Jumat , Desember 15 2017
Home / News / KETAPANG SATU

KETAPANG SATU

Jpeg

Kupang-infontt.com,-Kota kupang ibu kota Nusa Tenggara Timur yang mempunyai daya tarik tersendiri bagi tiap pengunjungnya. Kita tidak bisa melepas pandangan mata dari keindahan lautnya. Kota kupang sering disebut sebagai kota karang. Keadaan iklim kota kupang memang panas, tetapi dapat diimbangi dengan indahnya kupang. Indahnya kupang adalah pantainya, pasirnya yang bersih, angin yang segar, ditambah dengan ombaknya yang pelan. Semua ini seakan merayu kita untuk melihat lebih dekat. Pantai ketapang satu salah satu pantai yang sering di kunjungi.

Ketapang satu Sebatang pohon ketapang (Terminalia catappa) tumbuh di atas sebentuk besar karang menghitam. Rindang dan teduh. Usianya yang sudah tua membuatnya nampak lebih berlekuk indah, meski terkadang hembusan kencang angin laut merontokkan sekian banyak ranting rapuhnya. Namun secara keseluruhan pohon ini masih nampak cukup kokoh untuk meneduhi para pengunjung pantai yang bernaung di bawahnya. Pantai di kawasan kelurahan Tode Kisar ini dinamai Katapang Satu,menurut nama si lonely tree. Sodara-sodaranya yang lain tumbuh tidak jauh dari situ. Dari keadaan alam yang mempunyai nilai pariwisata yang bagus ini, diharapkan punya motivasi untuk dikembangkan.

Dulunya tempat ini masih tampil dengan sederhana. Dilengkapi beberapa lopo tanpa fasilitas lainnya. Untuk masuk ke tempat ini tidak perlu merogoh saku alias gratis. Tak heran banyak pengunjung yang beramai-ramai memadati tempat ini untuk duduk-duduk, sekedar makan angin hingga yang maka hati. Banyak juga yang datang ke tempat ini dengan membawah bekal atau mkanan snack.

Beberapa tahun berlalu. Bayaran mulai ditarik bagi yang ingin masuk ke kawasan Katapang Satu. Meski tarifnya cuma 1.000 rupiah. Karena cuma-cuma saja jika kita harus membayar tapi kebutuhan yang kita inginkan tidak bisa tercapai. Pemerintah sebenarnya harus melihat dan menata tempat tersebut agar ke depan bisa menarik banyak wisatawan. Jadi ketika masyarakat dan wisatawan datang ke sini, tidak di kecewakan walaupun harus membayar mahal.

Tahun 2013 saat menyambut ajang Sail Komodo tempat ini dibenahi. Bangunan baru hasil rancangan seorang arsitektur kini telah berdiri menggantikan bangunan lama yang sederhana. Pagar pembatas di sepanjang tebing pantai dibongkar. Sebagai gantinya, dibuat pagar baru setinggi lutut dengan hiasan batu potong. Pagar ini sekaligus berfungsi sebagai tempat duduk-duduk. Sehingga masih bisa dinikmati keindahan Pantai teluk Kupang (meski dari ketinggian beberapa meter) tanpa harus membayar.

Ciri khas obyek ini adalah sebuah pohon ketapang yang tumbuh diatas batu karang. Tempat ini sudah menjadi lokasih nongkrong untuk anak-anak muda kota kupang. Banyak kaum muda yang datang ke tempat ini, karena tempat ini sangat strategis.

Di sekitar lokasi ini juga disediakan beberapa lopo dengan kursi. Pengunjung juga bisa menikmati indahnya pemandangan Teluk Kupang sambil menyantap kuliner khas pantai tersebut dengan racikan tangan Bapak Emus, rujak khas dari ambon. Kita bisa dapatkan dengan harga perporsi Rp.10.000 (sepuluh ribu rupiah). Tersedia juga berbagai aneka kuliner lainya seperti, minuman panas, dingin, snack dan pudding.

Sayangnya waktu yang diberikan untuk para pedagang juga tidak bebas, karena waktu jualan hanya dibatasi sampai jam tujuh malam. Pedagang di lokasi pantai merasa kurang nyaman juga, karena lokasi jualannya masih kurang dari kata layak alias tidak di perhatikan oleh pemerintah.

Untuk menahan hantaman angin, pedagang yang berjualan di tempat tersebut hanya bisa menggunakan tirai bambu dan menggunakan terpal sebagai pengganti atap. Ini sangat tidak sinkron sekali dengan visi dan misi dari pemerintah sendiri. Bagaimana ekonomi dari masyarakat bisa berubah kalau pemerintah sebagai orang tua dan wali dari masyarakat sendiri kurang peduli.

Tim ekspedisi Info NTT yang beberapa hari lalu mengunjungi tempat wisata ini, melihat banyak sekali kesalahan yang di buat pemerintah. Salah satunya tidak berfungsinya kantin yang ada pada lokasi wisata tersebut. Yang lebih aneh lagi papan pengunguman yang di pasang oleh Pemerintah Kota (Pemkot). Papan tersebut menyatakan bahwa, adanya pungutan redtribusi namun dimana perhatian dari Lembaga Perberdayaan Masyarakat (LPM) dari kelurahan setempat terkait pas masok dan pajak berjualan di lokasi tersebut yang selalu di stor tiap bulan kepada LPM sedangka faktanya sudah dua tahun berjalan tapi sepertinya tidak di gubris sama pemerintah untuk membrikan tempat yang layak bagi para pedagang baik diluar lokasi dan di dalam lokasi tempat wisata ketapang satu tersebut.

Mengenai masalah pedagang yang berjualan ditrotoar ini sanggat mengganggu. Apalagi bagi pegunjung dan pengguna jalan d ilokasi pantai ketapang satu. Pemerintah harus cepat sikapi permasalahan ini. jangan menutup mata atas masalah-masalah yang dialami masyarakat. Karena masyarakat sendiri adalah bagian dari daerah ini.

Buat penguasa jabatan yang sekarang mempunyai kuasa di pemerintahan kota karang. Ke manakah dana-dana pungutan retribusi tersebut? Pemerintah jangan hanya mau mengambil hasil pungutan saja. Tetapi tidak ada pembenahan atau tindakan lanjutan yang signifikan. Binatang saja masih bisa mendengar ketika tuannya meneriakan namanya apalagi manusia yang masih mempunyai nurani, perasaan dan otak untuk berpikir.

Jangan kita hanya mengenyangkan perut kita sendiri. Masyarakat memang tidak dapat pergi berlibur dan berwisata ke luar negeri atau ke luar daerah seperti mereka yang berlagak studi banding, padahal isinya plesiran. Maka dari itu kami masyarak minta agar kami juga bisa menikmati keindahan wisata yang layak seperti yang bapak ibu rasakan di luar sana. Keindahan dan keistimewahan tidak terlalu penting bagi kami, yang terpenting bagi kami adalah membuat kenyamanan bagi pendatang agar daerah kita di kenang setiap pengunjung yang berkunjung ke Kota Kupang, kota tercintah ini. salam perubahan. (Don)

Check Also

Pilkada Kabupaten Kupang, Kemanakah SK Partai Gerindra Akan Berlabuh?

Kupang-infontt.com,- Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Kupang tahun depan semakin memanas, khususnya di media sosial …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *