Home / Puisi (page 5)

Puisi

Apakah Keadilan Hukum Sebuah Ilusi?

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); Ketika hukum berbicara soal keadilan, ketika hukum berbicara soal kepastian ketika hukum berbicara soal persamaan dimana hukum ketika dibutuhkan Ketika hukum mengatakan anti diskiriminasi ketika hukum mengatakan anti ketidak adilan ketika hukum mengatakan anti perbedaan dimana hukum ketika ditegakkan secara diskriminasi Mengapa si kaya bisa …

Read More »

Biarkan Aku Berteduh di …

Diam … Bisu … . Tenang … Lengang … . Hening … . Bening … Teduh … . Kegaduhan tak mengganggu diamnya aku. Suara jangkrik tak mampu menembus kebisuan. Tangis bayi menetek tak menggubris ketenangan. Nyanyian nada gembira anak tak mengusik lengangnya area. Dalam keheningan sang pendo’a ingin memanjatkan syukur. …

Read More »

Puisi| Mayana Runesi : Daun-Daun Yang Gugur

Masihkah kau ingat cerita lama…. Ketika alam masih padat dengan ramah… Pepohonan masih hijau dengan kata.. Daun-daun masih segar penuh makna? Masihkah kau ingat senandung lama Kala mata menjadi pintu hati bicara? Lantaran sedih tak pernah sendiri dirasa? Sewaktu petang membayang Bayar sudah kisah semua Kala itu semua Cinta disini …

Read More »

Mayana Runesi : ”Bukan Hanya Sekedar Sajak”

O, bukan hanya sekedar kata-kata saja yang berangkat dri hati yang menanjak, yang sekali baca langsung beranjak, O, bukan! O, pujangga Simpan segala kata, Pakai rasa dalam hati Sehingga sekali baca tidak langsung beranjak, Dipikir-pikir lantas dibuat jejak By. Mayana Runesi

Read More »

Litani Panen (dalam bahasa Amarasi)

Koi Ama’ Uisneno. Ama’ Athoen neno-tunan, Sonaf Tetus In Uisn am In Tuan. Hai mfonat amtaam meit mtean Ho humam ma Ho matam akninu’ naan, tua. Hai arkai et asiat-anabit ma koro-manu kai, hai meik pena’-maka’ ma uki-noah. hai arkai meik sin fu’-fu’an ma ba-baun ein. Hai mait ma msee’ …

Read More »

Aku dan Tuhan dalam Mimpi Anak Sekolah di Desa

Tuhan… Aku menyapa-Mu, Bapa. Izinkanlah aku datang mendekat kepada-Mu. Tuhanpun menjawab, “Boleh anak-Ku. Setiap sa’at kau boleh datang mendekat. Bahkan siapapun boleh mendekat kepada-Ku.” Tuhan… Ketika aku bayi dan kanak-kanak: Aku belajar berbicara dengan mengecoh, aku belajar berjalan dengan merangkak dan tertatih, aku belajar menulis dengan menggores-gores, aku membaca dengan …

Read More »

Andaikan Jari dan Tangan

Pembaca infontt.com. Puisi berikut ini pernah diposting pada facebook Grup INFO NTT. Sengaja saya kutip kembali dan posting di sini. Semoga menyukakan hati pembaca. Hai… Andai jari-jemariku lebih dari lima, Entah apa namanya yang keenam dan ketujuh? Sayangnya jari-jemariku hanya lima, Itupun lebih banyak dipakai menunjuk. Oh… Bayangkan kalau jariku …

Read More »

Mama, Tersenyumlah

By: Heronimus Bani Mama, … Ketika tanpa sengaja aku memandang potretmu, Aku terkenang padamu. Mama, Pada rahimmu Tuhan menitipkan anak dan anak-anak-Nya, Mama menyebut anak dan anak-anak-Nya sebagai anak dan anak-anakmu, Buah cinta, kasih dan sayang Papa dan Mama, Aku satu di antara anak dan anak-anak-Nya, anakmu Aku menikmati dan …

Read More »

Menemukan Udara Baru

By: Heronimus Bani Mula aksara kumasuki atmosfir edukasi, Kutemukan udara sejuk nuansa kasih. Rotasi waktu bergulir tanpa henti, Mengikuti revolusi planet bumi terhadap matahari, Hingga berhitung dalam kalender matahari, Sambil memperhitungkan revolusi bulan terhadap bumi, Yang mengantar kalender bulan terkalkulasi. Seluruh waktu isinya cure, instructional, mengantar kaum pelajar, Membelah insan …

Read More »

Maka, Tolonglah Dirimu

Heronimus Bani Senja mendekat ke bibir peraduannya. Teluk Mutiara diam dalam bisunya. Karang-karang di bibir pantai kokoh pada kedudukannya. Kerikil pantai enggan bergeser dari pembaringannya. Terdengar suara ramai melengking. Menggoncang sukma ketika malam menjelang. Hari telah berlalu ketika suara-suara itu terdengar, “tolong, tolong, tolong!” Gerangan apa sang gema menggaungkan teriak …

Read More »