Jumat , Desember 15 2017
Home / Opini / Produk Budaya non Benda

Produk Budaya non Benda

Halo pembaca infontt.com Saya seorang peserta didik di SMA Negeri 01 Amarasi. Saya belum lama menjadi peserta didik di sana, berhubung saya baru menamatkan sekolah menengah pertama.

Anselans Petervi
Ini pengalaman saya menulis. Sewaktu kami ditugaskan untuk mencari produk budaya non benda, saya bingung. Lalu, saya berdiskusi dengan orang tua saya. Hasilnya, saya bawa ke sekolah, tapi saya mau tempatkan di media ini sebagai ajang latih diri menulis. Bagaimana pembaca?

Produk budaya non benda di Amarasi

1. Bahasa Daerah Amarasi
Bahasa Amarasi adalah salah satu cabang bahasa dari induk bahasa daerah yang disebut Uab Meto’.
Di Amarasi terdapat dua dialek yang terkenal, yaitu Ro’is dan Kotos.
Bahasa Amarasi yang dipakai terdapat klasifikasinya. Ada bahasa adat yang tinggi nilainya dan ada bahasa pergaulan, atau bahasa sehari-hari di dalam masyarakat.
Contoh:

Kata Bahasa pergaulan Bahasa adat/sopan

Makan Muah, taah Bukae, tua, tais je nsae, tua
Duduk Ttook, mumteer Ttuun ok, tua
Tidur Tuup Kuus ok, tua

2. Nyanyian/Lagu daerah Amarasi
Nyanyian atau lagu dipakai mula-mula untuk menghibur diri sendiri dan anak-anak. Seorang ibu bernyanyi sambil menidurkan anak sebagai contohnya. Nyanyian juga dipakai untuk menghibur orang banyak. Ketika orang mengenal agama, nyanyian dipakai untuk memuji Tuhan.
Nyanyian juga dipakai sebagai pengisi musik. Lagu-lagu daerah Amarasi yang mudah diingat seperti: To tiut, Ri’arekot, dan lain-lain

3. Tarian Daerah Amarasi
Tarian dipakai untuk menghibur. Orang yang menari selalu diawali dari kegembiraan hati. Mereka yang menonton akan terhibur melihat seorang penari melanggak-lenggokkan tubuh atau anggota tubuh/badan.
Tarian sekalipun kelihatan namun tak dapat dipegang, sehingga ia dapat dikelompokkan sebagai produk budaya non benda.
Tari-tarian dari Amarasi yang terkenal seperti: bsoo’ ‘sene; rabeka, teunraen, dan herin.

4. Musik
Alat musik dapat dilihat. Namun bunyi yang dihasilkan oleh alat musik tidak dapat dipegang kecuali dirasakan, dinikmati keindahan alunannya.
Alat musik di Amarasi yang sudah hilang seperti: ‘reku ‘boko, ‘he’o; Sementara yang masih kelihatan dan bisa dimainkan baik oleh orang tua maupun anak-anak seperti; gong (‘sene) dan tambur (‘tufu)

Beginilah tulisan saya. Semoga mendapat tempat di hati pembaca infontt.com. Terima kasih.

Check Also

Kotaraja Kolana Rumah Keduaku

Kalabahi, infontt.com Zet Sone, S.Pd.SD, menyelesaikan perguruan tinggi pada Universitas Terbuka, UPBJJ Kelas Kalabahi pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *