Jumat , Desember 15 2017

Komoditi Kemiri Memesona

kemiri dikumpulkan petani. Sumber: kiprahagroforestri.blogspot.com
kemiri dikumpulkan petani. Sumber: kiprahagroforestri.blogspot.com
Amarasi, infontt.com. Kemiri (Aleurites moluccanus) merupakan salah satu tanaman yang banyak ditanam pada masyarakat Amarasi Raya. Sayangnya tanaman ini tidak ditanam dalam jumlah besar di ladang (kebun/po’on). Masyarakat Amarasi Raya menanam kemiri mula-mula sebagai penanda bahwa ia pernah berladang di lahan itu. Maka, jumlah pohon kemiri minimal terdapat pada hampir setiap lahan yang pernah dijadikan ladang (‘tetas, mnuki).
Sekalipun jumlahnya tidak banyak di 4 kecamatan Amarasi Raya, namun hasilnya cukup banyak dan menjanjikan. Pada musim menuai kemiri seperti sekarang ini, antara Nopember – Januari masyarakat menjual kepada pengumpul. Berton-ton para pengumpul membawa buah kemiri keluar dari Amarasi Raya. Selanjutnya para pengumpul menjualnya kepada pengusaha/penjual antarpulau di kota untuk selanjutnya dikirim ke pulau Jawa. Harga kemiri bervariasi untuk masa ini antara Rp2.000-Rp2.500 per kilogramnya. Menurut para pengumpul, mereka membeli dari petani kemudian mendatangi kantor desa/lurah untuk meminta surat isin pengelolaan hasil perkebunan. Selanjutnya dengan modal surat tersebut mereka membawa kemiri kepada perusahaan yang mengumpulkan hasil perkebunan di kota Kupang untuk selanjutnya diantarpulaukan.
Pengumpul kemiri di desa/kelurahan pada empat kecamatan di Amarasi Raya dan kecamatan sekitarnya yaitu Am’abi Oefeto dan Am’abi Oefeto Timur mengaku tidak mendapatkan untung yang besar dari pembelian kemiri tersebut. Sayang sekali. Tapi, mereka begitu rajin dan antusias mengumpulkan kemiri dari masyarakat yang menanam, hingga mereka harus datang dari rumah ke rumah, bahkan dari kebun ke kebun dengan membawa timbangan. Bukankah komoditi ini cukup memesona untuk mendatangkan penghasilan secara lebih baik bagi masyarakat?
Pemerintah Kabupaten Kupang melalui program Tanam Paksa, Paksa Tanam mungkin telah dan sudah seharusnya memperhatikan hal ini. Benar, apa yang diserukan oleh bupati Kupang, Drs. Ayub Titu Eki tentang menanam yang harus terus-menerus dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Kupang. Sayangnya, tanaman yang ditanam mesti ada yang menjadi tanaman prioritas di Kabupaten ini sehingga dapat menjadi ikon baru dari Kabupaten ini, atau paling tidak pada beberapa kecamatan yang cocok untuk tanaman tertentu ditanami jenis itu, maka akan muncul ikon-ikon baru dari kecamatan dan kabupaten ini. Contohnya, bila di Amarasi Raya (4 kecamatan) ditanami banyak dengan tanaman kemiri yang menghasilkan 2 kali dalam setahun, maka Amarasi Raya akan muncul sebagai penghasil kemiri pada minimal 3-4 tahun ke depan. Umur kemiri paling muda untuk menghasilkan adalah 3 tahun.
Ibrahim A. Medah dalam suaraindonesia.com(24/06/2015) mengatakan kemiri jenis sunan menjanjikan di NTT. Banyak lahan tidur di NTT yang mencapai 1 juta hektar belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pemda NTT, tentu termasuk di dalamnya pemerintah Kabupaten Kupang.
Kemiri, banyak manfaatnya. Selain untuk kesehatan dan kecantikan, juga sebagai tanaman bumbu penyedap. Kemiri sangat tahan terhadap kondisi alam yang kering seperti pulau Timor (Pah Meto’). Tanaman ini menghasilkan 2 kali dalam setahun. Mengapa Timor (termasuk Kab.Kupang) tidak dijadikan penghasil kemiri? (roni)
buah kemiri,foto:roni

Check Also

Tekad Kapolda NTT Untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional

Oelamasi-infontt.com,- Kapolda Nusa Tenggara Timur Irjen Pol Drs. Agung Sabar Santoso, S.H, M.H,  bersama jajarannya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *