Sabtu , November 25 2017
Home / Pendidikan / Kearifan Lokal, Lompatan masuk dunia Pendidikan abad XXI
Pater Gregor Neonbasu, Ph.D

Kearifan Lokal, Lompatan masuk dunia Pendidikan abad XXI

Kupang,infontt.com Dalam dunia penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, pemerintah sudah menstandarisasikannya dalam 8 standar pendidikan nasional. Standar-standar ini menjadi acuan penyelenggara pendidikan baik oleh pemerintah (pusat, daerah) hingga guru dan masyarakat.

Dalam menghadapi pendidikan di abad XXI ini, persaingan yang semakin ketat dalam penyelenggaraan pendidikan diperlukan kesiapan-kesiapan para pelaku, khususnya di sekolah-sekolah termasuk SD dan SMP. Mengejar kualitas out put adalah perlu, tetapi jangan sampai meninggalkan akar budaya. Bila out put tercabut dari akar budaya (yang positif), maka mereka tidak lagi menjadi diri mereka sendiri (dalam komunitas). Padahal, setiap kita mesti memahami siapa diri kita (termasuk di dalam komunitas) di dalam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang heterogen ini, dengan memahami Pancasila sebagai akar budaya, yang dengan kekuatannya mampu mempersatukan bangsa ini.

Demikian sekelumit rangkuman materi yang disampaikan Pater Gregor Neonbasu, Ph.D, Aantropolog dan Ketua Yayasan Arnoldus ketika menjadi salah satu pemateri dalam Semiloka dan Diskusi Ilmiah para Kepala Sekolah SD, SMP dan Pengawas se-Kabupaten Kupang di hotel Pelangi (28-31/08/17) Kota Kupang.

Salah satu idiom filosofis yang diungkapkan Pater adalah, ike nkeo, … Filosofi ini menggambarkan adanya pengetahuan dan ketrampilan yang dimiliki masyarakat lokal yang memahami siapa mereka, apa yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi diri (dalam komunitas) agar berdampak luas pada masyarakat.

Jadi, filosofi penyelenggaraan pendidikan menghadapi abad XXI ini menurut sang Antropolog (aoin’ meto’) ini adalah berawal dari kearifan lokal. Jangan abai pada hal-hal positif pada masyarakat lokal. Kesempatan mengembangkan standar isi dari muatan materi pembelajaran mestinya memuat hal-hal yang sifatnya lokal, agar anak memahami lingkungan sekitar kehidupannya agar dapat “melompat” ke dunia luas.

Seringkali orang (mungkin termasuk para guru) berpikir, belajar banyak hal di luar anak (siswa) akan mengantar mereka lebih baik (baca: berkualitas). Apa artinya kemampuan otak depan, jika otak belakang tidak diberdayakan sejak awal? Pater Neonbasu menggunakan istilah otak depan dan otak belakang. Ia kurang menggunakan otak kiri dan otak kanan.

Maksud dari materi yang disampaikan Pater Neonbasu adalah hendak menyadarkan para peserta semiloka, bahwa pendidikan karakter bangsa dimulai dari konsep pendidikan karakter yang sifatnya lokalistis/domestik.

Di akhir paparannya, sang Pater berpesan kepada para guru, jadilah guru yang berkarakter Pancasila. (**)

Check Also

Suara Gembala MS dalam rangka Bulan Lingkungan Hidup

  SUARA GEMBALA MAJELIS SINODE GMIT     Kepada Anggota GMIT di mana saja berada, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *