-ray. Lewat. Kini gelisah lagi. Ruang tunggu dimana? Saya bertanya pada seorang petugas. Ia memperhatikan sebentar boarding pass, di sana ada nomor penerbangan QZ 520. Lalu, ada papan pengumuman yang menunjuk Gate 6B. Kami menuju ke sana. Di sana, saya bertanya lagi, “Di sini ruang tunggu untuk pesawat dengan nomor penerbangan QZ520?”

Ia menjawab, “Bapak stand by, aja!”

Akh… Jawaban yang kurang memuaskan. Tapi, dijalani. Setelah semua penumpang Air Asia ke Singapura dan dua penerbangan lain di ruang tunggu ini berangkat, ada pengumuman, “Penumpang pesawat dengan nomor penerbangan QZ520 diharapkan menuju ruang tunggu di pintu 4!”

Kami harus naik tangga ke lantai atas. Setengah berlari. Di sana, tidak lama kemudian, petugas membuka pintu check penumpang untuk segera mengumumkan bahwa saatnya boarding. Di dalam pesawat, kami berpisah tempat duduk. Kami mendapat masing-masing dua boarding pass. Satunya untuk penerbangan internasional, satunya domestic setelah tiba di Muandong-Bangkok.

Di dalam pesawat, beberapa kali ada pengumuman untuk tetap berada di tempat berhubung terjadi goncangan (turbelensi). Saya gelisah. Kamar kecil tidak diperkenankan ketika goncangan terjadi. Saya paksakan ke sana. Petugas mengingatkan agar berhati-hati. Ternyata, di dalam kamar kecil, tiba-tiba pesawat goncang lagi lebih keras, tepat ketika saya harus melepas penumpang kecil. Haha…

Tiba di darat setelah empat jam lima belas menit penerbangan. Kini kami harus ke Imigrasi. Ternyata ada formulir yang diisi oleh dua putri ditinggalkan di pesawat. Mereka harus mengisinya lagi. Saya lebih dahulu masuk setelah diarahkan petugas. Oh.. gelisah. Menunggu hampir sejam. Ketika tiba di depan petugas imigrasi, kami justru salah kamar. Semestinya kami menuju ruang pemeriksaan untuk melanjutkan penerbangan domestic. Aih… Geli…

Setelah bertanya-tanya, petugas-petugas hanya menunjuk jalan. Tidak ada yang mengantarkan ke tempat dimana kami harus melakukan check in penerbangan transit lalu menuju loket imigrasi. Bersyukur. Kami lewati semua itu dengan kelelahan dan kegelisahan. Kami menuju ruang tunggu 77. Dimana itu? Kami harus cari lagi. Turun tangga. Saya pikir sudah tiba, ternyata belum. Masih satu tangga lagi. Sebaiknya makan dulu. Kampung tengah sudah kendor. Lalu dibelikanlah makanan untuk kami. Senior makan dari yang dibawa dari dalam pesawat.

Setelah sampai di ruang tunggu pintu 77, kami lega. Berselang sekitar kurang dari lima belas menit, kami pun harus berangkat lagi. Kali ini baru terasa lega? Belum. Di pesawat, senior duduk di kursi prioritas (no 5/kursi merah). Kami bertiga di tengah. Penerbangan lebih dari satu jam. Makanan yang disuguhkan agak terlambat. Ketika hendak mendarat seorang di antara kami masih menikmati makanan, padahal pesawat sedang goncang berat.

Akhirnya kami tiba di darat. Senior telah lebih dahulu. Ia “raib”. Haha… saya pakai istilah raib. Kami ditunggui seorang petugas Air Asia yang membawa papan bertuliskan nama-nama penumpang yang bagasinya harus diambil di tempat pengambilan barang kedatangan internasional. Senior sudah tidak kelihatan. Kemana?

Kami bertanya-tanya dimana area pengambilan barang. Dua petugas menolong kami. Petugas terakhir justru sangat membantu dengan membukakan pintu agar kami dapat tiba di sana. Tepat setelah seluruh bagasi kami ambil, senior pun tiba.

Hai… resah dan gelisah. Menunggu di sini. Di ruang klaim barang, barang-barang diambil, kau kemana saja, tuan…

Akh… Satu hal yang pasti, setelah itu, geli dan gelisah mungkin berakhir? (*)

Check Also

Lusianus Tusalakh Dapati Kantor Camat Nunbena Kosong di Jam Kerja

Nunbena-InfoNTT.com,- Kantor Camat Nunbena di Kabupaten TTS didapati tidak berpenghuni tetapi dalam keadaan pintu terbuka …

One comment

  1. Selalu ads pengalaman yang mendebarkan ketika. Erkunjung ke. Egeri orang.
    Bandara memang kadang penuh kenangan begitu juga dengan pesawat

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: