Jumat , Desember 15 2017
Home / Cerpen / Buaya Penolong

Buaya Penolong

By: Heronimus Bani

gbr ilustrasi: situshewan.com
gbr ilustrasi: situshewan.com
Hari itu hujan turut amat deras. Kilat dan guntur sambung-menyambung. Air menggenangi perkampungan sebatas betis, meninggi ke lutut. Beberapa rumah mulai tergenang.
Di seberang sungai mengarah ke muara, seorang bapak terjebak banjir. Ia terlanjur sudah berada di tengah sungai hendak menyeberang untuk pulang ke rumahnya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan mereka yang tinggal di sekitar bantaran sungai Noelmina.
Air yang menggenangi perkampungan mengalir ke sungai. Begitu pula curahan air dari bukit-bukit gundul yang telah dijadikan ladang. Sungai-sungai yang biasanya kering di musim kering, ikut mengalirantarkan air sebagai sumbangan mereka menambah volume banjir.
Si bapak akhirnya pasrah dalam arus banjir. Dalam benaknya ada seuntai do’a memohon ampunan atas dosa-dosanya dan keluarganya. Ia juga tidak lupa untuk mendo’akan keselamatan bagi dirinya dan keluarganya. Tidak lupa pula ia memanjatkan do’a agar Tuhan melindungi isteri dan 2 orang anaknya yang masih kecil.
Sementara itu di rumah, sang isteri muram wajahnya penuh kecemasan. Ia memeluk kedua anaknya sambil menengadah ke langit-langit rumah. Air hujan menembus di beberapa tempat karena bocornya atap ilalang yang sudah dimakan usia. Ia pun menaikkan do’a agar sang suami selamat. Harapan hatinya adalahs uami mengurungkan niat untuk tidak kembali ke rumah. Biarlah ia bermalam di gubuk kecil yang dibangun di ladang sekedar sebagai tempat berteduh.
Harapan itu terjadi justru sebaliknya. Sang bapak sementara bergulat dengan derasnya arus banjir yang menghanyutkannya dan kini mendekati muara. Di pinggiran muara itu, berbaris beberapa ekor buaya seakan-akan menyaksikan parade banjir yang membawa banyak material darat ke muara sungai yang akan dilepaskan ke laut laksana hadiah di musim hujan.
Di antara banyaknya material hadiah itu, nampak sesosok tubuh manuia terhuyung dalam permainan arus banjir. Buaya tertua mengambil langkah masuk ke dalam arus banjir. Ia melakukan manuver mendekati tubuh manusia yang ternyata masih hidup, dan masih menyadari bahaya yang mengancam kehidupannya kini berganda. Banjir dan buaya sang predator.
Sang predator beraksi. Ia menggunakan moncongnya, memberi tanda pada sang bapak. Sekali, sang bapak bergidik. Dua kali, tiga kali, hingga ke empat kalinya, sang bapak menyadari bahwa sang predator berniat menolong. Ssang bapak membuka selangkangnya. Predator massuk dan mendudukkan sang bapak di punggungnya.
Ia membawanya sampai di pinggir sungai. Sang bapak diturunkan dalam kondisi tak sadarkan diri. Predator tidak segera meninggalkannya. Ia menunggui sang bapak hingga sasdar dan siuman. Predator masuk kembali ke dalam arus banjir, menembusnya, kemudian bergabung kembali dengan rekan-rekannya.
Sang bapak merangkak bangun, menoleh ke belakang. Ia melihat puluhan ekor buaya memandang kepadanya seakan memberi ucapan selamat telah terhindar dari maut. Sang bapak tersenyum, mengambil golok yang masih selamat tidak terbawa arus banjir. Ia ssegera menuju ke rumahnya.
Para buayapun bergiliran masuk ke habitatnya. (fact in fiction)

Check Also

Si Anin Membawa Kabar

Si Anin membawa kabar (Heronimus Bani) Hari itu hari Kamis. Hari berikutnya hari Jumat. Dua …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *