Senin , Januari 22 2018
Home / Cerpen / Kuburkan Aku Di Sisi Kekasihku

Kuburkan Aku Di Sisi Kekasihku

ilustrasi, dream.co.id
ilustrasi, dream.co.id

Saat-saat terakhir telah menjelang. Mataku menerawang ke sekeliling kamar. Usahaku sia-sia. Anak-anakku berdiri bagai pagar mengelilingi sisi pembaringanku. Para menantu duduk terpekur. Cucu-cucuku berbisik-bisik. Aku sadar kini, malaikat maut segera akan menjemput dan mengawalku kembali ke asal-muasalku.

Aku masih bisa menghitung dan mengingat anak-anakku. Simon, Noni, Onis, Soni, Menti, si kembar pertama Sanci dan Sarci, si kembar kedua Renci dan Rahab. Aku bersyukur diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk mengandung, melahirkan dan membesarkan mereka. Tentu saja aku tidak sendirian. Aku dan suamiku, Mozes. Aku benar-benar berusaha mengingat dan mengenang mereka. Seandainya saja aku bisa duduk dan berbicara kepada mereka, aku ingin berkisah dalam nostalgia masa kecil, masa remaja, dan seterusnya mengikuti arus waktu dalam kualitas isian yang kami lewati bersama.

Mozes, suamiku yang teramat mencintai keluarga. Ia pekerja keras. Seorang guru sekolah dasar di pedalaman yang jauh dari kota. Ketika kami harus ke kota, kami mesti berjalan kaki sejauh tujuh kilometer untuk mencapai titik keberangkatan dimana orang menyebutnya cabang. Padahal yang dimaksudkan adalah jalan simpang antara jalan utama dan jalan menuju ke desa lain. Jalanan belum beraspal itulah yang kami harus lalui. Jalan utama pun belum beraspal. Kendaraan yang lewat pun masih jarang. Maka, menunggu datangnya kendaraan pada masa itu bersama suami tercinta adalah salah satu saat yang menjadikan kami semakin menikmati cinta sepasang kekasih.

Aku teringat ketika ia menyatakan cintanya. Aku sungguh tersipu malu. Kami sedesa tinggalnya. Bersekolah ke kota bersama. Benih cinta tumbuh ketika kami terus bersama baik di sekolah guru maupun ketika berlibur ke desa. Selalu bersama menjadikan kami bukan saja teman tetapi sudah lebih dari sekedar teman. Itulah kami. Cinta telah mengikat kami, memeluk kami dan melanglangkan buaian kami. Tapi kami menyadarinya sehingga mampu mempertahankan kemurniannya. Kami akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Kami merajutnya hingga menjadi sepasang suami-isteri. Suami-isteri yang berprofesi sebagai guru. Guru sekolah dasar. Malam ini kukenang dia, di saat menjelang malaikat maut menjemputku.

Aku mencoba menggerakkan tangan kiriku. Serentak mereka ingin membantu. Aku ingin bangun, sayangnya tubuhku sudah rapuh. Kerapuhan telah menggerogoti tubuh indahku ketika masih gadis, ibu muda, ibu guru dan ibu dari sembilan buah hati yang kulahirkan tujuh kali. Aku dan suamiku tak memilih program nasional keluarga berencana. Memang ketatlah masa itu harus mengikuti program itu. Tapi, tak apalah. Kami bertanggung jawab. Sebagaimana mereka saat ini bertanggung jawab di depan mataku. Mereka menunggu saat-saat terakhir akan diapakan diriku, tubuhku yang akan segera tidak bernyawa.

“Adik-adik. Mari kita bersama mama dalam do’a.”
Kudengar yang tertua, Simon mengajak adik-adiknya untuk berdo’a. Tentu saja bukan mereka sendirian. Seluruh penghuni ruangan akan bersama-sama dalam do’a itu. Tapi, siapakah yang akan memimpin do’a? Oh, ternyata Simon sendiri yang akan memimpinnya.

Mama! Mama! Botong sonde dengar mama pung suara ma botong lia mama pung mata sama ke mau ba’omong deng botong. Botong mau sambayang, mama.” Begitu Simon berbicara padaku.
Ia memulai dengan do’anya. Aku memperhatikan setiap anak-anakku ketika mereka berdo’a. Mereka sungguh-sungguh khusuk. Suami atau isteri mereka dan anak-anak mereka khusuk, kecuali yang masih berumur di bawah sepuluh tahun. Mereka belum memahami apa arti hidup, apalagi ketika harus menghadapi saat-saat terakhir dalam hidup. Di dalam do’a, Simon menyebutkan namaku dengan penyakit yang kuderita. Ya. Aku tahu kalau mereka ingin aku sembuh. Tapi apalah arti kesembuhan itu jika hanya akan menambah beban pada mereka. Aku telah pasrah pada Tuhan Pemberi hidup itu. Tapi, Tuhan sendiri masih belum bersedia mengambil nafas yang ditiupkan-Nya padaku. Aku merasa lebih pantas disebut jenazah hidup.

Do’a Simon diakhiri dengan amin yang diucapkan oleh semua yang ikut di dalamnya. Dua cucuku mendekati bibir pembaringanku. Rupanya mereka ingin mengetahui kondisi apa yang terjadi pada nenek mereka setelah do’a itu. Tak ada perubahan apa pun. Keduanya menunjukkan kekecewaan. Rasanya mereka protes pada Pemberi hidup, mengapa nenek mereka harus sekarat seperti ini? Mengapa tidak dipulihkan kesehatannya? Mengapa harus sampai renta? Mengapa Tuhan yang sudah mendengar do’a belum mau mengabulkannya? Mungkin berjubel tanya ada di hati kedua cucuku.
“Nek, lekas sembuh. Kami mau ada nenek bersama kami.” Pinta Leni salah satu anak dari Simon.
“Nek, jika boleh, sedikit saja nenek beri senyum. Pasti kami semua senang.” Rinto anak dari Onis ikut membelah keheningan.

Keduanya mengundurkan diri dari bibir pembaringan. Kutatap mereka. Kuberikan cinta tulusku pada mereka setulus pada orang tua mereka dan kekasihku, Mozes.
Kugerakkan kepalaku. Renci dan Rahab membantuku. Keduanya kulahirkan sebagai bungsu dari seluruh anak-anak kami. Renci dan Rahab telah menjadi gadis-gadis manis. Mereka telah menjadi mahasiswa di kota. Mereka terpaksa tidak masuk kampus setelah dikabari oleh kakak-kakaknya bahwa aku terbaring sekarat, menunggu saat terakhir. Renci dan Rahab sempat menikmati masa-masa indah bersama ayahanda mereka. Kembaran kedua sekaligus bungsu ketika kami sudah mencapai masa hidup sebagai suami isteri yang cukup dari sisi ekonomi.
Aku membayangkan Renci dan Rahab yang akan kutinggalkan. Keduanya belum berkeluarga. Sarci baru saja berumah tangga. Tentang Sanci, aku dikabari akan segera menikah setelah menyelesaikan kuliahnya. Tanggung jawab itu akan jatuh pada kakak-kakak mereka. Semoga mereka akur-akur selalu sebagaimana sampai saat ini mereka perlihatkan padaku.

Hei. Bosong samua dudu tanganga bodo sa. Bosong orang sakola. Jang bekin malu. Bawa bosong pung mama pi ruma saki biar dia mati di sana. Bosong orang su ada pangkat, jang bekin malu keluarga, ee!”
Suara itu menggelegar jelas dalam bahasa Melayu Kupang. Semua tersentak. Siapa gerangan? Ternyata seorang saudaraku. Ia bungsu dari saudara laki-laki yang dilahirkan oleh orang tuaku. Ia sedikit lebih tua dari Simon. Ia merasa mempunyai hak untuk menegur para keponakan untuk mengurus tubuhku yang sekarat ini. Ia sadar juga dengan tradisi di kampung kami. Bahwa sebagai Om, ia boleh menegur mereka, tapi ia tidak lebih berhak daripada anak-anak yang kulahirkan. Simon yang sulung angkat bicara dengan bahasa Melayu Kupang.

Om Kobus. Kalo botong bawa mama sekarang, bisa. Cuma baru angkat dari tampa tidor langsung mama putus napas. Dokter su bilang, kotong pung mama pung sakit su akut barat. Bahasa dokter bilang stadium barapa bagitu. Infus yang minggu lalu sa masi ada di situ. Om Kobus tau to, kotong su bawa dokter sampe di sini. Dokter su rawat mama, yang Om Kobus pung kaka, ma lia sandiri sa. Botong tau dari dokter, kata bilang hanya mujisat. Andia ko botong ada bakumpu ko tunggu sa. Na yang paling bae, Om bantu kotong ko do’a. Biar Om pung kaka bisa bae. Kalo bae, botong pung bae samua, to.”.

Bae. Beta kasi inga sa. Jang bekin malu keluarga. Jang kira beta diam nanti kalo be pung susi mati?” adikku melanjutkan.
“Om. Kalo sehat pung mahal barapa botong usaha ko bisa bayar. Andia ko botong su usaha mati-mati. Ma kalo su bagini, botong mau karmana? Coba Om ada di pihak botong? Om. Minta maaf. Botong samua sonde mau malu ju. Mati di ruma beda apa deng mati di ruma saki? Ini yang dokter su kasi saran. Kalo su parah, ya, parah. Jadi jang paksa lai. Botong pasrah.
” Onis menyela Kobus.
Aku berusaha membuka mulutku. Rahab mengetahui kalau akan berkata sesuatu. Ia memasang telinga ke mulutku. Inilah sebagian kata-kata terakhirku.
“Doa!” Kataku.

Rahab segera memberitahukan permintaanku. Mereka berdoa bersama dengan menumpangkan tangan ke atas tubuhku. Aku mencoba memejam mata untuk turut dalam doa. Tapi, aku membuka mata lagi. Kedua tanganku dapat kugerakkan. Aku menarik Rahab dan Simon sekaligus ke mulutku.
“Kuburkan aku di sisi kekasih hatiku!”
Tubuhku kaku dan dingin. Rahab dan Simon diam menunggu akhir doa. Berakhirlah hidupku bersama mereka yang kukasihi.

By : Heronimus Bani
Pro : Setiap orang yang mencintai orang tuanya

Check Also

Mutiara Kata buat Guruku

Mutiara kata buat Guruku Jika aku saat ini Hanyalah sebongkahan batu tak bernilai, Maka, suatu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *